Abd. Halim*

Setiap masing-masing dari kita menginginkan menjadi pribadi yang baik dalam segala hal, termasuk menjadi seseorang yang saleh. Di dalam doa setelah wudhu, kita biasa berdoa kepada Allah, jadikan kami sebagai hamba-hambaMu yang saleh, Allahummaj’alna min ‘ibadikas-Shalihin. Ini adalah bentuk usaha dari aspek ruhaniah untuk menjadi orang saleh.

Pada era sekarang, banyak pemuda-pemuda muslim yang memiliki semangat ‘hijrah’ dalam rangka menjadi pribadi yang saleh dalam pengamalan ajaran-ajaran Islam. Niatan semacam ini sangat bagus dan perlu disambut dengan riang gembira. Hanya saja, terkadang sikap semangat berhijrah hanya ditampilkan dengan perubahan busana dan penampilan.

Gerakan hijrah semakin masif terutama di media sosial. Ditambah lagi banyak artis yang mendeklalasikan diri kepada publik bahwa mereka telah hijrah. Hal ini menarik kalangan muda untuk ikut berhijrah sehingga banyak komunitas hijrah bermunculan semisal Pemuda Hijrah, Hijrah Squad, muslimah hijrah, hijrah cinta dan yang lainnya. Sekali lagi, ini adalah hal bagus dan patut kita dukung.

Namun, ada hal lain yang perlu menjadi perhatian kita semua jika ingin berhijrah menjadi pribadi yang saleh. Kita harus hati-hati menjaga hati agar tidak terjatuh pada perasaan telah menjadi orang yang benar-benar berhijrah dan menganggap orang lain yang tidak mengikuti jalan seperti dirinya tidak berhijrah.

Ada pesan yang sangat dalam yang disampaikan oleh Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakadari tentang bagaimana seharusnya bersikap dan memandang diri sendiri dalam proses perjalanan (hijrah) menuju pribadi yang saleh. Dalam sebuah maqalahnya, ia menyatakan,

معصية أورثت ذلاّ وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا

Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu sehingga kamu menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan diri.

Perkataan Ibnu Athaillah ini bukan berarti bahwa maksiat lebih baik daripada taat. Tetapi titik tekannya adalah pada sikap yang lahir setelah melakukan amal perbuatan baik maupun buruk. Hina dan butuh kepada Allah adalah sifat menghamba. Sedangkan merasa mulia dan agung itu adalah sifat Tuhan. Sehingga tidak ada kebaikan dalam taat yang menimbulkan merasa muali dan agung.

Tawadhu’nya orang bermaksiat dan perasaan hina dan merasa takut kepada Allah itu lebih baik daripada takabburnya orang ‘alim atau orang yang ahli ibadah.

Ada sebuah kisah yang sangat bagus untuk menggambarkan kondisi ini dalam buku Syarah al-Hikam karya K.H. Saleh Darat.

Alkisah, terdapat lelaki dari kaum bani Israil yang dijuluki Khali’, yakni seseorang yang gemar berbuat maksiat yang besar. Suatu ketika, ia bertemu dengan ‘abid dari Bani Israil, yakni orang yang ahli ketaatan yang di kepalanya selalu terdapat payung mika. Kemudian, Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat. Sedangkan ini adalah ‘abidnya Bani Irail. Lebih baik aku bersanding dengannya agar Allah memberikan rahmat kepadaku.”
Sedangkan ‘abid bergumam dalam hatinya, “Aku adalah seorang ‘abid yang alim sedangkan ini adalah seorang khali’ yang gemar bermaksiat. Pantaskah aku duduk dengannya?” lalu, si ‘abid serta merta menendang si Khali’. Lantas, Allah menurunkan wahyu kepada Nabinya Bani Israil dengan firmanNya, “Perintahkan dua orang ini yakni ‘abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, aku benar-benar telah mengampuni dosa khali’ dan merusak amal si ‘abid.” Maka berpindahlah payung tersebut pada khali’.

Kisah ini mengajarkan kepada kita betapa perasaan tawadhu’ yakni rendah hati di hadapan Allah akan menghapus dosa, sedangkan perasaan takabbur dan sombong akan menghilangkan kebaikan. Dalam sebuah kesempatan, Gusmus berkata kira-kira seperti ini, “Saya lebih baik shalat kesiangan dan merasa bersalah di hadapan Allah ketimbang beribadah semalam suntuk lantas merasa mulia dan sombong.” Maka, pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini seperti tertera dalam judul, Ingin jadi saleh itu bagus, tetapi merasa saleh, jangan! Semoga bermanfaaat!

 1,661 total views,  2 views today