Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

 

Apakah anda familiar dengan lirik lagu ini? Benar, ini adalah lirik lagu “Berita Kepada Kawan” milik musisi legendaris Ebiet G Ade. Setidaknya dari lirik tersebut bisa sedikit menggambarkan dua penyebab bencana ekologis yang sedang melanda manusia. Pertama, karena kuasa Tuhan yang murka melihat kerusakan yang ada di Bumi. Kedua, alam yang sudah mulai lelah karena terus menerus dieksploitasi. Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi? Mari kita cari jawabanya.

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang menghadapi berbagai macam bencana ekologis, mulai dari tanah longsor, angin puting beliung, hingga banjir di sejumlah daerah. Berdasarkan hal tersebut, sedikitnya masyarakat terpecah menjadi dua madzhab. Sebagian menyebutnya sebagai murni dari takdir dan kuasa Tuhan, sebagian lain mengatakan ini adalah kelalaian manusia terhadap alam. Alih-alih menyandarkan kepada takdir, saya lebih menganggap bahwa bencana ini banyak disebabkan oleh dosa-dosa ekologis kita sebagai manusia.

Jika melihat fakta, tingginya curah hujan di tahun 2021 memang sudah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam konteks ini kuasa Tuhan yang berbicara. Namun, jangan pernah lupakan berbagai problem yang diciptakan manusia seperti deforestasi, krisis sampah dan problem lingkungan lainya yang ikut memperparah keadaan.

Coba saja kita lihat banjir besar di Kalimantan beberapa waktu yang lalu. Walhi menyebut bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah karena lebih dari 3,7 juta hektar luasan wilayah Kalimantan Selatan menjadi lahan tambang dan perkebunan sawit. (Walhi.or.id). Lebih lanjut Walhi menyebut bahwa rentetan bencana yang sedang terjadi juga disebabkan oleh adanya kelompok oligarki. Kita bisa melihat itu lebih detil dalam catatan Alm. Tomy Apriandi yang berjudul Emas Hitam dalam Cengkeraman Para Haji; dari Pesta Pora, Kuasa Modal hingga Ancaman Meratus. Jadi, apa sebenarnya penyebab bencana? takdir Tuhan atau ulah manusia, semua ada alasanya.

 

Saatnya Merubah Cara Pandang

Krisis lingkungan semacam ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Berdasarkan laporan dari World Meteorological Organization (WMO), tercatat bahwa Bumi mengalami gejala pemanasan global yang cukup signifikan. Hal ini diakibatkan oleh serangkaian fenomena seperti kekeringan parah, es di kutub yang terus mencair, hujan lebat yang berkepanjangan serta banjir yang terjadi di Asia dan Afrika. Bahkan, suhu rata-rata global pada bulan Januari-Oktober 2020 adalah sekitar 1,2 derajat celcius, yang artinya diatas suhu rata-rata tahun 1850-1900. (public.wmo.int).

Fenomena ini menurut beberapa pakar berawal dari pandangan antroposentrisme yang melihat manusia sebagai pusat segala aktivitas di alam semesta. Sony Keraf  misalnya menyebutkan bahwa kesalahan pandangan ini yang membawa manusia memiliki sifat eksploitatif dan destruktif. Melihat hal tersebut, tak bisa dipungkiri bahwa kerusakan yang tercipta adalah ulah manusia (Qs. Ar-Rum: 41). Padahal tugas manusia di Bumi adalah sebagai khalifah (Qs. Al-Baqarah: 30) yang berarti melestarikan alam untuk keberlangsungan kehidupan.

Pada dasarnya, terdapat pandangan lain seperti yang digagas oleh Arne Naess yang ia sebut sebagai deep ecology.  Pandangan ini merupakan paham ekosentrisme, yang menganggap bahwa manusia dan alam memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi satus ama lain. Sehingga hubungan keseluruhan makhluk harus didasarkan pada paradigma simbiosis mutualisme bukan simbiosis parasitisme agar keteraturan antara alam dan manusia kemudian tercipta.

Keseimbangan ini sebenarnya dimiliki oleh masyarakat kita. Hindu Bali misalnya yang mengenal ajaran Tri Hita Karana. Ajaran tersebut memiliki tiga falsafah pokok yaitu Parhyangan (hubungan antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan manusia), Palemahan (hubungan manusia dengan alam). Dalam Islam filosofi ini juga dikenal dengan istilah hablun min Allah, hablun min an-naas, dan hablun min al-alam. Ketiganya bersinergi dan saling mengisi untuk menciptakan harmonisasi.

Jadi, cara pandang ketiganya harus senantiasa digunakan, agar manusia tidak egois dan mementingkan dirinya sendiri. Shifting paradigm  dari antroposentris menjadi ekosentris harus dilakukan agar manusia sadar bahwa segala yang dilakukan memilki hubungan dengan entitas yang lain, baik dengan Tuhan, manusia terlebih kepada alam.

 

Taubat Ekologis; Sebuah Tawaran

Setelah manusia memahami dosa-dosa terhadap alam, kini saatnya untuk melakukan taubat ekologis. Meminjam istilah Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, sang hujjatul Islam ini menjelaskan taubat dalam satu bab tersendiri. Menurutnya, taubat itu terdiri dari 3 unsur yaitu ilmu, Khal dan Fi’lu. Pertama, ilmu adalah mengetahui bahaya dari perbuatan dosa. Pertama yang harus dilakukan para pendosa ekologis adalah dengan memahami bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.

Kedua, Khal adalah posisi dimana terjadinya sebuah penyesalan. Setelah mengetahui kesalahannya, para perusak lingkungan harusnya menyesali apa yang telah ia perbuat dapat merugikan sesama. Penyesalan ini penting agar tidak megulangi perbuatanya di kemudian hari. Ketiga, Fi’l yaitu aksi nyata bahwa bertekad untuk tidak mengulanginya dan mengiringinya dengan perbuatan yang baik. Aksi nyata ini bisa dilakukan dengan upaya-upaya seperti reboisasi, menjaga kebersihan lingkungan dan yang tidak kalah penting adalah membuat kebijakan yang pro terhadap lingkungan.

Mungkin dosa-dosa ekologis yang kita lakukan sudah tak terhitung. Namun, dosa-dosa tersebut masih bisa kita perbaiki mulai dengan cara yang sederhana. Bukan tidak mungkin jika kita santun terhadap alam dan dilakukan bersama-sama, alam akan kembali bersahabat dengan kita.