Catatan Perjalanan Anjangsana Pancasila #5

 

Perjalanan anjangsana Pancasila hari ke tiga sampai di kota Wonosobo. Pagi hari yang dingin kami dijemput mas Haqy, aktivis Gusdurian Wonosobo. Di desa itu kami ingin melihat begaimana masyarakat merawat keberagaman dan menjaga kerukunan dalam tata nilai tradisi yang kuat. Malam sebelumnya, kami sempat mendapat informasi mengenai keunikan desa Buntu dari mbak Diah, alumni Undip yang sedang melakukan penelitian di Wonosobo. Dia menjelaskan, masyaraat di desa Buntu, hidup damai dalam keberagaman agama. “Keberagaman beragama tidak hanya terjadi antar keluarga, tapi dalam satu keluarga” Demikian mbak Diah bercerita pada kami di hotel sebelum berangkat. “Dalam satu rumah ada yang muslim, buddhis, nasrani dan kejawen” lanjutnya. Cerita mbak Diah ini semakin membuat kami penasaran.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari hotel menembus udara dingin pegunungan dengan pemandangan alam yang aduhai, akhirnya kami sampai di desa Buntu. Memasuki pintu gerbang desa, kami sudah disajikan suasana alam pedesaan yang asri dengan kebun sayur yang membentang luas. Di kanan kiri jalan kami melihat tanaman kentang yang sudah layak dipanen berseling dengan tanaman kobis dan wortel. Secara alamiah suasana desa Buntu memang sangat tentram dan damai. Udara  sejuk yang bersih dan segar membuat suasana hati terasa teduh dan tenang. Seletalah melewati jalan sempit berkelok, akhirnya kami sampai di pendopo rumah milik seorang warga, alm. Rimbono,  yang dijadikan tempat pertemuan. Di sana sudah berkumpul masyarakat menyambut kedatangan kami.

Di tempat itu kami berdialog, menggali pengalaman hidup masyarakat Buntu yang penuh warna karena perbedaan agama dan keyakinan. Secara kultural dan etnik, masyarakat Buntu relatif homogen, mayoritas suku Jawa dan berbudaya Jawa. Tapi dari segi keyakinan, mereka sangat beragam; pemeluk Islam, Hindu, Buddha, Nasrani sampai kepercayaan ada di desa tersebut. Apa yang diceritakan mBak Diah terbukti. Banyak keluarga di desa Buntu yang beda agama. Ada yang  orang tua Budha, anaknya ada yang Islam, Katolik dan sebagainya. Demikian sebaliknya ada yang orang tua muslim anaknya Katolik, Buddha dan sebagainya.

Saat kami baru turun dari mobil, mBak Diah sudah menjelaskan bahwa rumah di samping jalan kami turun dihuni keluarga Muslim NU, sampingnya Katolik, sampingnya lagi  Budha, sampingnya lagi Islam Muhammadiyah. Ketika kami memasuki ruangan suasana sangat akrab, tak ada jarak diantara mereka. Cara berpakaian mereka hampir sama sehingga sulit membedakan agama seseorang berdasar pakaian, kerena ada diantara penganut Katolik yang memakai jilbab. Demikian juga pakaian bapak-bapak, banyak yang pakai kopyah dan bersarung sekalipun bukan muslim. Dan sebaliknya banyak orang Islam yang pakai celana biasa.

Suasana guyub dan rukun seperti ini terjadi dalam interaksi sosial sehari-hari. Saat umat Islam menjalankan ibadah atau merayakan hari besar, maka umat lain membantu. Paskalis Suardi, seorang penganut Katolik menceritakan, saat pelaksanaan taraweh di bulan Ramadan dan salat Idul Fitri, seluruh warga non mulism berjaga di ujung jalan agar orang luar tidak masuk. Bahkan saat ada seorang Romo yang mau masuk desa, diminta balik oleh jamaah Katolik demi menghormati saudara Muslim yang sedang beribadah. Hal yang sama juga dilakukan ketika umat lain sedang beribadah atau merayakan hari besar agama. Asrori, tokoh Muhammadiyah di Desa Buntu, bercerita saat Muhammadiyah membangun Masjid, seluruh warga desa, yang Hidu, Budha, Katholik, Potestan, Kejawen, semua  ikut bergotong royong berhari-hari.

Di Desa Buntu tak ada sengketa makam karena perbedaan agama. Siapa saja yang meninggal akan dimakamkan dalam satu komplek pemakaman yang sama. Pada saat itu, Kami ditunjukkan video pemakaman terhadap dua orang yang meninggal dengan agama berbeda. Keduanya dimakamkan  secara bergantian dengan liang lahat berdampingan. Saat itu pemakaman dilakukan kepada jenazah yang beragama Islam yang dilakukan secara syariat Islam. Setelah dimakamakan dan  didoakan secara Islam dengan diikuti seluruh warga desa dari berbagai agama, kemudian pemakaman dilanjutkan kepada jenazah Katolik yang dipimpin oleh serang Romo. Semua terjadi secara alamiah, wajar dan biasa-biasa saja. Tak ada perdebatan hukum yang menegangkan urat syaraf sebagaimana terjadi di tempat lain.

