Jakarta – Perkembangan arus informasi didukung dengan beberapa platform sosial media, menjadikan informasi tersebut tersebar secara cepat yang dikonsumsi publik dengan berbagai latar belakang sosial, budaya, dan keagamaan yang beragam.

Begitu pula dengan media-media yang menyajikan seputar informasi dan isu keislaman. Para pengelola website media keislaman dituntut untuk menyajikan informasi dengan wawasan keagamaan dan kebangsaan yang kredibel dan penuh tanggungjawab.

Hal inilah yang membuat para pengelola website Islam mendeklarasikan forum bersama yang diberi nama Sindikasi Media Islam yang terdiri dari 40 perwakilan pengelola website Islam di sela-sela kegiatan Temu Pengelola Website Keislaman yang mengambail tema besar “Penguatan Narasi Islam Kebangsaan di Era Digital” yang diselenggarakan di Orchardz Hotel, Jl. Industri Raya, No. 8, Jakarta Pusat, pada Kamis (11/7/2019).

Dalam pertemuan ini dihadiri beberapa narasumber, di antaranya adalah; Kepala Identifikasi Paham Keagamaan, Bimas Islam Kementerian Agama RI yakni Muhammad Idham, S. Hi, M. H.; Staf Ahli Menkominfo RI dan Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga yakni Prof. Dr. Drs. H. Henry Subiakto, SH., MA.; dan Pimpinan Redaksi NU Online Savic Ali.

Prof Henry mengatakan bahwa sekarang problemnya di Negara-negara IT yang masyarakatnya banyak menggunakan smartphone, semua orang bisa menjadi wartawan. Masyarakat tidak harus kerja di media untuk bisa menjadi wartawan. Ketika terjadi penyimpangan di masyarakat, semua orang dapat menulis, bisa mengupload, dan lainnya.

“Itulah yang terjadi sekarang. Sekarang inievery body can be journalist tanpa harus belajar tentang junalistik. Every body can be content producer, karena semua orang dengan gadjet-nya bisa jadi konten produser. Repotnya, tidak semua orang tahu kode etik. Tidak semua orang punya kejujuran dan komitmen,” tegas Prof Hendry

Padahal, lanjut Hendry, di masyarakat terdapat banyak karakter orang. Ada yang namanya penjahat, ada orang yang bisa hoax, ada pula orang yang namanya anti-NKRI. Sehingga mereka bisa bebas membuat berbagai konten sesuai dengan apa yang mereka mau.

“Sekarang muncul generasi Islam millennial yang tidak bisa pisah dengan hape, tidak bisa pisah dengan smartphone, smartphone dan internet itu seperti oksigen yang dibutuhkan untuk bahan hidup. Aktivitas kehidupan kita tidak bisa berjalan kalau tidak dengan smartphone dan internet,” paparnya.

Pria kelahiran Yogyakarta yang menjalani kehidupan di Surabaya ini juga mengatakan bahwa di dalam smartphone dan internet, terdapat informasi-informasi tentang kehidupan sosial politik dan keagamaan. Mereka dapat mengkonsumsi dan belajar melalui smartphone mereka, baik belajar tentang politik bahkan juga belajar tentang agama.

“Nah, Anda lihat, anak-anak millennial sekarang, 85,4 persen itu tergantung sekali sama internet, persoalannya adalah di medsos, di internet itu banyak propaganda asing, Amerika marah dengan propaganda asing, bagaimana dengan Indonesia? Sami mawon, sama saja,” kata Hendry sembari menunjukkan data-data di slide.

Oleh sebab itu, lanjut Prof Henry, di Indonesia banyak yang diblokir situs-situs propaganda asing oleh Kemenkominfo. Situs tersebut memang berbahasa Indonesia, tetapi servernya ada di luar negeri. Sehingga muncul beberapa propaganda asing mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan ideologi-ideologi transnasional.

“Terorisme yang terjadi di Indonesia, seperti yang terjadi di Surabaya itu adalah puncak gunung es… Memang tidak semua intoleransi dan radikal itu pasti memunculkan terorisme, tapi hampir semua teroris itu pasti terpapar intoleransi dan radikalisme,” paparnya.

“Makanya saya senang ada media-media online yang narasinya islam kebangsaan. Itu sangat dibutuhkan. Kemenkominfo sangat mendukung,” tegas prof Hendry.

Rilis sudah terbit di harakatuna.com

807 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini