Apakah internet selalu membawa dampak positif?

Era 4.0 merujuk pada era revolusi industri yang menekankan pada pengoptimalan ekonomi digital, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya yang dikenal dengan disruptive innovation (Kemenristekdikti, 2018). Melalui era 4.0 perubahan demi perubahan dimulai. Kecanggihan teknologi berbasis digital di era ini telah menguasai seluruh sendi kehidupan, terutama pada generasi-Z. Mereka generasi yang lahir antara tahun 1996 hingga 2010 yang dikenal sebagai generasi yang ingin menjadi agent of change, berorientasi pada masa depan, menghargai keberagaman dan gemar berbagi (tirto.id).

Kemudahan akses media dengan tingkat kelengkapan informasi yang tinggi menjadi alasan utama generasi Z untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi digital. Namun di sisi lain kemudahan dan kecanggihan teknologi digital ini ternyata membawa dampak yang negatif. Generasi Z, jika tak hati-hati, bisa kecanduan internet. Mereka asyik bermedia sosial ketimbang membangun interaksi di dunia nyata. Habisnya baterai smartphone seringkali membuat mereka gelisah dan mati gaya.

Dilansir tirto.id bahwa sebanyak 89,9%  dari generasi Z  menghabiskan 3 sampai 5 jam per hari untuk mengakses media sosial terutama melalui smartphone. Kegandrungan generasi Z terhadap dunia digital terutama media sosial ini seakan memunculkan dunia baru bagi mereka dan bisa jadi menimbulkan sikap anti sosial.

Kecanduan media sosial ini tak jarang merugikan orang lain. Salah satunya yaitu maraknya konten media sosial yang menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, adu domba, dan lain sebagainya. Apalagi di tahun 2019, ketika udara sedang panas-panasnya karena politik. Tak ayal, berbagi pihak berupaya saling menjatuhkan satu sama lain. Seperti penyebaran 62 konten hoaks terkait pemilu 2019 yang terdeteksi oleh Kementrian Kominfo beberapa waktu lalu.

Selain itu, terdapat pula kasus dimana seorang wanita yang dituduh sebagai pencuri dipersekusi dengan ditelanjangi dan dipertontonkan di depan umum yang terjadi pada 27 Maret 2019. Mirisnya, tak ada satu orang pun yang terketuk hatinya untuk menolong wanita tersebut. Bahkan kejadian tersebut malah diviralkan melalui video di Facebook dan mengundang berbagai reaksi netizen yang menyayangkan perlakuan masyarakat tersebut. (tribunjambi.com)

Intoleransi dengan memanfaatkan kecanggihan media sosial pun tak hanya terjadi di Indonesia. Masih segar di ingatan kita, dunia diguncangkan dengan kasus penembakan masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Center di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019. Tragedi itu menyebabkan 49 orang meninggal dunia dan 20 orang mengalami luka-luka, termasuk 8 warga asal Indonesia.

Selama menjalankan aksinya pelaku dengan terang-terangan melakukan siaran langsung di Facebook dengan tujuan untuk menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat terutama mereka yang beragama muslim sebagai kaum minoritas di Selandia Baru.

Miris. Kita menjadi saksi lunturnya nilai toleransi di kalangan masyarakat dunia, dimana perbedaan dijadikan alasan untuk saling memusnahkan satu sama lain.

Generasi Z yang identik dengan perubahan dan kemajuan teknologi mestinya mampu menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam pemanfaatan teknologi namun juga harus mampu memegang erat nilai-nilai toleransi. Sebab toleransi merupakan salah satu nilai luhur bangsa kita. Dengan menjunjung tinggi toleransi, cita-cita kehidupan damai dapat terwujud.

Mari menjadi generasi Z yang melek teknologi dan menjunjung tinggi toleransi, bukan generasi Z yang intoleran, berpikiran sempit dan gemar menebar kebencian.

 

1,100 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini