Banjir yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia merupakan kejadian tahunan. Penyebab terjadinya banjir bisa terjadi karena adanya ketidakseimbangan dan disorientasi manusia memperlakukan alam ini, seperti penebangan kayu-kayu di hutan tanpa mengganti dengan tanaman serupa. Dari Aspek teologis, sebab terjadinya banjir bandang dikarenakan pembangkangan manusia atas ajaran Tuhan melalui para rasul yang diutus-Nya. Sejak empat belas abad lalu, al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam sudah memberikan gambaran sebab terjadinya bencana banjir, yakni karena pembangkangan manusia dan tidak sanggupnya manusia dalam menjaga kelestarian alam.

Dalam perspektif al-Qur’an, banjir pernah terjadi pada bangsa ‘Ad (kaum nabi Hud), Saba’ dan umat Nabi Nuh as. Bukti terjadinya Allah abadikan dalam berbagai surat dan ayat, misalnya dalam surat Hud ayat 44-45,”Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, ”Binasalah orang-orang zalim.” Dialog antara Nabi Nuh dan anaknya tersebut menggambarkan betapa dahsatnya banjir yang terjadi, sehingga ia mencari perlindungan ke gunung untuk menghindarkannya dari banjir bandang. Banjir bandang ini selesai saat Allah memerintahkan langit dan bumi untuk berhenti. Dari ayat ini sangat jelas aspek pembangkangan manusia atas ajaran Tuhan melalui para Nabi-Nya menjadi sebab terjadinya azab dan atas Kuasa-Nyalah azab ini berhenti.

Dalam surat lain, fenomena banjir terjadi juga pada bangsa Saba’. Allah mengirim banjir besar (sailal arim) disebabkan kekufuran mereka atas nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka. peristiwa ini dijelaskan dalam surat Saba’ ayat 15-16, “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr.” Ayat ini memberikan peringatan kepada kita semua bahwa anugerah kenikmatan besar untuk bangsa kita harus disyukuri dengan menjaga alam dan jangan berpaling dari ajaran Tuhan dengan merusak alam agar tidak diganti dengan bencana yang merugikan kita semua. Kemudian pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengikuti ajaran Tuhan dengan menjaga alamnya?  Wa Allahu A’lam Bisshawab.

404 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini