Kalau sedang rehat di tengah kegiatan menulis terkadang saya iseng memotret cuplikan tulisan saya di layar laptop dan mengunggahnya di whatsapp story. Waktu itu saya sedang menulis cerita cekak (cerpen berbahasa Jawa) tentang waranggana tayub Grobogan. Dalam cerita itu saya menyisipkan gending arum manis yang terkenal di kalangan pecinta gending tayub Grobogan. Dalam gending itu ada lirik begini “Wus sajege wong lanang mesthi akeh gorohe” (sudah semestinya laki-laki banyak dustanya). Salah seorang teman saya yang kebetulan melihat story saya membalas unggahan saya tersebut dengan bertanya “Goroh iku apa e?” ia bertanya apa arti kata “goroh”. Catatan, teman saya sama-sama orang Jawa seperti saya. Saya pun menjawabnya “Goroh iku ngapusi, Yu,” saya bilang kalau arti kata “goroh” itu sama dengan “ngapusi” yang artinya berdusta.

Dia pun membalas pesan saya lagi, katanya, “Aku kalau baca tulisanmu yang berbahasa Jawa pasti ada kosakata yang aku nggak paham, belajar dari mana sih sebenarnya?”

“Dari madrasah,” jawab saya.

“Lah, kok bisa?” si teman masih penasaran.

“Isa wae,” ketik saya sambil tak lupa memberi emot tersenyum.

Walau saya lebih dulu menulis cerpen berbahasa Indonesia tapi saya justru dikenal orang sebagai penulis berbahasa Jawa. Yang belum mengenal saya biasanya terkecoh, mengira saya lulusan Sastra Jawa atau Pendidikan Bahasa Jawa. Padahal saya lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Hehe. Memang di angkatan penulis muda berbahasa Jawa, saya yang berbeda sendiri, hanya saya yang tidak menempuh pendidikan formal di sastra Jawa. Teman-teman saya selain belajar formal biasanya mereka dari kecil sudah terbiasa mendengarkan atau menonton kesenian Jawa seperti wayang dan kethoprak, ada yang bapaknya seorang dalang, ibunya sinden, bahkan mantan bribikan saya adalah cucu seorang warok di Ponorogo. Kemampuan berbahasa mereka terbentuk dari situ selain memang mereka rajin membaca majalah berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat,  Jaya Baya, dan Djaka Lodang. Saya sendiri sejak kecil juga sering mendengarkan wayang di radio semalam suntuk, mendengar simbah bercerita, membaca majalah berbahasa Jawa yang dibawa bapak dari sekolah. Kemampuan berbahasa Jawa saya juga terbentuk dari situ. Sama seperti teman-teman saya. Tapi ada yang membedakan saya dengan teman-teman saya, mereka tidak mengalami menempuh pendidikan di madrasah yang pelajarannya mengkaji kitab.

Saya lahir di desa dengan kultur NU cekek walau keluarga saya abangan. Sebenarnya bapak saya keluarga besarnya dari Muhammadiyah tapi beliau memang mbalela. Saya lahir ketika bapak saya sedang tak harmonis hubungannya dengan Tuhan. Dari kecil sampai saya duduk di bangku kelas XI SMA beliau tak mau mendirikan salat dan puasa. Jadi walau beliau bisa mengaji, tidak diajarkan hal itu pada saya. Di desa saya anak-anak kecil lebih bisa membaca huruf hijaiyyah dulu baru mengenal huruf latin. Tidak heran seusia SD awalan banyak anak sudah lancar membaca Al Quran walau belum tentu bisa membaca huruf latin. Sejak kecil saya suka belajar, terutama bahasa. Usia Taman Kanak-Kanak saya sudah lancar membaca. Kadang ada orang tua tetangga yang meminta saya mengajari anak-anaknya. Ketika saya belajar disambi bermain, tentunya, anak-anak itu sering meledek saya karena tidak pernah mengaji. Saya sedih walau tidak menangis. Saya merengek pada orangtua agar dibolehkan ikut mengaji di rumah Kang Pardi, guru ngaji kampung yang mengajar fasholatan. Daripada anaknya di-bully teman-temannya, orangtua saya pun mengizinkan. Saya belajar mengaji fasholatan dan mengaji iqro’. Ternyata perkembangan belajar saya lebih cepat dari teman-teman saya yang awalnya mengejek saya. Ya meski saat itu saya tetap mangkel karena tidak dipondokkan seperti teman-teman saya setelah tamat Sekolah Dasar.

Ada dua jenis mengaji di desa saya, ngaji quran model setoran ke guru di sore hari dan ngaji madrasah yang belajar kitab di waktu malam hari. Di madrasah saya belajar maknani kitab. Skill kecepatan nulis huruf pegon miring-miring utawi iki-iku itu bolehlah diadu walau secara tulisan masih jelek sampai sekarang. Kami belajar mengaji Tukhfatul Athfal, Aqidatul Awwam, Jurumiyah, Mawar Putih, Nahwu, Sharaf, Bahasa Arab, Akidah Akhlaq, dan lain-lain. Saya paling suka ketika ustaz kami menerangkan pelajaran dengan bahasa Jawa. Kemampuan berbahasa Jawa saya semakin terasah ketika ngaji di madrasah. Saya benar-benar ketagihan membaca kitab. Waktu itu orangtua saya agak pelit kalau harus membelikan kitab, tidak seperti buku biasa. Saya pun menitip uang ke Kang Ustaz, hasil menyisihkan uang jajan. Ketika uang itu cukup, Kang Ustaz membelikanku kitab ke kota kecamatan. Masih ingat rasanya sampai sekarang menyentuh dan membaui kitab-kitab itu. Saya semakin semangat belajar apalagi kalau imtihan, santri dengan tiga nilai terbaik akan mendapat hadiah alat tulis dan kitab. Biasanya diserahkan ketika kenaikan kelas dengan bancaan membawa takir dan disaksikan orangtua. Saya sedih orangtua saya tidak datang walau madrasahnya hanya sepelemparan batu dari rumah. Kesedihan saya sedikit terobati karena saya dapat ranking dua saat itu. Hadiah kenaikan itu saya buka di rumah. Tentu saja favorit saya adalah hadiah kitab. Saya masih ingat saat itu hadiah kitabnya adalah aqidatul awwam.

Kembali ke awal cerita saya, saya mengenal kata “goroh” ini dari Kang Ustaz yang menerangkan sifat nabi. Bahwa nabi tidak mungkin goroh (ngapusi, berdusta). Saya mengenal kata sira (kamu) dan ingsun (aku) ini juga dari ngaji di madrasah. Jadi waktu pelajaran bahasa Jawa di sekolah yang membahas geguritan (puisi berbahawa Jawa) ketika ada kata “Sun Nggegurit”, saya bisa tahu kalau yang dimaksud “sun” di situ adalah “ingsun” (aku) tanpa harus bertanya atau diterangkan guru terlebih dahulu seperti teman-teman saya yang lain. Anak-anak yang ngaji madrasah saya perhatikan bahasanya lebih bagus daripada yang tidak. Walau sehari-hari kami bertutur dengan bahasa Jawa ngoko Purwodadinan, kalau matur ke Kang Ustaz atau Pak Kiai harus pakai bahasa krama inggil. Waktu ngaji Ta’lim Mutaalim Kang Ustaz bilang kalau bahasa bisa melatih kami memperhalus budi, makanya kami wajib berbahasa krama inggil ke orang yang lebih tua atau dihormati. Syarat harus bisa berbahasa krama inggil juga diterapkan kepada calon penceramah di desa kami. Mau jadi mantunya Pak Yai di desa kami ya harus bisa ngomong krama inggil.

Jadi selain saya harus berterima kasih pada bapak saya yang suka menyetel siaran wayang kulit, campursari, gending tayub, dan rajin memmbawakan saya majalah berbahasa Jawa, kepada ibu saya yang kalau marah-marah suka mengeluarkan pepatah bahasa Jawa dengan ajaib, simbah yang suka mendongeng dan mengajari saya menulis aksara Jawa, saya harus berterima kasih pada guru-guru ngaji saya, kepada Kang Ustaz yang tidak hanya mengajarkan saya tentang hukum izhar, idhgom, iqlab dan ikhfak, tentang dhamir, isim, fiil madhli dan mudharik, tapi juga mengajarkan nazoman atau syiir-syiir berbahasa Jawa. Harus berterima kasih juga pada simbah-simbah muazin yang melantunkan pujian sehabis azan. Ketika saya dewasa dan punya kesempatan membaca karya sastra berbahasa Jawa, suka senyum-senyum sendiri karena banyak kata yang familiar, yang mengingatkan saya pada kenangan masa kecil mengaji di madrasah. Saya mungkin tidak menjadi pendakwah agama, tapi saya tetap mengambil ilmu dari guru-guru ngaji saya dari sisi bahasa. Saya tetap menjadi pendakwah. Pendakwah sastra. Sastra Jawa.

Gondangrejo, 26 April 2020

 1,432 total views,  4 views today