Selasa, 14 April 2020 Jam 09.06 pagi saya kirim SMS ke Mas Didi Kempot, menyampaikan bahwa saya ada lagu syi’iran gaya wali yag isinya doa mohon kepada Allah agar diberi kekuatan menghadapi kenyataan dan terhindar dari berbagai musibah dan bencana termasuk wabah penyait. Di SMS saya sampaikan bahwa lagu syi’iran ini lebih merupakan “kidung keslametan” (doa keselamatan).

Jam 21.20 Mas Didi telpon saya, menyampaikan bahwa syairnya sudah diterima. Dia bilang ini syair bagus dan menyentuh. “Syi’iran niki cocok kangge nentremke ati ngadhepi kahanan sak niki, Mas. Nopo malih niki ajeng melebet wulan poso” (Syi’iran ini cocok untuk menenangkan hati menghadapi situasi saat ini, Mas. Apalagi sekarang mau memasuki bulan puasa). Demikian kata Mas Didi di ujung telpon.

Dia bilang mau membawakan syi’iran itu, sambil bertanya apakah sudah ada notasinya. Saya jawab bahwa syi’iran itu sudah ada notasinya.

“Mangke digarap model campur sari gaya didi kempot, nggih”, katanya bersemangat.

Kemudian Mas Didi minta agat notasi lagunya dikirim ke Mas Ige via WA yang ada audionya. Saat itu kami komunikasi lewat SMS dan telpon langsung. Jam 21.59 saya bilang bahwa notasi syi’ir sudah saya kirim ke mas Ige, jam 22.19 mas Didi kirim SMS balasan “Siap laksanakan, Mas”.

Itulah Mas Didi Kempot, selalu responsive (cepat tanggap), grapak semanak (familiar) kalau dihubungi. Sikap seperti ini selalu dia tunjukkan kepada siapa saja yang berhubungan dengannya, termasuk kepada mereka yang ingin minta tolong kepadanya, dia tidak membeda-bedakan. Seperti yang pernah juga saya alami. Pada saat itu, saya dan Mbak Inayah Wahid ingin meminta mas Didi mengisi di acara haul Gus Dur. Tanpa pikir panjang mas Didi langsung menjawab siap.

Foto koleksi al Zastrouw saat berjumpa Mas Didi dan Mba Inayah di Kelapa Gading 

Mengingat padatnya jadwal di akhir tahun, mas Didi ngajak kami bertemu untuk mengatur jadwal. Tanggal 14 Oktober 2019 saya bersama Mbak Inayah bertemu Mas Didi di sela-sela acara persiapan konsernya di Kelapa Gading. Jadwal sudah penuh, Mas Didi berusaha menggeser beberapa event agar bisa mengisi acara haul Gus Dur, tapi sampai dengan pelaksanaan acara ternyata upaya ini gagal sehingga rencana mengisi acara haul Gus Dur tahun itu belum kesampaian.

“Mas, besok haul tahun depan mohon kasih tahu jadwalnya jauh-jauh hari ya, Mas. Biar saya blok tanggalnya” Demikian kata mas Didi di ujung telpon pada saya saat memberi kabar jadwal acara haul tidak bisa digeser.

Saya tidak menyangka, SMS saya tanggal 14 April itu merupakan komunikasi terakhir dengan Mas Didi Kempot. Hanya selang 22 hari setelah komunikasi itu Mas Didi meninggalkan kita semua. Saya meyakini Mas Didi meninggal dalam keadaan husnul khotimah, karena beberapa tahun saat kariernya sedang naik dia justru mendekat pada para ulama dan kiai dengan sikap tawadlu’ (rendah hati), prasojo (bersahaja) dan peduli.

Popularitas dan kesuksesan tidak melunturkan sikap dan jiwanya. Dia tetap menjadi seniman yang njawani. Di puncak kariernya, dia justru rajin mendatangi tempat pengajian, bersholawat dan beramal sosial untuk sesamanya. Ini berbeda dengan beberapa artis yang mendekat pada para ulama saat kariernya sedang meredup.

Selain melakukan silaturrahim ke beberapa kiai, dia juga akrab dan peduli dengan komunitas pesantren. Dia tidak hanya menghormati kiai yang masih hidup, tetapi juga para kiai yang sudah wafat, seperti Gus Dur, mBah Liem (Kyai Muslim Rifa’ie Imampuro, Klaten) dan lain-lain. Mas Didi sangat ngestokke (memerhatikan dengan sunguh-sungguh) dhawuh para kiai tersebut. Bahkan dia selalu terlibat dan peduli pada kegiatan yang terkait dengan para kiai seperti haul dan sejenisnya.

Ibaratnya, Mas Didi menjadikan “sarungnya” kiai sebagai gantungan dan pijakan keislamannya. Maksudya menjadikan cara pandang dan akhlak para kiai sebagai pegangan dalam menjalankan ajaran Islam.  Ini ditandai dengan ekspresi keislaman Mas Didi lebih diwarnai oleh model keislaman kiai yang santun, bijak (wise), tidak simbolik, meledak-ledak, simbolik-formal dan kearab-araban sebagaimana yang ditunjukkan oleh artis-artis lain yang menjalankan hijrah. Hijrahnya Mas Didi tidak ditunjukkan melalui tampilan dan retorika, tetapi melalui laku nyata, yaitu peduli pada sesama, sikap santun dan familiar yang menyenangkan semua orang serta laku hidup yang membawa manfaat bagi sesama.

Mas Didi telah menjadikan potensi seni yang dikaruniakan Allah sebagai sarana untuk dakwah menyampaikan ajaran Islam semampunya. Dia tidak mempertentangkan antara Islam dengan seni, tapi menjadikan seni sebagai sarana untuk menyentuh dan mengikat hati umat. Inilah cara dakwah ulama dan kiai Nusantara, menghibur dan menyenangkan umat bukan membebani dan menakut-nakuti.

Atas sikap keilsman yang “nganduli sarunge kiai” (berdakwah ala kyai) ini, Didi Kempot mampu mengetuk hati jutaan umat untuk peduli, dia bisa menggerakkan kesadaran umat menjalankan ajaran Islam untuk berinfak, sedekah dan saling membantu atas penderiaan pada sesama. Karena cara mengekspresian keislaman yang seperti ini, maka tidak heran kalau ada yang meragukan keislaman Mas Didi, terutama kaum simbolis-formalis. Tapi hal ini justru menjadi bukti keikhlasan Mas Didi dalam mengamalkan ajaran agama.

Melihat respons masyarakat atas wafatnya Mas Didi Kempot saya teringat syair Imam Syafi’i yang acapkali ditembangkan Gus Dur :

 

ولدتك امك يا ابن آدم باكيا        والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد لنفسك ان تكون إذا بكوا   فى يوم موتك ضاحكا مسرورا

 

Ketika ibumu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam, engkau menangis sendirian; sedang orang-orang di sekitarmu tertawa riang menyambut kedatanganmu

Maka, berusahalah  sungguh-sungguh agar kelak di hari kematianmu, mereka menangis tersedu-sedu sedangkan engkau sendirian tertawa riang  berbahagia.

 

Kepergian Mas Didi telah menimbulkan tangis duka di seantero Nusantara. Mereka semua menangis seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia yang disambut tawa bahagia oleh orang tua dan sanak keluarga, tanpa mempedulikan tangis sang bayi. Dan saya yakin sekarang Mas Didi sedang tersenyum bahagia seperti orang tua yang menyambut kehadiran bayi yang dinantikannya tanpa mempedulikan tangis duka para pencintanya.

Selamat jalan Mas Didi, beristirahatlah dengan tenang di sisiNya, selamat berjumpa dengan para kiai yang telah kau gandhuli sarungnya, yang telah kau ikuti jejaknya.****

 2,968 total views,  4 views today