Alfin Miftahul Khairi*

Hari Kamis (9/5) adalah hari terakhir kami berada di Malaysia. Tidak mengira waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin kami menginjakan kaki di Kuala Lumpur. Mata yang sedikit mengantuk hilang seketika. Saya seperti dibangunkan dari tidur panjang untuk segera bergegas pergi. Sebagian dari kami pergi untuk sahur di restoran hotel dan sebagian tidak. Mengingat posisi kami sebagai musafir.

Hari terakhir di Negeri Jiran kami agendakan satu tujuan saja. Karena jam 13.00 kami harus sudah berada di airport. Bukit kapur Batu Caves adalah lokasi kuil Hindu terpopuler di luar India yang dipersembahkan untuk Dewa Murugan. Objek wisata religius yang juga merupakan spot utama untuk perayaan festival Thaipusam di Malaysia ini terletak sekitar 13 km dari Kuala Lumpur, dan tidak dikenakan biaya masuk untuk mengunjungi kawasan tersebut.

Tempat wisata yang juga sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu ini cukup terkenal. Karena ketika sampai di tempat parkir kita sudah disambut indahnya bukit dan patung Dewa Murugan yang menjulang tinggi.

Bayangkan, tingginya mencapai 43 meter dan konon merupakan patung Dewa Hindu yang tertinggi di dunia.
Selain keindahan patung Dewa Murugan, Batu Caves juga memiliki 3 gua utama dan gua kecil. Wisatawan juga bisa berpose di pintu masuk dengan ribuan burung dara yang siap menjadi objek foto. Di belakangnya terlihat 272 anak tangga curam dengan cat warna-warni menuju sebuah gua di atas bukit kapur yang berfungsi sebagai kuil.

Bagi yang beragama Hindu, mereka bisa beribadah di dalam sana. Pendeta selalu stand by untuk melayani umatnya. Secara pribadi, baru kali ini saya melihat secara langsung umat Hindu beribadah. Karena apa yang saya lihat di Bali sebelumnya berbeda dengan yang sekarang. Jika kita sering melihat film India, tidak ada perbedaan sama sekali dari apa yang kita lihat di film dengan apa yang kita lihat di Batu Caves. Dalam hal ibadah.

Saya sarankan ketika pergi ke Batu Caves hendaknya saat pagi buta. Jam 7. Jika terlalu siang, sinar matahari begitu menyengat dan wisatawan yang datang pun sudah berjubel banyaknya. Sedikit mengganggu saat ingin berswafoto bersama. Selain merpati, kera atau monyet juga bisa kita temukan mondar-mandir di kawasan wisata. Bagi yang membawa makanan banyak, harap waspada karena bisa saja makanan yang dibawa sudah berpindah tangan ke monyet dengan kilat.

Malaysia yang Multikultural
Tidak mengherankan jika Film Upin dan Ipin begitu populer di Malaysia. Begitu juga dengan di Indonesia. Salah satu nilai plusnya karena mengangkat keberagaman suku dan ras yang ada di sana. Kita bisa melihat sendiri representasi ras dan suku melalui Jarjit, Mey Mey dan Upin Ipin sendiri. Dari segi bahasa pun, berdasarkan pengalaman selama tiga hari, Bahasa Melayu, Inggris, Mandarin dan Hindi sudah menjadi bahasa sehari-hari rakyat Malaysia. Dengan bahasa Melayu yang lebih dominan.

Semua perbedaan yang ada adalah sunnatullah. Lebih-lebih di negara kita sendiri, Indonesia. Saya jadi ingat dengan firman Allah di surat Al-Maidah ayat 48 yang berbunyi;

ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al-Maidah : 48)

Lebih lanjut Allah menjelaskan di surat Al-Hujurat ayat 13, anjuran bagi makhluknya untuk saling mengenal antar satu dengan yang lain: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Hikmah yang kami dapatkan selama perjalanan selama tiga hari di Negeri Jiran adalah selain manfaat akademik, kami juga belajar tentang toleransi yang ada di sana. Antar umat beragama saling menghormati tanpa memandang ras dan suku. Semua sadar akan pentingnya perdamaian. Saya jadi ingat apa yang terjadi di negeri kita sendiri. Kita selalu memperebutkan Tuhan yang satu dan lupa bahwa Tuhan adalah milik bersama, milik semua umat. Selamat berpuasa.

591 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini