Mengawali tahun 2021, bangsa ini didera dengan berbagai musibah dan bencana. Pandemi Corona-19 belum sirna, kini datang bencana alam melanda berbagai daerah. Gempa di Sulawesi Barat dan Kalimantan Barat, banjir lahar dingin dan hujan abu akibat letusan gunung di Lumajang, banjir di Kalimantan Selatan, dan Pati,  tanah longsor di Sumedang, Nganjukdan beberapa tempat lainnya di Indonesia. Semua bencana itu tidak hanya menuntut korban harta benda tetapi juga puluhan nyawa manusia.

Jenis bencana alam ini bisa dilihat dari dua sebab; pertama karena fenomena alam yaitu gunung meletus, gempa bumi dan sejenisnya. Kedua karena ulah manusia yang merusak lingkungan sehingga menganggu keseimangan alam. Terganggunya keseimbangan alam bisa menimbulkan cuaca ekstrim yang menyebabkan terjadinya bencana alam. Dengan kata lain, semakin manusia merusak lingkungan maka bencana alam akan semakin sering terjadi.

Meningkatnya eskalasi bencana bisa dilihat dari leju perusakan hutan (deforestrasi). Data yang ada menunjukkan terjadi proses deforestrasi yang terus meningkat di Kalimantan. Pada tahun 2005 hutan di Kalimantan seluas 74 juta hektar tinggal 71%, terjadi deforestrasi 29%. Dari jumlah ini menyusut tinggal 55% pada tahun 2015. Pada tahun 2020 hutan Kalimantan tinggal sepertiga. Ini artinya selama 15 tahun terjadi deforastrasi 33%.

Data Forest Wacth Indonesia (FWI) menunjukkan laju deforestrasi di Indonesia yang terus berlangsung dari tahun ke tahun. Pada periode 1996-2000 laju deforestrasi rata-rata 2juta hektar/pertahun. Pada periode 2001-2010 menjadi 1,5 juta hektar/tahun dan periode 2009-2013 menjadi 1.1 juta hektar/tahun.

Kajian FWI terhadap deforestrasi di tiga daerah (Sumatara Utara, Kalimantan Timur dan Maluku) juga menunjukkan tingginya laju deforestrasi. Di tiga daeraha tersebut pada periode 2013-2016 rata-rata terjadi deforestrasi 240 ribu hektar/tahun. Angka ini meningkat dibanding periode sebelumnya (2009-20013) yaitu sekitar 146 ribu hektar/tahun. Secara keseluruhan di tiga derah tersebut telah hilang hutan seluas 718 ribu hektar selama tiga tahun. Hasil kajian tersebut juga menunjukkan 72% deforestrasi terjadi di wilayah yang telah memiliki izin pengolahan.

Deforestrasi yang merusak lingkungan ini tidak hanya terjadi di luar Jawa, tetapi juga di pulau Jawa ang sudah padat penduduknya. Data deforestrasi di jawa menunjukkan pada periode 2003-2006 pulau Jawa kehilangan sekitar 2.500 hektar/tahun (total 7.500 hektar). Pada periode  2007 sampai 2010 hutan yang hilang di pulau jawa  menjadi 10.000 hektar (rata-rata 3.300 hektar lebih/tahun).

Kerusakan hutan di pulau Jawa terjadi sebagai konsekwensi pengembangan infrastruktur sebagai bagian dari program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2011-2015. Selain untuk kepentingan infrastruktur ekonomi,  jumlah penduduk pulau Jawa yang terus meningkat juga menjadi penyebab terjadinya deforestrasi di pulau Jawa.

Selain perusakan hutan, ekploitasi alam yang berlebihan juga terjadi pada sektor tambang. Penggalian batu bara, pasir, emas, timah, nikel, pengeboran minyak dan gas yang terjadi secara massif juga bisa menjadi pemicu munculnya bencana. Data-data ini menunjukkan betapa manusia (bangsa Indonesia) sangat tidak ramah pada alam dan lingkungan. Kita tidak menyapa dan memperlakukan alam sebagai sahabat dan teman hidup. Ada kecenderungan manusia  menganggap alam sebagai makhluk rendah yang bisa dieksploitasi dan dinista semaunya hingga rusak dan hancur.

Berbagai penelitian dan penjelasan ilmiah mengenai bahayanya merusak alam dan lingkungan telah dilakukan oleh para ahli. Perusakan hutan secara massif akan dapat menimbulkan terjadinya pemanasan global karena menurunnya kadar oksigen dunia. Kondisi ini bisa menjadi penyebab munculnya cuaca ekstrim dan perubahan iklim. Perusakan hutan juga bisa menghilangkan berbagai spiceis folra dan fauna yang bisa menjadi penyenagga keseimbangan ekosistem dunia. Ketika ekosistem tersebut hancur, maka keseimbangan alam akan terganggu dan pada ujungnya akan menimbulkan bencana.

Selain penjelasan ilmiah, sebenarnya secara etis dan teologis, ajaran aagama juga sudah memberikan peringan tentang bahayanya merusak alam dan lingkungan. Sebagaimana terlihat pada QS Ar-Ruum; 41: “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada meraka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalanyang benar)”. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa  kerusakan dunia ini akibat ulah manusia dan Allah ingin menunjukkan akibat kerusakan itu kepada manusia melalui bencana.

Selain al-qur’an, ada beberapa hadits Nabi yang melarang merusak pohon sembarangan dan kewajiban menjaga lingkungan. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun Nabi melarang ummatnya untuk perusak pohon dan lingkungan. Orang yang menebang pohon sembarang diancam dengan neraka, sebagaimana disabdakan oleh Nabi: “Siapa yang memotong pohon Bidara, Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka”(HR. Abu Dawud).

Terjadinya bencana yang terus menerus akhir-akhir ini selayaknya menjadi bahan renungan  bagi bangsa ini. Sebagai orang yang berakal selayaknya kita berpikir bahwa eksploitasi alam yang berlebihan bisa merusak keseimbangan alam yang menjadi sumber bencana. Saatnya manusia berpikir, bencana alam yang menuntut korban jiwa dan harta saat ini bukanlah benruk kemurkaan alam kepada manusia, tetapi merupakan buah dari keserakahan manusia yang telah memperlakukan alam secara semena-mena.

Sebagai ummat beriman, saat melakukan muhasaban (instropeksi), bertanya pada diri masing-masing, sudah sejauhma kita menjaga dan merawat alam dan lingkungan yang merupakan bagian dari ciptaan Allah. Apakah sebagai ummat beriman kita sudah memberlakukan dengan baik dan layak pada pohon yang setiap helai daunnya bertasbih pada Allah, atau sebaliknya justru merusaknya secara semena-mena. Apakah kita telah menjaga gunung, tanah dan laut yang juga selalu berdzikir kepada Allah, atau sebaliknya kita merusaknya dengan menggali dan mengeksploitasinya tanpa batas. Mengoroti dengan sampah-sampah plastik tak terurai?

Saatnya kita bercermin, melihat wajah kita yang kusan penuh luka di tengah amuk bencana yang menebarkan duka. Karena bencana pada dasarnya bukan semata hukuman dan ujian tatepi juga merupakan peringatan kepada manusia yang telah lupa diri dan bersikap semena-mena pada alam dan lingkungan hingga melupakan penciptanya. Semoga dengan bercermin pada bencana kita semua menjadi sadar berubah.