Nur Rohman*

Ketika di pesantren dulu, kita biasa disuruh membaca, memahami dan menghafal buku berjudul muthola’ah. Buku itu berisi tentang dongeng berbahasa Arab. Mata pelajaran ini sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa para santri dengan banyaknya kosa-kata penting nan indah di dalamnya. Selain itu, juga banyak dongeng-dongeng yang syarat makna. Sehingga jika sudah memahami isinya, tak jarang kita mudah untuk menghafalkannya.

Banyak tema menarik yang ada di dalamnya. Salah satu di antaranya yaitu dongeng tentang ‘Singa dan Tikus’. Dikisahkan ketika itu Tikus pernah mengganggu si Singa yang sedang tidur, dengan berjalan di atas kepanya. Maka marahlah si Singa dan menangkap si Tikus. Namun si Tikus merengek meminta maaf, si Singa pun merasa iba dan melepaskannya.

Di lain hari, ada para pemburu memasang jaring perangkap di hutan. Karena kurang berhati-hati, si Singa masuk ke dalam jaring perangkap milik para pemburu. Tak selang lama, si Tikus pun melihat kegelisahan sang Singa. Merasa berhutang budi pada Singa, si Tikus berusaha menyelamatkan Singa dengan menggigiti jaring yang memerangkap Singa. Tak selang lama, jaringpun terkoyak dan Singa lepas. Kemudian Singa mengatakan kepada Tikus, “Saya tak menyangka, bahwa hewan kecil dan lemah sepertimu bisa melakukan pekerjaan yang saya sendiri tak bisa melakukannya”. Si Tikus pun menjawab “jangan menghina seseorang, karena setiap segala sesuatu ada kelebihannya”.

Dongeng di atas bisa jadi bukan sesuatu yang sebenarnya. Namun merupakan suatu karangan yang ditulis oleh sang pengarang yang bertujuan untuk mempermudah mempelajari kosa kata penting dalam bahasa Arab dan mudah dihapal oleh para pelajar. Meskipun demikian, dongen di atas menyiratkan makna untuk tidak memandang remeh segala sesuatu. Karena memang Allah menciptakan segala sesuatu ada manfaatnya.

Di dalam Al-Qur’an sendiri dijelaskan bahwa tak ada yang sia-sia ciptaan Allah di muka bumi ini (Q.S. 3: 191). Semuanya pasti ada manfaatnya. Bahkan sekecil apa pun makhluk ciptaan Allah itu. Bagi para petani yang mengembangkan pertanian organik, wereng di sawah yang biasa dibasmi pun ternyata ada manfaatnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Belum lagi hewan-hewan yang lainnya. Bahkan benda-benda yang tak bernyawa sekalipun semuanya bertasbih kepada Allah, dan semuanya ada manfaatnya.

Jika semua makhluk di muka bumi ini ada manfaatnya, maka apalagi manusia yang diciptakan sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk Allah lainnya. maka menganggapnya rendah dan remeh sudah tidak relevan lagi.

Kita mungkin perlu perlu menengok ulang kisah iblis yang dikeluarkan dari surga akibat kesombongannya. Iblis menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam sebab ia diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah (Q.S. 7: 12-13).

Akibat kesombongan yang ada di dalam diri seseorang, sering kali ia menganggap orang lain lebih rendah dari padanya. Seringkali seseorang menganggap dirinya paling benar sementara orang lain salah dan sesat, dan sebagainya. Sehingga ia tidak sadar dari mana dirinya berasal dan akan ke mana dia kembali. Sehingga jauh-jauh Nabi Muhammad telah mengingatkan, “tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebiji sawi”.

Terlebih lagi di era digital ini, kita dapat dengan mudah melihat bagaimana seorang yang bisa jadi tidak lebih sempurna secara fisik dari kita, namun perannya bagi kemajuan dunia sangatlah nyata. Sehingga menganggap orang lain lebih rendah dari kita sudah tidak relevan lagi. Kini saatnya kita bersama-sama saling bersinergi untuk membangun negeri. Semoga kita dapat menjaga hati dari sikap sombong dan takabur.

Wallahu a’lam.

 1,470 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini