Mr Assaat meresmikan Masjid Syuhada di Jogjakarta (1952) sebagai simbol mengenangkan sejarah Indonesia. Nama itu berarti pahlawan. Niat mendirikan masjid dibarengi dengan membuka memori simbolik tentang para pahlawan. Mereka adalah para santri, pahlawan berbasis religiositas untuk menggerakkan gagasan Indonesia. Nurcholis Madjid (1988) mengartikan itu intimitas gerakan agama dan politik santri demi Indonesia. Kematian mereka demi semaian gagasan dan imajinasi Indonesia meski mereka rata-rata tak menguasai huruf Latin.

Pesantren, huruf Latin, dan nasionalisme? Jejak-jejak sejarah mesti ditelusuri pelan-pelan, menengok catatan-catatan berserakan, dan menata ulang dalam mozaik tafsiran. Lakon sejarah Indonesia selama abad XIX dan permulaan abad XX dipengaruhi oleh geliat pesantren. Institusi pendidikan Islam itu bertebaran di Jawa dan Sumatra, menebarkan ide-ide tentang misi agama, agenda transformasi sosial-kultural, dan edukasi bagi kalangan pribumi. Sartono Kartodirdjo (1977) menilai pesantren menjadi pusat mobilisasi resistansi atas kolonialisme sepanjang abad XIX. Peran kiai dan santri kentara identik sebagai pelaku-pelaku berlumuran ide dan darah demi afirmasi iman: menggerakkan semaian imajinasi bangsa.

Pandangan sejarah itu mengartikan kebermaknaan pesantren mengonstruksi Indonesia. Resistansi atas kolonialisme dilambari gairah belajar agama dan ilmu memakai kitab-kitab berhuruf Arab. Kitab-kitab itu sumber ilmu, rujukan mengolah iman, dan suluh mengimajinasikan bangsa. Kita jadi ingat peran dan ketokohan Syaikh Nawawi Al-Bantani, ulama ensiklopedis, penggerak dakwah dan nasionalisme di Hindia Belanda abad XIX. Penulisan pelbagai kitab berhurufkan Arab, sebaran ke pelbagai pesantren di Nusantara, menjadikan si tokoh ini dicurigai oleh kolonial. Snouck Hurgronje malah mendapati misi oleh pemerintah kolonial agar mengawasi pengaruh politik dari agenda dakwah Syaikh Nawawi Al-Bantani (1814-1897). Abad XIX merupakan abad sensitif oleh racikan Islam sebagai agama dan paham politik membuat kolonial cemas dan gerah.

Kebermaknaan kiai dan santri mengaji kitab-kitab beraksara Arab mungkin agak terabaikan dalam sejarah semaian nasionalisme di Indonesia. Kita mendapati pandangan Ben Anderson tentang agenda (bangsa) Indonesia awal abad XX turut ditentukan oleh sebaran media cetak (buku, koran, majalah, brosur). Deskripsi historis cenderung mengarah ke literasi menggunakan huruf Latin. Penggunaan huruf Jawa dan Arab agak terpinggirkan oleh arus Latinisiasi secara material (huruf) dan nalar-imajinasi. Dominasi semaian nasionalisme kemungkinan identik dengan kosmologi huruf latin andai kita meneropong awal abad XX sebagai abad “kemadjoean” di Hindia Belanda melalui geliat organisasi, sekolah, kaum elite terpelajar, dan media massa cetak.

Sorotan agak mengalpakan peran kiai dan santri dalam kosmologi huruf Arab mengejawantahkan proyek (bangsa) Indonesia. Kolonial memang represif atas garis politik pesantren sebagai institusi pendidikan pribumi. Sengketa politik itu muncul dalam menentukan sistem pendidikan, subsidi, penggunaan huruf (Latin atau Arab), dan sulut gagasan nasionalisme. Pesantren pun ada dalam pengucilan. Politik kolonial ini dilema, memberikan girang atas selebrasi politik dan agama di pesantren tapi mengontrol-menertibkan dalam nalar diskriminatif.

Abad XIX dan XX menandai ambisi kolonial membentuk sekolah-sekolah modern “menandingi” pesantren dan jenis-jenis institusi pendidikan tradisional. Latinisasi melanda Hindia Belanda dan nalar-imajinasi Barat memasuki ruang-ruang hidup kaum pribumi. Kondisi ini tidak merampungi misi pesantren. Gairah dakwah dan pamrih politik (kebangsaan) jutru membesar di pesantren sebagai konsekuensi politik kolonial dan rengkuhan iman dalam simbol huruf Arab. Ilustrasi impresif adalah ekspresi iman dan politik masyarakat Aceh saat melawan kolonial: “Mereka yang menulis dalam huruf Latin akan dipotong tangannya pada hari akhirat” (Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, 1987). Persoalan huruf menjadi pusat konfrontasi politik.

Modernitas bergerak tergesa di Hindia Belanda. Model pendidikan pesantren tradisional mesti melaju dalam godaan-godaan kalangan pribumi masuk ke sekolah-sekolah modern, hidup dalam buaian huruf Latin, dan mendandani diri dalam aksesoris pembaratan. Gairah (nasionalisme) Indonesia memang disemaikan bersama dalam jalan tradisional dan kemodernan. Peran santri masih besar dan pesantren tetap basis untuk resistensi atas kolonial. Deliar Noer (1980) justru memunculkan konklusi: nasionalisme Indonesia bermula dari nasionalisme Islam. Abad XIX dan XX menjadikan kolonial Belanda membuat pandangan politis bahwa Islam identik dengan kebangsaan.

Embusan nasionalisme dari pesantren, ruang pendidikan agama dan ilmu memakai huruf Arab, perlahan “disaingi” oleh geliat kaum elite terpelajar. Mereka mengartikulasikan nasionalisme dalam huruf Latin, organisasi modern, dan adonan ideologi-ideologi modern. Dominasi latinisasi kentara “mengalahkan” embusan nasionalisme melalui huruf Arab dan huruf-huruf etnik di Nusantara. Pesantren bertumbuh tapi rentan dengan usul-usul pembaruan dalam sistem, huruf, dan misi. Pembaruan pun berlangsung di Pesantren Tebu Ireng (Jombang) sekitar 1920-an dengan memasukkan mata pelajaran umum: berhitung, ilmu bumi, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda. Pemodernan dilangsungkan tapi relasi agama dan paham kebangsaan tak luntur.

Fragmen-fragmen sejarah itu memberi ingatan tentang makna pesantren dalam arus nasionalisme. Penguatan iman dan gerakan melawan kolonial mengundang refleksi kebermaknaan pesantren, latinisasi, dan nasionalisme. Sejarah nasionalisme Indonesia adalah sengketa huruf. Tema ini mungkin (hampir) hilang dari selebrasi nasionalisme abad XXI, terpinggirkan oleh kealpaan membaca peran pesantren dan politik (pendidikan) Islam dalam agenda (kebangsaan) Indonesia. Kita sering memiskinkan sejarah dan makna nasionalisme tapi genit dalam memunculkan sensasi-sensasi nasionalisme dengan pamrih modal dan kekuasaan. Begitu.

 650 total views,  3 views today