Muhammad Alfatih Suryadilaga*

 

Santri merupakan sebutan seorang murid yang berada di pesantren dan mencari ilmu di dalamnya. Hal inilah yang membedakan sebutan atas pendidikan yang lain seperti siswa dan murid. Dengan demikian istilah tersebut menyisakan  beragam makna terdalam atasnya.

Istilah siswa bersal dari  bahasa Sansekerta. Bahasa ini berasal dari kata siya yang bermakna apapun yang anda katakan saya menerimanya. Dalam bahasa Indonesia siswa dikenal dengan ustilah murid. Dengan demikian, istilah ini maka mengandung makna kepatuhan secara utuh kepada seorang guru.

Murid sebagai istilah lain yang berasal dari Bahasa Arab yang berarti seseorang yang memiliki komitmen. Murid merupakan seorang yang memiliki keinginan yang kuat dalam belajar  Dalam bahasa Indonesia sebagaimana dalam KBBI dikenal dengan istilah peserta didik atau anak yang belajar.

Sedangkan istilah santri terdapat beragam pendapat. Di antaranya, santri berasal dari bahasa sansekerta shanstri atau ada yang mengatakan berasal dari kata cantrik berarti pembantu. Tradisi keduanya berada dalam pendidikan Islam di pesantren. Dengan demikian, beragam istilah di atas menjadikan santri sebagai panggilan yang khas di pendidikan pesantren.

Tidak hanya tradisi penyebutan di atas sebagai karakteristik khas pesantren. Terdapat beragam keindahan kehidupan di dalamnya. Hal ini setidaknya seperti istilah I-N. Adalah kepanjangan dari Insya Allah Nikmat ini merupakan berbagi dengan sesama santri. Peristiwa ini setidaknya dilakukan setiap santri pulang dari rumah atau dikunjungi keluarga dan orang tuanya. Oleh-oleh yang dibawa biasanya dibagi dan dimakan bersama, tidak dinikmati sendiri. Dengan demikian, kebersamaan dalam konteks ini menjadi bagian tidak terpisahkan termasuk ketika berbahagia dalam menerima makanan atau yang lainnya.

Tradisi pondok pesantren lain yang terkenal adalah ta’zir. Istilah ini adalah merupakan hukuman ketika melanggar aturan pondok. Biasanya ta’zir bisa berbentuk gundul kepala atau mengisi bak mandi atau bahkan dikeluarkan dari pesantren. Hukuman sesuai dengan kondisi kesalahannya santri. Biasanya yang melakukan adalah bagian keamanan. Melalui ta’zir ini kehidupan pesantren dapat berjalan dengan baik karena ada hukuman bagi yang melanggarnya.

Hal lain yang sering terjadi  di pesantren adalah gosob. Istilah ini adalah bagian dari santri yang bisa memakai barang santri lain tanpa ijin yang memilikinya. Barang-barang yang rawan dipakai oleh santri lain adalah pakaian, bantal, sarung, dan sandal jepit. Kebiasan ini merupakan anggapan dari santri satu dengan santri lainnya yang menyatakan telah merelakannya. Dengan demikian, hanya di pondoklah  terjadi dinamika ini yang menandakan kebersamaan di antara mereka.

Santri juga mengenal istilah ndalem. Tidak semua santri menjadi santri ndalem. Ndalem merupakan kediaman dari pengasuh atau kiyai. Tidak semua santri bisa masuk ke ndalem tersebut kecuali mereka yang mengabdi di dalamnya dan atau ada keperluan seperti dipanggil untuk ke ndalem karena keperluan terentu. Dengan demikian, snatri dan ndalem merupakan bagian terpenting dalam kehidupan sa tri.

Laku santri dalam kehidupan keseharian terkadang dengan growot. Kegiatan ini adalah tidak memakan makanan nasi atau sejenisnya. Tujuan atas kegiatan ini adalah untuk riyadhah atau perilaku khusus untuk mendekatkan kepasa Allah swt. Kegiatan ini dilakukan selaib dengan puasa wajib, mujahadah dan merupakan diperintah kiyai seperti mengamalkan dalalilul khairat. Dengan demikian, santri yang sudah mencapai derajat ini menjadi bagian santri yang senior dan memiliki aura yang sangat baik.

Kehidupan santri yang spesifik yang lainnya adalah gojlokan yang dalam istilah sekarang dikenal dengan bullying. Namun, adanya gojlokan ini merupakan bagian dari kemandirian dan keteguhan dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian, melalui ini menjadikan santri sebagai seorang yang tahan banting di segala situasi dan kondisi.

Santri juga harus melakukan setoran. Kegiatan ini dilakukan setiap hari setidaknya sehabis shalat shubuh atau maghrib dan isya’. Setoran ini antara lain baik berupa bacaan al-Qur’an bin Nadhar atau hafalan dan membaca kitab tertentu. Dengan demikian, setoran ini bagian terpenting bagi santri dalam mencari ilmu agama dna keberkahan kepada kiyainya.

Hal lain santri yang terkait erat dengan mengaji kitab kuning yaitu dengan melakukan bacaan kitan menggunakan makna dengan bahasa Jawa. Istikah yang dipakai adalah utawi-iku. Adanya istilah tersebut untuk menyederhanakan dan memudahkan memahami kata-kata bahasa Arab dalam kitab kuning atau kitab gundul. Dengan demikian, model membaca ini merupakan bagian dalam kehidupan santri dalam memahami kitab klasik atau kitab kuning dan gundul.

Istilah lain yang identik dengan santri adalah mayoran. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersamaan setelah kegiatan tertentu seperti khataman al-Qur’an secara bersama-sama. Santri akan bergembira setelah seminggu makan dengan lauk yang sederhana seperti makan dengan nasi dan sayur maka dengan mayoran maka makan yang dilakukan sudah ada ayam atau daging atau ikan sehingga makannya semakin nikmat. Beragam istilah di atas adalah menggambarkan kebersamaan sesama santri di pesantren.  Dengan demikian, menjadi santri dalam masa yang akan datang menjadi generasi yang tangguh.

Selain budaya di atas pesantren memiliki budaya yang unggul. Hal ini adalah terkait erat dengan kemandirian, solidaritas, kedisiplinan, kemampuan bahaaa, memaknai nilai kehidupan, hormat kiai dan senior, silaturrahim dan lebih paham agama. Beragam hal di atas merupakan hal yang penting dalam kepribadian santri yang menjadi dambaan masyarakat luas di era kekinian. Dengan demikian, melaui pesantren menjadikan seorang memiliki karakter yang lebih dibanding dengan pendidikan yang lain.

 

*Ketua Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga dan Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA)

 6,007 total views,  6 views today