Rohmatul Izad*

Dalam sejarah penyebaran agama di tanah Jawa, Islam mengalami perkembangam yang cukup unik. Dari segi agama misalnya, sebelum suku Jawa menerima pengaruh agama dan budaya Hindu, keyakinan mereka masih pada taraf animistik dan dinamistik. Mereka memuja roh-roh nenek moyang, dan percaya adanya kekuatan gaib atau daya magis yang terdapat pada benda, tumbuhan, binatang, dan sesuatu yang memiliki daya sakti.

Kepercayaan dan pemujaan ini, belum mewujudkan diri sebagai suatu agama yang nyata dan sadar. Dalam corak keagamaan yang seperti itu, suku Jawa menerima pengaruh agama dan kebudayaan Hindu.

Hinduisme pada prinsipnya bersendikan atas kebudayaan bangsa Hindu di India. Di Jawa sendiri, penyebaran Hinduisme dimulai dari atas, dengan cara melalui pemahaman dan pengolahan golongan bangsawan serta para cendekiawan Jawa. Dari sinilah sebetulnya orang-orang awam Jawa mulai menerima pengaruh Hinduisme.

Para cendekiawan yang sudah mengerti bahasa Sansekerta, lambat laun dapat pula mengolah huruf-huruf yang berasal dari Hindu, ini dilakukan agar bahasa Jawa dapat ditulis. Penggunaan huruf Jawa dan perhitungan tahun Saka, merupakan modal bagi pertumbuhan dan perkembangan kepustakaan di Jawa, baik kepustakaan Islam santri maupun Islam ala kejawen.

Hal yang amat menarik bila ditinjau dari segi agama adalah pandangan tentang sinkretisme yang banyak mempengaruhi watak dari kebudayaan orang-orang Jawa. Dalam buku Dictionary of Cristian Theology dijelaskan, singkretisme merupakan suatu sikap yang tidak mempersoalkan benar salahnya suatu keyakinan agama, atau suatu pandangan yang tidak mempersoalkan murni atau tidak murninya suatu agama.

Orang yang berpendirian sinkretik menganggap semua agama sama-sama baik dan benar. Pandangan ini, dalam konteks sekarang, justru melampaui paham pluralisme itu sendiri, tetapi orang Jawa sudah menerapkannya sejak dahulu. Selain itu, paham sinkretis ini juga sangat suka memadukan unsur-unsur dari berbagai agama, yang pada dasarnya beda atau malah bertentangan.

Sesudah kerajaan Majapahit runtuh, dan berganti dengan zaman Islam, menjadikan dasar pandangan sinkretis dari kebudayaan Jawa secara langsung menunjang pertumbuhan kepustakaan Islam kejawen. Maka tidak heran bila dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa ada dua jenis kepustakaan, yakni kepustakaan Islam santri yang sangat kental dengan nuansa ajaran syariat dan kepustakaan Islam kejawen yang lebih bercorak sinkretis dan sifatnya yang fleksibel.

Menurut Prof. Simuh (1988), ciri kepustakaan Islam kejawen mempergunakaan bahasa Jawa, dan sangat sedikit mengungkapkan aspek syariat – sebagaimana nanti akan sedikit diulas dalam Kitab Wirid Hidayat Jati – bahkan sebagian ada yang kurang menghargai syariat. Yakni syariat dalam arti hukum dan perundang-undangan lahiriah dari agama Islam. Bentuk kepustakaan ini termasuk dalam lingkup kepustakaan Islam, karena ditulis oleh dan untuk orang-orang yang telah menerima Islam sebagai agama mereka.

Nama yang sering digunakan untuk menyebut kepustakaan Islam kejawen adalah primbon, wirid dan suluk. Suluk dan wirid isinya berkaitan dengan ajaran tasawuf, yang sering disebut ajaran mistik dalam Islam, karena memang kedua nama itu bersumber dari ajaran tasawuf. Adapun primbon isinya merangkum berbagai macam ajaran yang berkembang dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung, ramalan, guna-guna, dan sebagainya. Primpun pun juga kadang-kadang memuat aspek-aspek ajaran Islam.

Sampai di sini, kiranya penulis sudah sedikit memberi gambaran historis tentang bagaimana ajaran Islam kejawen itu muncul dalam tradisi orang-orang Jawa, agar para pembaca budiman tidak ujuk-ujuk sinau kitab suluk dan sebelumnya tidak tahu-menahu tentang asal-usul Islam kejawen itu sendiri, terutama berkaitan dengan khazanah kepustakaan Islam kejawen yang sangat luas dan kaya, khususnya satu kitab yang akan dibahas secara singkat di tulisan pendek ini.

Dalam kepustakaan Islam kejawen ada satu kitab yang dikenal dengan nama Wirid Hidayat Jati, juga biasa disingkat dengan Serat Wirid atau Hidayat Jati saja. Kitab ini merupakan mahakarya istimewa dari Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873), seorang sastrawan besar Istana Mataram Islam Surakarta yang sangat masyhur. Para pecinta kepustakaan Jawa dan pengagumnya, memberi gelar kepadanya sebagai pujangga penutup, ini menunjukkan bahwa Ranggawarsita memiliki kedudukan yang tidak main-main. Kalau Nabi Muhammad diberi gelar sebagai ‘Nabi penutup’, maka Ranggawarsita-lah yang digelari sebagai ‘pujangga penutup’.

Kitab Wirid Hidayat Jati disusun dalam bentuk prosa. Isi kandungannya sukup lengkap dan padat. Serat Wirid ini, yang diterbitkan oleh Administrasi Jawi Kandha, berisi beberapa hal di antaranya; pertama, upacara dan perlengkapan sajian yang harus diselenggarakan oleh seorang guru yang akan mengajarkan ilmu mistik. Kedua, uraian tentang bab guru dan murid. Ketiga, uraian tentang Tuhan dan hubungan antara Dzat, sifat, dan af’al (perbuatan) Tuhan.

Keempat, uraian tentang cita kesatuan antara manusia dengan Tuhan. Kelima, jalan untuk mencapai penghayatan batin dan manunggal dengan Tuhan. Keenam, tingkatan-tingkatan penghayatan batin beserta godaan-godaan yang terdapat dalam tingkatan-tingkatan tersebut. Ketujuh, uraian tentang metafisika penciptaan manusia dan hakikat terdalam manusia. Kedelapan, asek budi pekerti beserta berbagai ajaran yang berkaitan dengan dunia mistik.

Boleh dikata, kitab ini memuat ajaran-ajaran yang mengarah pada corak teologi-antroposentris, yakni basis kajian metafisika ketuhanan ala Islam kejawen yang bersendi pada manusia atau nilai-nilai kemanusiaan secara universal, tanpa melabeli apakah ia manusia Islam atau bukan.

M.H. Rasyidi, dalam bukunya berjudul Islam dan Kebatinan, juga sedikit mengulas tentang ajaran Wirid Hidayat Jati yang ada hubungannya dengan Serat Gatholoco dan Serat Darmagandul. Kasimpulannya, Serat Gatholoco menunjukkan pengaruh tentang ajaran tatratisme, karenanya Wirid Hidayat Jati sangat menonjol dalam ajaran Union Mystique, yakni konsep kejawen tentang manunggaling kawula-Gusti, atau penyatuan antara manusia dan Tuhan, atau kalau dalam istilah Jawa lainnya disebut sebagai rawangka manjing curiga. Selain itu, ajaran manekung (kontemplasi) dalam Wirid Hidayat Jati adalah semacam yoga yang banyak tersiar di India.

Wirid Hidayat Jati juga ada kaitannya dengan Serat Centini, terutama menyangkut ajaran tentang Tuhan dan konsepsi manusia. Karenanya, kitab ini tidak melulu bicara masalah teologi atau ketuhanan semata, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan manusia. Artinya, ada semacam pengintegrasian antara konsep manusia dan ketuhanan, di mana manusia merupakan Tuhan yang menjadi daging. Ajaran-ajaran semacam ini sebetulnya sangat kental dengan konsep Hinduisme, yang di tangan Ranggawarsita, ajaran-ajaran Hindu terselimuti oleh corak Islam yang diselami oleh orang-orang Jawa.

*Alumni Pascasarajana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.

 4,558 total views,  30 views today