Dalam salah satu riwayat yang terkenal, nabi pernah menyebut amalan yang dapat membuat orang tetap memiliki kebermanfaatan meski nyawa sudah meninggalkan badan. “Kala anak Adam meninggalkan dunia yang fana ini, semua amalnya terputus, kecuali tiga hal,” demikian kata nabi mengawali wasiatnya. Salah satu dari tiga hal tersebut adalah, ‘ilm yuntafa’ bih (Ilmu yang bermanfaat).

Salah satu ciri ilmu yang bermanfaat adalah mampu berpindah tempat; tak hanya bersemanyam pada diri sendiri, melainkan berpindah ke banyak orang lainnya. Orang boleh saja pandai sundul langit, namun jika kepandaiannya tak pernah ia bagikan ke orang lain, maka bukan saja orang tersebut pelit, ia juga membuat hidupnya menjadi sulit.

Mengutip penjelasan KH. Nurul Huda Ma’arif dari Pesantren Qothrotul Falah, Banten, Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak hanya bersemayam dalam pikiran pemiliknya, melainkan disebarkan dan diimplementasikan dalam tindakannya. Ilmu yang tidak berhenti hanya pada tataran teori yang diperbincangkan belaka, melainkan benar-benar diamalkan dalam kehidupan sesungguhnya.

Tingkat kebermanfaatan ilmu memang tidak terletak pada jumlahnya, melainkan pada sebaran kebaikannya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat menggerakkan kebaikan, bukan malah sebaliknya; menjadi awal dari keburukan. Sebab jika demikian, ia bukan saja laksana pohon yang tak berbuah (laiknya ungkapan; al-‘ilm bila ‘amal ka al-syajar bila tsamar); ilmu yang tak bermanfaat seperti itu laksana pohon yang tak memiliki kayu!

Memang, tak semua ilmu yang didapat pasti memberi manfaat. Tergantung pada niat dan cara untuk mendapatkannya. Dalam Adzariah IIa Makarim as-Syariah, Raghib al-Asbihani memberi bocoran tips agar ilmu yang didapat bisa bermanfaat. Pertama, sebelum menuntut ilmu, pastikan diri sudah bersih dari segala perilaku yang tidak terpuji. Sehingga ketika mendapat ilmu, diri –termasuk jiwa dan raga— sudah siap menerima dan tidak dalam kondisi berlumuran hal tercela.

Kedua, serius dan istiqamah dalam menuntut ilmu. Selalu penting untuk menjaga konsistensi, termasuk dengan tidak mudah silau pada kesibukan duniawi. Luangkan waktu terbaik untuk menuntut ilmu. Dengan begitu, ilmu yang didapat akan selalu melekat. Tak hanya di pikiran, tetapi juga di perbuatan.

Ketiga, menyingkirkan sikap sombong, baik terhadap ilmu maupun guru. Sombong adalah pelepas keberkahan ilmu. Merasa telah banyak tahu padahal masih sedikit menyerap ilmu adalah salah satu sikap sombong yang dapat merusak keberkahan ilmu. Tentang ini, pesan Abu Qilabah kepada Ayyub As Sakhtiyani patut untuk diperhatikan. Direkam dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Abu Qilabah berkata, “Apabila kamu mendapat ilmu, maka munculkanlah keinginan ibadah daripadanya. Jangan sampai keinginanmu (menuntut ilmu) hanya untuk menyampaikan kepada manusia.”

Karenanya, menuntut ilmu haruslah diniati untuk pertama-tama menjaga diri sendiri dari berbagai kemungkinan buruk yang ditimbulkan akibat kebodohan. Setelah ilmu cukup, barulah disebarkan kepada orang lain, namun tetap dengan niat untuk menggerakkan kebaikan. Ilmu yang tak disebarkan diancam laknat oleh Allah.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan (tidak menyampaikan) apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al Kitab, mereka itu dilaknati Allah SWT dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang melaknati.” Demikian kata Allah seperti tertera pada Qs. al-Baqarah: 159.

Jangan pernah lelah berbagi ilmu. Ia tak seperti harta benda; akan habis jika terus dibagikan. Ilmu justru akan berlipat ganda saat ia diajarkan kepada banyak orang.

Kebermanfaatan ilmu adalah jaminan untuk kehidupan yang lebih bermutu. Dengan ilmu yang bermanfaat, kita akan terus hidup, meski nyawa sudah meredup.

*Pusat Studi Pesantren

 3,099 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini