Jarir Idris*

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah. Mungkin saja, banyak generasi milenial yang tidak hafal dengan nama nama bulan dalam bahasa arab. Atau mungkin yang lebih dikenal di kalangan milenial adalah bulan-bulan Jawa yang mengikuti gaya bahasa kearifan lokal seperti bulan Suro, Sapar, Mulud, Ba’da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Syawal, Selo lan Besar. Bulan Sya’ban lebih dikenal dengan sebutan bulan Ruwah.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, khususnya para kalangan Nahdiyiin bulan Ruwah adalah bulan persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan Ruwah ini masyarakat Jawa melakukan berbagai ritual keagamaan dengan asimilasi budaya dan agama. Di antaranya adalah Nyadran. Nyadran sebenarnya berasal dari kata bahasa Arab yang kemudian diadopsi menjadi bahasa jawa. Nyadran berasal dari kata sodrun yang artinya dada.

Nyadran merupakan ritual ibadah keagamaan yang mendoakan orangtua yang sudah meninggal dan dibarengi dengan bersih makam maupun area sekitar pemakaman. Mengapa diartikan dada? Begini penjelasannya: Jenazah yang dikuburkan di makam itu menghadap ke arah kiblat dengan miring ke kanan, sehingga jenazah menghadap ke kiblat dengan posisi miring. Mereka yang datang ziarah ke makam, ketika mendoakan jenazah hendaknya berada barat makam. Sehingga, bertemulah kedua dada antara jenazah dan perziarah yang ada di makam.

Mendoakan orangtua yang sudah meninggal memang bukan hanya dilakukan ketika bulan Ruwah saja, tetapi mendoakan orang tua, wajib setiap kita selesai melakukan salat lima waktu beserta ibadah sunnah lainnya, baik yang muakkad maupun ghoiru muakkad. Mendoakan orangtua kita, tanpa perlu menanyakan dalil lagi karena orangtua kita lah yang merawat kita dari kecil sampai kita mengenal indahnya dunia yang Tuhan ciptakan ini.

Nyadran hanya sebagai manifestasi dari doa yang rutin kita lantunkan sebagai bentuk penghormatan kita kepada orangtua kita. Meskipun demikian, Nyadran adalah bagian dari budaya kearifan lokal yang harus kita jaga. Sebagai bentuk birrulwalidain (berbakti kepada orangtua) kita yang diwujudkan dalam bentuk kebudayaan keagamaan meskipun orangtua kita telah meninggal dunia. Sehingga masyarakat luar pun mengetahui betapa orang Indonesia menjunjung tinggi rasa hormat seorang anak kepada orangtua.

Konon, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Jika kita mau mengamalkan birrulwalidain yang baik pada diri kita, maka kemungkinan besar itu yang akan terjadi pada anak-anak kita. Tetapi sebaliknya, jika kita tidak mau menghormati orangtua kita, maka jangan pernah menuntut anak kita untuk patuh dan hormat kepada kita.
Dalam kajian psikologi anak, anak cenderung meniru apa yang dilakukan orangtua. Bukan mendengarkan apa yang diucapkan orangtua. Dalam kacamata anak, orangtua adalah contoh bukan audio yang didengarkan lalu diabaikan. Jika kita mengajak anak kita untuk ziarah kubur orangtua kita secara rutin, maka nantinya anak akan terbiasa dengan rutinitas hariannya untuk mendoakan kita, bahkan ketika kita sudah meninggalkan dunia.

Maka dari itu, di bulan Ruwah ini alangkah baiknya ketika kita Nyadran atau ziarah kubur di makam orangtua kita, ajaklah anak-anak kita. Meskipun mereka belum paham pada saat ini tentang apa itu Nyadran, kemungkinan besar ketika dewasa nanti, mereka akan paham apa yang kita maksudkan. Sehingga nantinya Nyadran bukan hanya sebagai budaya dari keagamaan, tetapi sebagai bekal di akhirat nanti.

*Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Surakarta

 1,939 total views,  4 views today