Bencana sering akrab di telinga seluruh masyarakat Indonesia. Belum reda atas bertambahnya korban Covid-19 yang merupakan bencana global juga terdapat musibah lain yaitu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182, longsor Sumedang, banjir Banjarmasin, Gempa Mamuju, Letusan Merapi dan erupsi Semeru. Beragam kemalangan terus terjadi bersamaan dengan aktivitas keseharian ummat manusia.

Terkadang istilah bencana dikenal dengan istilah musibah. Istilah ini ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadis. Istilah musibah sendiri dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 77 kali dengan beragam derivasinya. Selain istilah tersebut juga diguanakan istilah lain yakni bala’ (ujian) sebanyal 33 kali disebutkan dalam al-Qur’an. selain kedua istilah tersebut masih ada istilah lain yanag senada yaitu azab dan fitnah.

Musibah atau kemalangan di atas juga akrab terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Sehingga Islam memberikan jalan keluar dalam keluar dalam kesedihan. Kunci utama dalam meraih hidup yang berkah dalam agama dan akrab dengan musibah adalah dengan sabar. Sabar ini menjadi sukses imannya seseorang di mana Allah swt. menguji hambanya umat manusia agar imannya bertambah kuat.

Selain itu dalam hadis juga Nabi saw. menjelaskan cara menghindari bencana. Cara tersebut terlihat dalam hadis berikut yang diriwayatkana Imam Muslim hadis noor 1340 dan Ibn Mas’ud menjelaskan bahwa:
الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Siapa yang membaca kedua ayat itu, yakni akhir dari Q.S. al-Baqarah (2): niscaya keduanya akan memeliharanya dari bencana.”
Untuk menghindari bencana bacaan yang perlu dilaksanakan yang dicontohkan oleh Rasululaah saw.. Bacaan tersebut adalah akhir surat al-Baqarah. Tentu tidak semua ayat dalam surat terpanjang tersebut melainkan hanya dua ayat terakhir saja yang dapat dilakukan di malam hari. Menurut Rasulullah saw. sudah mampu menjadi sarana terhindar dari bencana. Ayat dimaksud adalah sebagai berikut:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
Artinya:
Rasulullah Muhammad saw. beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. Mereka berdoa: “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kami kembali”.
Allah swt. tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Bahkan dalam hadis lin diungkapkan doa yang biasa di[anjatkan kepada Allah swt. doa tersebut dapat dilihat dalam hadis berikut sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dalam hadis nomor 3424, yaitu: dari Sahabat Ibn Umar bahwa Nabi saw. memberikan contoh doa tabah dalam menghadapi musibah.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
Adapun makna dari ucapan doa di atas adalah curhat kepada Tuhan, yakni Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada Surga-Mu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Ya Allah, Tuhanku, berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Zikir dan wirid ayat di atas baik sebagaimana dalam hadis memiliki faidah yang luar biasa yakni dijauhkan daeri musibah dan bahkan akan dipermudah rizkinya sehingga dapat bahagia di dunia dan di akhirat. Semoga Allah swt. membeikan keselamatan seluruh bangsa Indonesia dan khususnya ummat Islam yang telah melaksanakan amalan ini dan menjadikan kebiasaan dalam kehhidupan keseharian. Semoga kedamaian dan keamanan juga memancar kepada seluruh ummat manusia.