Kita sering mendengar bahwa relasi sebagai manusia itu ada dua garis, yaitu hablun min Allah dan hablun min al-nas. Namun, sebenarnya interaksi kita tidak hanya dengan dua hubungan tersebut, melainkan ada dimensi yang ketiga yang mungkin sering dilupakan, yaitu habl min al-‘alam, hubungan dengan alam raya.

Nah, dengan melaksanakan ketiga hubungan tersebut, dapat menjadi cerminan bahwa ajaran Islam secara substansi bersifat syamil, menyeluruh, tidak sebatas ibadah ritual semata.

Berkaitan dengan dimensi yang ketiga tersebut, saat ini kita menyaksikan bahwa bumi ini sedang sakit. Bukan karena virus korona, tetapi disebabkan oleh ulah manusia. Yap, manusialah sebagai virus utama dari sakitnya dunia ini.

Misalnya pencemaran udara, air, dan tanah sebagai akibat dari pembakaran lahan yang serampangan dan pabrik industri yang melanggar aturan ekosistem lingkungan. Hal ini bukan sebatas isapan jempol, kita lihat banyaknya bencana alam yang terjadi di awal tahun 2021, seperti terjadinya banjir di banyak tempat akibat saluran air yang tersumbat, buruknya sistem pembuangan air, dan kesalahan dalam memelihara aliran sungai.

Begitupula terjadinya tanah longsor juga sebagai dampak dari pengrusakan hutan, penebangan liar, pengerukan tambang batu bara, tanpa memikirkan dampaknya di masa depan.

Oleh karena itu, musibah demi musibah yang terjadi sejatinya bukan sebatas fenomena alam semata, melainkan merupakan teguran bagi kita semua yang telah melampaui batas sebagai khalifah fil ardh.

Menyikapi kerusakan lingkungan tersebut, setidaknya ada empat hal yang dapat kita lakukan untuk memelihara sekaligus mengelola alam raya.

Pertama, Islam mengajarkan kepada kita bahwa di antara tugas manusia selain beribadah kepada Allah juga diberi amanah untuk memakmurkan bumi. Sebagaimana firman Allah:
”…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…” (QS.Hud [11]:61).

Memahami ayat tersebut, Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam kitabnya “Ri’ayatul bi`ah fi Syari’atil Islam” menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan tujuan manusia untuk membangun peradaban. Menurut beliau, usaha untuk membangun bumi dapat sempurna melalui cara menanam, memperbaiki dan menghidupi serta menghindarkan diri dari hal-hal yang merusak alam. Sehingga seharusnya peradaban alam raya ini dibangun dengan keadaban, bukan kebiadaban.

Jika kita cermati lebih jauh, ketika kita membuka Al-Quran, maka akan ditemukan banyak nama-nama surat yang berkaitan dengan lingkungan. Misalnya dengan nama hewan, seperti surat al-Baqarah (sapi), al-Fil (gajah), al-‘Adiyat (kuda), an-Naml (semut), an-Nahl (lebah) dan nama lainnya, seperti al-Hadid (tambang), adz-Dzariyat (angin yang menerbangkan sesuatu), an-Najm (bintang), dll.

Semuanya ini mengandung isyarat agar manusia menyadari bahwa kita mempunyai hubungan yang terikat dengan alam dan tidak boleh lalai dalam menjalankan kewajiban untuk melestarikan lingkungan.

Kedua, Islam mengajarkan bahwa lingkungan itu tidak boleh dirusak, sebab mereka punya kehidupan juga sebagaimana kita manusia. Dalam Al-Qur’an dengan tegas disebutkan.
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu” (QS. Al-An’am [6]: 38).

Ketiga, salah satu upaya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad untuk menjaga lingkungan adalah dengan menggalakkan penanaman pohon dan tanam-tanaman. Hal ini sudah diinstruksikan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:
“Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya” (HR. Bukhari).

Perintah menanam pohon dan tanam-tanaman dalam hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan ini merupakan siklus dan ketergantungan antara manusia, tumbuhan, hewan, dan alam. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, upaya untuk melestarikan flora dan fauna merupakan hal mutlak dalam rangka menjaga dan memelihara kelangsungan hidup. Bahkan Nabi Muhammad menegaskan meskipun esok kiamat, kita pun tetap harus memberi maslahat untuk alam. Nabi bersabda:
“Kalau kiamat segera akan bangkit, sedang di tangan salah seorang dari kalian ada benih kurma, maka kalau ia dapat (menanamnya), maka hendaklah ditanamnya” (HR. Bukhari)

Keempat, upaya yang kita lakukan dalam mengelola alam haruslah dengan prinsip menolak segala bentuk kerusakan. Hal ini sebagaimana kaidah usul fikih: dar`ul mafaasid muqaddam ‘alaa jalbil mashaalih, menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.

Jangan sampai dengan dalih memanfaatkan alam, justru melakukan upaya yang merusak atau destruktif. Pemanfaatan alam raya harus diiringi dengan usaha untuk melestarikan lingkungan secara produktif. Sebab, pada hakekatnya apa yang ada di alam ini juga beribadah dan bertasbih kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. An-Nur [24]: 41).

Dengan demikian, Islam adalah agama yang ramah lingkungan. Islam adalah agama yang mengajarkan agar memanfaatkan dan mengelola alam dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungannya dengan damai dan nyaman. Kita rawat alam raya, maka alam pun akan merawat kita. Kita rusak lingkungan, maka bencana demi bencanalah yang kita rasakan.

Rahmatullah Al-Barawi
Berau, 29 Januari 2021