Pada masa 1980-an, debat lagu anak berlangsung seru. Di televisi, koran, dan majalah, para penggubah lagu dan pengamat anak saling mengajukan argumentasi berkaitan situasi hiburan bagi anak. Acara-acara di televisi dan panggung-panggung hiburan menampilkan lagu-lagu anak mulai mendapat kritik. Lagu-lagu anak dituduh berpamrih komersial alias menuruti pasar demi keberlimpahan untung. Mutu lagu berkurang akibat berpikir “sensasi” dan siasat melariskan lagu-lagu. Anak-anak di situasi dilematis. Industri hiburan justru meraih untung, hari demi hari.

Masa lalu, kita memiliki para penggubah lagu dengan garapan tema dan sajian lirik bersahaja tapi berhikmah. Kita mencatat nama-nama: Ibu Sud, Pak Kasur, Daldjono, dan AT Mahmud. Puluhan tahun, mereka mempersembahkan lagu anak-anak bermisi mendidik dan menghibur. Kemunculan industri lagu anak di televisi dan pasar kaset lekas mengubah anggapan lagu berhikmah. Laris jadi patokan, bukan pesan-pesan bermakna bagi anak dan orangtua.

Para penggubah lagu anak sering mengaku bahwa membuat lagu berlirik sederhana itu sulit. Mereka harus berpikir dan membuat pertimbangan serius di penggunaan bahasa untuk lagu berdurasi pendek. Sekian diksi dan irama diinginkan selaras di nalar dan imajinasi anak. Sederhana itu sulit. Lagu tak cuma diinginkan laris atau terkenal. Lagu pun jadi pertanggungjawaban di pengasuhan dan pengajaran anak-anak, dari masa ke masa.

Di majalah Pertiwi, 20 Februari-5 Maret 1989, AT Mahmud berkomentar: “Lagu anak yang berlirik sederhana harus dibuat dengan bertanggung jawab. Si pengarang harus mampu membeda-bedakan setiap lagu yang dibuat untuk anak-anak umur berapa. Sebab, tiap kelompok umur (TK, SD, dan SMP) mempunyai karakter lagunya sendiri-sendiri, disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan jasmaninya.” AT Mahmud membuktikan dengan gubahan lagu Pelangi dan Cicak-Cicak di Dinding. Ratusan lagu terus digubah demi tanggung jawab, bukan menumpuk laba dari industri hiburan.

Adlis Husin mengingat: “Dalam salah satu ceramah subuh, Buya Hamka almarhum mengatakan bahwa dalam lagu Pelangi yang diperuntukkan bagi anak-anak itu tekandung pendidikan tauhid. Setelah saya menelaah kembali sayir dan mendengarkan lagu Pelangi itu bertambahlah hormat saya kepada orang tua kita tersebut karena pendapatnya itu benar.” Hamka mengomentari dan memuji lagu Pelangi. Sejak kita di TK, lagu itu memang sering disenandungkan dan dijelaskan guru agar anak-anak mengagumi ciptaan Tuhan. Pada masa lalu, lagu itu belum perlu berstempel “lagu islami”.

Pada 1991, terbit buku berjudul Amalku: Kumpulan Nyanyian Anak-Anak Muslim. Buku berisi puluhan lagu gubahan AT Mahmud. Pada usia tua, penggubah lagu itu sering menggarap tema keagamaan. Lagu dijadikan dakwah: merdu dan berhikmah. Anak-anak bersenandung dan memetik makna dari sekian lagu. Kita jarang mendapat beritas ikhtiar itu disambut meriah oleh para orangtua dan guru. Lagu-lagu bertema agama dari AT Mahmud belum semoncer lagu berjudul Pelangi atau Cicak Cicak di Dinding. Dulu, lagu-lagu mungkin sempat diajarkan ke anak-anak, sebelum tergantikan lagu-lagu baru gubahan seniman-seniman lain.

Kita simak lirik lagu berjudul “Makan”, ajakan meneladani Nabi Muhammad. Lirik sederhana tapi penting diajarkan ke anak: Aku makan di kala lapar/ Aku berhenti sebelum kenyang/ Terasa badan sehat dan segar/ Terasa diri nyaman dan tenang. Lagu itu pantas digunakan berdakwah. Lagu mungkin bermuatan ajaran baik saat anak-anak mulai rajin jajan dan belum sanggup berpikiran serius mengenai diri dan makanan. Lirik lagu membuktikan AT Mahmud ingin mengacu ke tema agama tanpa klise.

Lagu mengajarkan tauhid dalam corak berbeda ada di lagu berjudul “Aku Mengaku.” Kita bisa membandingkan dengan lagu Pelangi. AT Mahmud mulai agak sulit di pilihan diksi di lagu berdurasi pendek. Ia memilih melagukan kalimat terindah di Islam: Aku mengaku sepenuh hatiku/ tiada Tuhan selain Allah/ Aku mengaku sepenuh hatiku/ Muhammad utusan Allah. Anak bersenandung dan orangtua atau guru bertugas memberi penjelasan mengenai agama. Kerja bareng menjadikan lagu untuk dakwah berterima ke anak.

Lagu berlirik agak berat dan rumit dimengerti anak berjudul “Sedekah”. AT Mahmud mulai membuat tafsir atas ajaran agama. Lagu memang bermutu tapi belum tentu gampang disenandungkan anak-anak di TK dan SD. Kita membaca: Setiap tasbih adalah sedekah/ Setiap tahmid adalah sedekah/ Setiap tahlil adalah sedekah/ berbuat baik adalah sedekah. Sebelum dan setelah bersenandung, anak dianjurkan ada di obrolan dengan orangtua atau guru, bermaksud mengerti isi lagu. Pengertian-pengertian itu cenderung ke orang dewasa, bukan anak. Kita berharap saja penjelasan-penjelasan memberi bekal ke anak mampu bersenandung dan mendapat hikmah.

Pada 2003, terbit buku berjudul Lagu Anak Muslim susunan AT Mahmud. Seniman legendaris itu menjelaskan: “Buku Lagu Anak Muslim merupakan buku yang hadir akan kebutuhan untuk menumbuhkembangkan kepribadian anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam nuansa keislaman.” Penampilan buku khas anak: halaman-halaman berwarna dan dihiasi gambar-gambar. Lagu-lagu bertema agama semakin bertambah dengan keinginan memberi lirik sederhana.

Kita mengutip lirik di lagu berjudul “Hadiah Ulang Tahun”. Judul belum mengarah ke agama. Anak bakal mengerti maksud di lirik akhir: Betapa senang hatiku pada hari ini/ Pada hari ulang tahun yang kutunggu-tunggu/ Dari ibu dan ayah kuterima hadiah/ Hadiahku sajadah yang baru. Sajadah itu mengartikan pesan bapak dan ibu ke anak. Sajadah digunakan saat salat. Anak diharapkan rajin salat, tak melulu bermain atau menonton televisi. Lirik sederhana dan mengena. Anak tak terlalu sulit mengartikan.

Lirik sederhana kita temukan pula di lagu berjudul “Puji Allah”. Anak diajak mengenali dan mengagumi flora-fauna. Kekaguman memuncak ke pujian bagi Allah. AT Mahmud menulis: Lihatlah bunga kuning, merah, dan ungu/ Setiap hari kusiram agar mekar/ Indahnya bunga menarik kupu-kupu/ Hinggap di bunga menghisap madu segar/ Subhanallah wallahu akbar. Lagu di kemerduan dakwah, bukan ceramah kadang membuat anak mengantuk dan memilih berlarian. Lagu telah terpilih dalam dakwah AT Mahmud meski kita melulu mengenali dengan lagu Pelangi atau Cicak Cicak di Dinding. Kita tak mau melupa bahwa warisan dua buku lagu bertema agama pun pantas dijadikan acuan di dakwah abad XXI saat lagu anak-anak dianggap langka. Begitu.

 

 2,511 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini