Religious belief

Fanatic obsession

Does following faith

Lead us to violence?

Serangkaian kata tersebut merupakan penggalan dari sebuah lagu yang dinyanyikan dan diciptakan oleh Dream Theater yang berjudul “In The Name of God”. Lagu tersebut sebenarnya lagu lama karena diciptakan pada tahun 2003. Namun, saya baru menyukai ketika kuliah di S1 kisaran tahun 2009. Setelah lama tidak menikmati lagu tersebut dan lagu Dream Theater yang lain, akhir-akhir ini saya kembali mendengarkannya lagi. Kemudian, saya tertarik dengan penggalan lagu yang saya kutip tersebut.

Setiap lagu pasti memiliki konteks tertentu. Akan tetapi, saya pikir penggalan lagu yang saya kutip tersebut bisa dibawa pada konteks yang lebih umum sekadar dari konteks yang dikehendaki lagu tersebut. Bahkan, sebait penggalan lagu tersebut masih relevan hingga kini meski sudah berselang lama sejak lagu tersebut diciptakan. Terjemahan bebas dari penggalan lagu tersebut adalah, “kepercayaan yang religius, obsesi yang fanatik, apakah mengikuti keyakinan akan memandu kita kepada kekerasan?”. Secara umum, bait tersebut mempertanyakan apakah mengikuti keyakinan yang kita anut akan menyebabkan kita berbuat kekerasan?

Agama adalah seperangkat aturan dan nilai yang diturunkan oleh Tuhan untuk manusia. Seperangkat aturan tersebut ada sebagian yang terpaku pada konteks tertentu dan sebagian lagi terpaku pada konteks yang umum. Selain itu, seperangkat aturan tersebut juga mengatur banyak hal, termasuk mengatur spektrum perilaku terhadap sesama manusia, baik dalam konteks latar belakang yang seagama maupun yang berbeda agama. Ini artinya, agama merupakan sesuatu hal yang baik dari asalnya dan ditujukan untuk memperbaiki setiap hal yang tidak baik dalam diri manusia. Hal ini memang agama ditujukan untuk seluruh makhluk, salah satunya manusia. Ketika nilai agama dijalankan dengan baik, maka pihak yang mendapatkan keuntungan bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup lain dan alam lingkungan.

Ketika agama dianut dan diyakini oleh manusia, maka agama itu tidak lagi berdiri sendiri sebagai entitas tunggal. Akan tetapi, sudah bercampur dengan dinamika berpikir dan kejiwaan manusia sebagai penganut dan pemeluk agama. Maka, agama sebagai entitas yang tunggal sebagai suatu pemberian Tuhan dengan agama yang sudah dianut dan diyakini oleh manusia akan menjadi dua hal yang berbeda. Berawal dari sini, maka aktualisasi atau pengejawantahan dari nilai-nilai agama sangat mungkin bertolak belakang dengan yang dikehendaki oleh agama itu sendiri dan Tuhan. Kondisi tersebut terjadi karena nilai agama sudah ditafsirkan oleh penganut dan pemeluknya. Sedangkan, penafsiran ini dipengaruhi oleh banyak faktor, misalkan kehendak dari penganutnya tersebut, keluasan berpikir, kematangan berpikir, perspektif atau sudut pandang, figur sebagai teladan tafsir, tujuan penafsiran, serta gaya dan model penafsiran. Oleh karena itu, tak heran pada setiap agama dan keyakinan, selalu ada kelompok yang melakukan kekerasan atas nama agama untuk melegitimasi kekerasan yang dilakukannya adalah sah. Perilaku kekerasan atas nama agama ini pun memiliki banyak varian, mulai dari kekerasan cara pandang, kekerasan berucap, sampai dengan kekerasan perilaku yang melahirkan terorisme dan menyebabkan banyak korban.

Sudah terdapat banyak kajian dari berbagai perspektif mengenai kekerasan yang mengatasnamakan agama. Semua hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa kekerasan yang mengatasnamakan agama tidak pernah dilatarbelakangi atau disebabkan secara mutlak oleh agama. Setiap kekerasan yang mengatasnamakan agama selalu didahului dari motif politik, motif sumber daya alam, dan motif pribadi dari pelaku kekerasan tersebut. Adapun agama menjadi alat untuk mengesahkan perilaku kekerasannya agar dianggap tidak menyimpang. Ironisnya, tidak banyak yang paham soal ini. Sebagian besar orang yang mengikuti jalan kekerasan atas nama agama hanya melihat agama tersebut, bukan melihat faktor mendasar dari perilaku kekerasan tersebut.

Para pelaku kekerasan atas nama agama ini pun juga gemar melakukan pemahaman secara tekstual terhadap teks keagamaan. Bahkan, setiap sesuatu yang ada dalam kehidupan sehari-hari dibingkai sebagai ibadah sehingga setiap perilaku orang akan dihakimi dengan menggunakan teks keagamaan secara tekstual. Maka, akan melahirkan perilaku menganggap salah kelompok lain yang berbeda dengan diri mereka atas penafsiran teks keagamaan yang sekenanya. Mereka menganggap salah kelompok lain yang menafsirkan teks keagamaan secara kontekstual. Mereka dengan keyakinan yang sangat tinggi menganggap diri mereka sudah menafsirkan teks keagamaan secara tepat sesuai dengan firman Tuhan dan sabda Nabi. Akan tetapi, satu hal yang tidak mereka sadari bahwa penafsirannya tersebut sudah bercampur dengan nafsu, nafsu yang mendorongnya untuk menjadi figur paling saleh dan paling benar, nafsu yang mendorongnya mencapai kekuasaan dengan menggunakan teks keagamaan, nafsu yang mendorongnya untuk selalu menganggap orang lain salah berdasarkan penafsirannya. Maka, sebait lirik lagu In The Name of God yang dinyanyikan oleh Dream Theater tersebut bisa menjadi bahan renungan untuk kita.

 60 kali dilihat,  10 kali dilihat hari ini