Sebagaimana renung nasihat Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) dalam tiap kesempatan, pandemi bukanlah wabah daerah, wabah etnis, ataupun wabah agama, melainkan wabah kemanusiaan. Pandemi pun bisa diartikan anugerah dari Allah untuk manusia yang lupa agar kembali mengingat “posisi” manusia di bumi ini. Menurut Gus Mus (dalam webinar sarasehan Hari Santri oleh Kanwil Kemenag Jawa Tengah, 21 Desember 2020), apabila kemudian sekarang dikampanyekan tentang jaga jarak, sebenarnya jarak ini juga berarti tentang keadaan sebelum pandemi di mana manusia tidak berjarak dengan dunia, bahkan dinilai sangat akrab, tetapi di sisi lain manusia ternyata tidak akrab bahkan membuat sekat jarak dengan keluarga, juga berjarak dengan Allah SWT.

KH. Abdul Rozak Shofawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Surakarta turut menyampaikan pesan di tiap kesempatan memberi wejangan atau nasihat kepada santri-santrinya, tentang apa yang mesti dilakukan dalam pandemi ini. Menurut Kiai Rozak, penerapan protokol kesehatan seperti disiplin cuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker adalah ikhtiar untuk saling menjaga kesehatan yang bernilai ibadah kepada Allah SWT, karena di akhirat nanti, bukan apakah kita sakit atau tidak, namun bagaimana ikhtiar yang dilakukan dalam menjaga kesehatan adalah yang akan ditanyakan di akhirat kelak.

Wabah Covid-19 adalah tantangan nyata bagi siapapun, termasuk lingkungan pondok pesantren. Ditemukannya klaster penularan virus Covid-19 di beberapa pondok pesantren menimbulkan kekhawatiran bagi dunia pesantren. Mengingat di pesantren, fasilitas-fasilitas dipakai secara bersama-sama, daya tampung yang dibatasi, serta proses interaksi warga pesantren (kiai, santri, dan ustaz) yang sangat banyak dan lekat.

Mau tidak mau, pesantren harus mawas diri terhadap kondisi dan kebutuhan untuk lulus dan bertahan dalam ujian pandemi. Maka, ikhtiar Wakil Gubernur Jawa Tengah, KH. Taj Yasin Maimoen menginisiasi agar pesantren membentuk satuan gugus/tugas khusus di pesantren untuk pencegahan dan penanganan Covid-19. Selaras dengan program Kapolda Jawa Tengah yang mencanangkan pesantren patuh penerapan protokol kesehatan, maka pesantren tersebut disebut sebagai “Pesantren Siaga Candi”, sedangkan satuan gugus tugas di dalam pesantren itu sendiri disebut “Satgas Jogo Santri”.

Pola adaptasi kebiasaan baru di pesantren juga sedikit-banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan lama kultur tradisi pesantren. Tradisi bersalaman, misalnya. Dalam adat dan kebiasaan pesantren, bersalaman apalagi dengan mengecup tangan kiai, guru, atau yang dianggap sepuh atau tua adalah hal yang muruah. Bersalaman berarti sama dengan “ngalap berkah” (mengharap berkah) kepada sesama saudara muslim atau lebih-lebih pada sosok yang dianggap ‘alim.  Kini, di masa pandemi, bersalaman adalah aktivitas yang begitu riskan penularan virus, sehingga perilaku atau tradisi ini sangat dibatasi.

Bagi pesantren yang santrinya belum kembali ke pondok alias masih di rumah, kegiatan kepesantrenan mau tidak mau juga mesti mengikuti anjuran pemerintah yakni dengan secara daring. Pun dengan aktivitas pengajian Alquran atau kitab yang semula lebih sering dengan metode bandongan atau sorogan langsung, kegiatan semacamnya kemudian dilakoni secara virtual. Meski kadang terkendala sarana, sinyal, dan waktu, bagi pesantren untuk tetap memberikan hak dan tanggungjawabnya kepada santri adalah bentuk khidmah pesantren kepada santri dan masyarakat.

Alih-alih pesantren yang sudah mendatangkan santri ke pondok pesantren, pun memiliki kewajiban untuk menjaga santri-santri agar tetap melaksanakan protokol kesehatan. Bagaimana tidak? Wali santri dan masyarakat sekitar pesantren yang telah menaruh kepercayaan kepada pesantren untuk kembali membuka pesantren dan menerima kembali santri-santri dari berbagai daerah turut memiliki risiko tinggi dalam penularan virus ini. Sehingga pesantren bertanggungjawab penuh atas pecegahan dan pengendalian virus Covid-19 agar tidak terjadi klaster baru pondok pesantren.

Adaptasi kebiasaan baru bagi pesantren yang santri-santrinya yang telah kembali di pesantren antara lain: kiai, guru/ustaz, pengurus, dan santri mulai terbiasa harus menggunakan masker selama beraktivitas di lingkungan pondok, santri tidak diperbolehkan dan leluasa keluar area pondok, meningkatnya kesadaran untuk tidak pinjam meminjam atau menggunakan secara bersama-sama peralatan sholat, tidur, mandi, makan, maupun pakaian; dan tentu santri harus terbiasa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir saat akan masuk kelas, aula, dan kamar.

Adaptasi kebiasaan baru yang diterapkan dalam kebijakan di pondok pesantren, alhasil memberi dampak pada terciptanya perubahan dalam (konsep) pendidikan. Artinya, dalam jangka panjang: perubahan dalam pendidikan turut mengubah perilaku berbagai unsur yang ada di dalamnya ( baik kiai, guru, ustaz, maupun santri). Perubahan perilaku ini biasa terjadi pada unsur perilaku manusia, baik pada aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.

Terlepas dari sengkarut dinamika pesantren menghadapi pandemi, barangkali tidak ada salahnya untuk mengingat dan mendoakan para kiai-ulama’ sepuh dan muda yang tidak sedikit jumlahnya telah berpulang di tahun 2020. Para kiai-ulama sepuh dan muda ini, yang dianggap sebagai tumpuan harapan akan nasihat-nasihat kebaikan agar tetap tercurah pada generasi bangsa, selanjutnya bergantung pada penerus-penerusnya. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita, dan semoga keadaan semakin membaik dan kembali seperti semula.

Menyambut tahun baru 2021, tidak ada salahnya juga jika kita membaca ulang pasal atau bab terakhir dari Fihi Ma Fihi tulisan Jalaluddin Rumi berjudul Terbang Meninggalkan Segala Dimensi:

Kekasihku bertanya: “Dengan apa si fulan bisa bertahan hidup?”

Perbedaan antara seekor burung dengan sayap-sayapnya dan orang yang berakal dengan sayap cita-cita adalah bahwa seekor burung, dengan sayapnya, dapat terbang dari satu arah ke arah yang lain.

Sementara orang yang berakal menggunakan sayap cita-citanya untuk terbang meninggalkan berbagai arah dan dimensi. Setiap kuda memiliki kandangnya, setiap binatang melata memiliki kurungannya, dan setiap burung memiliki sarangnya.

Wallahu ‘alam.