Yang lebih menarik adalah soal pendidikan anak. Di desa Buntu hanya ada dua PAUD dan TK yang masing-masing  dikelola oleh NU dan Muhammadiyah. Anak-anak non muslim semua bersekolah di TK itu. Di sinilah saya melihat toleransi itu sudah mulai ditanamkan. Hadpiyah, salah seorang guru Paud/TK NU menceritakan, anak-anak non muslim tidak dipaksa mengikuti pelajran yang terkait agama, seperti doa, praktek ibadah dan mengaji. Ketika ada anak muslim yang bertanya, mengapa mereka tidak ikut salat dan membaca doa, maka para guru menjelaskan bahwa teman mereka itu beda, doa dan ibadahnya berbeda. Dengan penjelasan ini akhirnya anak-anak bisa menerima perbedaan secara tulus. Karena sering berinteraksi dan mendengar doa-doa cara Islam, banyak diantara anak-anak non muslim yang akhirnya hafal doa-doa berbahasa Arab dan ayat-ayat pendek. Ceritera Hadpiyah ini dobenarkan oleh para guru lain dari TK Muhammadiyah.

Untuk menanamkan pendidikan agama, biasanya para orang tua, khususnya ibu-ibu yang non muslim mengajarkan anak-anak mereka setelah sampai di rumah. Mereka mengajarkan doa dan ritual ibadah sesuai agama masing-masing. Tapi yang membuat kami salut, para orang tua ini tidak keberatan anak-anaknya membaca doa umat Islam.

Pada masyarakat Buntu kami belajar, bagaimana meletakkan agama secara tepat dan proporsional. Artinya mereka benar-benar bisa menempatkan agama dalam ruang dan waktu yang tepat. Mereka memiliki kemampuan memilah kapan dan dimana agama harus ditempatkan sebagai ranah privat dan kapan harus ditempatkana dalam ranah publik. Selain itu mereka juga bisa memilah aspek ajaran agama yang mana yang bisa ditampilkan di wiyah publik dan aspen mana yang harus dijaga dalam wilayah privat. Ini semua terjadi karena agama diletakkan di atas dasar kearifan (wisdom) yang melampuai dimensi simbol, teks dan ritual agama.

Jika dipahami dengan kerangka pikir antropologis, pola interaksi internal (keluarga dan agama) maupun hubungan eksternal (antar keluarga dan agama) yang ada dalam masyarakat Buntu mengikuti codes of conduct, norma, adat, dan konvensi yang sudah berlaku di masyarakat yang sering disebut dengan istilah kearifan lokal (local Wisdom). Dalam konteks ini persoalan akidah (iman) benar-benar ditempatkan pada posisi terdalam (privacy) dan bersifat individual, sedangkan relasi sosial benar-benar didasarkan pada konsep kebajikan yang melamapaui dimensi akidah dan teologis. Dengan cara pandang seperti ini, mereka tetap bisa bermua’malah atau melakukan interaksi sosial secara intens dengan sesama warga yang berbeda agama tanpa takut kehilangan atau tertukar imannya. Dengan cara-cara seperti ini iman mereka justru menjadi kuat. Menurut Mulyadi, salah seorang pimpinan GP Ansor NU, situasi ini sudah berlangsung sejak dulu, sebagai warisan dari para leluhur yang tetap dijaga oleh masyarakat.

Saya mencoba bertanya bagaimana mereka bisa bertahan dari gempuran arus radikalisme dan puritanisme agama yang bisa menghancurkan solidaridas dan toleransi. Mereka menjawab, gerakan seperti itu tidak akan pernah bisa masuk di Buntu, karena kalau ada yang mencoba berpikir puritan dan intoleran mareka akan ditolak. Sebagaimana dikisahkan oleh mBak Diah yang melakukan penelitian terhadap perilaku keagamaan masyarakat Buntu, mereka memiliki semacam self defence mechanisism untuk menolak pola pikir keagamaan yang seperti itu. Saya sendiri melihat adanya kekuatan kultural yang bisa menjadi penangkal atas “virus-virus” kebudayaan yang bisa merusak tatanan sosial dan budaya harmoni masyarakat Buntu. Masyarakat Buntu memiliki konstruksi budaya yang bisa meningkatkan imunitas idiologi sehingga mereka bisa menolak ideologi luar yang merusak.

Untuk memperkuat Pancasila sibagai ideologi bangsa rasanya perlu dilakuan reprodukasi “vaksin kultural” dari Buntu yang meningkatkan imunitas (kekebalan) ideologi bangsa menghadapi serangan “virus-virus kebudayaan” yang bisa melumpuhkan daya imunitas ideologi masyarakat. Langkah ini hanya bisa berjalan jika ada strategi kebudayaan yang tepat dan akurat. Selain itu juga diperlukan tekad yang kuat dan komitmen yang tinggi, karena ini terkait dengan laku hidup dan praktek sosial. Kita bisa belajar pada masyarakat Buntu untuk meningkatkan imunitas ideologi, oleh karenanya jika kita ingin melakukan pembudayaan Pancasila, kita bisa belajar dari cara hidup masyarakat Buntu, Wonosobo. (Bersambung)****

 

 62 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini