Marhaban ya ramadhan, kata-kata yang sedang moncer di semua medsos, tayangan televisi, dan iklan. Ramadan kita sambut dengan suka cita. Banyak sekali cara antusias untuk menyambut bulan suci kali ini, salah satunya dengan tetap di rumah dan mendengarkan sedikit tausiyah-tausiyah Gus Baha, DR. Fahrudin Faiz, Prof Quraish Sihab dan masih banyak lagi kiai-kiai moderat.

Mungkin tahun lalu kita dilarang salat berjamaah dimasjid karena bencana pandemi sedang mengagetkan dunia. Namun seiring berjalanya waktu kita bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru, seperti mematuhi prokes dan menjaga kebersihan (mencuci tangan). Gembira bukan tahun ini karena bisa salat tarawih berjamaah. Melaksanakan ibadah sunah yang khusus ada di bulan puasa ini.

Barangsiapa bangun (salat malam) di bulan Ramadan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, selain menjadi ladang beramal, seperti menambah daftar ibadah sunah salat Tarawih, Witir dan salat tahajud. Ramadan juga bisa mengukur realitas sosial kemasyarakatan. Di desa, penulis biasanya diadakan jaburan (kesepakatan masyarakat untuk membuat kelompok dan membagikan takjil dan buka puasa untuk anak-anak TPA). Bagus sekali bukan kalau ada yang tidak mau mengeluarkan jaburan ada sanksi tersendiri dari masyarakat sekitar, seperti dicemooh dan dirasani.

Mungkin himbauan (ibadah di rumah saja) tahun lalu, meninggalkan banyak sekali kenangan. Sebut saja anak-anak kecil yang berlarian ketika salat tarawih, suara petasan yang menggema di luar masjid, sampai keramaian masjid dan musala yang melantunkan kalammullah.

Ramadan memang memberikan nuansa segar. Lihat saja orang yang mendadak rajin ke masjid, rajin memberikan tausiyah dan kultum waktu subuh dan usai tarawih. Ya, nasihat-nasihat yang diberikan memang seputar ramadan, bagaimana menjalaninya, dan berapa banyak pahala yang ada di dalamnya, serta kiat-kiat ibadah sunah lainnya.

Selain itu, Ramadan juga memberikan nilai positif lainnya, kita mendadak menemukan penceramah baru. Uztaz dadakan yang tiba-tiba bisa memberikan nasihat seputar ibadah, tidak masalah sebenarnya malah bagus ketika banyak yang memberikan nasihat di mimbar, meski semuanya berbeda cara pencapaiannya dan berbeda aliran atau golongan.

Entah mengapa Ramadan itu sangat unik kedatangannya, dan sangat beragam kita menyambutnya. Mungkin ada anak atau saudara yang ingin mudik kekampung halamannya, tanah kelahirannya, tempat ia tumbuh besar dan meniti karir kesuksesannya yang kini dimiliki. Ada orangtua yang berharap anaknya bisa pulang namun terkendala ekonomi. Dan entah mengapa momen mudik ini sangat khas dengan bulan Ramadan, padahal kita bisa pulang kapan saja kalau kita mau.

Siaran berita baik di televisi, radio dan juga surat kabar mungkin tidak khas tahun-tahun lalu. Berita mengenai kemacetan, kecelakaan, dan juga antrian tiket mudik lebaran sudah berkurang. Jelas saja, sejak pemerintah memberikan himbauan untuk tidak mudik lagi terulang, mungkin kesedihan ini tidak hanya dirasakan anak yang belum dapat pulang kampung, namun juga pedagang asongan yang hilir mudik dari bus satu ke bus lain, jeritan para sopir yang mengeluh kurangnya setoran, pengamen yang juga menunggu momen-momen mudik, tiba harus menahan sampai tahun depan.

Begitulah perjalanan Ramadan tahun ini, suka karena bulan yang penuh dengan ampunan, duka karena masih adanya pandemi korona yang menyulitkan berbagai lapisan sosial masyarakat. Beginilah Ramadan tahun ini.