Baru dua minggu memasuki tahun 2021, kita terus dikagetkan dengan berita duka. Silih berganti para jurnalis memberikan kabar yang membuat hati ini menangis. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya, kepulangan para tokoh bangsa dan agama, hingga bencana alam yang tiada akhirnya.

Setidaknya ada tiga bencanayang saat ini melanda sebagian saudara-saudara kita. Ada banjir di Kalimantan Selatan, gempa di Sulawesi Barat dan erupsi merapi di Yogyakarta. Belum lagi musibah “kecil” yang mungkin luput diberitakan media.

Dengan duka yang mendalam, kita patut bersedih dan juga berdoa semoga musibah ini segera diangkat oleh Allah Swt. Sembari melakukan itu semua, kita juga patut bermuhasabah. Musibah yang terjadi tentu bukan karena kesalahan satu oknum saja. Biasanya ketika ada bencana, kita terburu-buru menunjuk satu kelompok yang dianggap sebagai pengundang malapetaka tersebut.

Alih-alih menunjuk yang lain, lebih bijak kiranya jika kita menunjuk diri sendiri, apa yang salah dari kita? Bisa jadi, musibah yang terus menimpa negeri ini adalah akumulasi dari banyaknya pelanggaran yang kita lakukan secara “berjamaah”. Entah itu keserakahan dan kerakusan dalam mengelola alam, korupsi yang tak pandang jabatan, hingga kesombongan yang mungkin pernah terbersit dalam hati, merasa paling benar sendiri.

Dalam Al-Quran Surat Al-Nahl ayat 112, Allah Swt memberikan perumpamaan tentang suatu negeri yang dulunya aman dan tenteram, melimpah rezeki, gemah ripah loh jinawi, kemudian Allah berikan ketakutan dan kelaparan, karena masyarakatnya mengingkari nikmat-nikmat Allah.Berdasarkan ayat tersebut, kita hubungkan dengan kondisi yang terjadi saat ini. Boleh jadi musibah-musibah ini adalah peringatan dari Allah, karena kita sudah lupa bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah.

Berkaitan dengan nikmat, ada yang menarik dari penafsiran kalimat bismillah al-rahman al-rahim. Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud kata al-rahman mengacu pada Sang Pemberi nikmat yang besar-besar. Sedangkan kata al-rahim berarti Sang Pemberi nikmat yang kecil, halus, yang tidak terasa, kecuali ketika nikmat itu hilang.

Misalnya kita berkedip ribuan kali sehari tanpa memikirkannya. Namun, ada orang yang membutuhkan pelumas buatan karena kalenjer air mata mereka tidak berfungsi. Setiap detik kita bernafas secara bebas, tapi tidak sedikit saudara-saudara kita saat ini yang kesulitan bernafas, harus dibantu dengan alat pernapasan dengan biaya yang besar. Dan masih banyak nikmat-nikmat kehidupan lainnya.

Alkisah, Khalifah Harun al-Rasyid pernah meminta nasihat kepada Ibn al-Sammak, “Berilah aku nasihat”. Ibn al-Sammak pun berkata, “Jika Tuan ditakdirkan tidak bisa minum minuman ini, maukah Tuan menebusnya dengan kerajaan Tuan?”“Ya”, jawab Khalifah.

“Jika Tuan ditakdirkan tidak bisa buang air, maukah Tuan menebusnya dengan kerajaan Tuan?” “Ya”, jawab Khalifah lagi. “Sungguh nilai kekuasaan dan kerajaan itu tidak jauh lebih rendah daripada nikmat minum dan buang air”.

Ungkapan Ibn al-Sammak ini mengajarkan kita betapa banyak nikmat yang selama ini tidak kita syukuri. Terlebih di situasi saat ini, di mana pandemi covid semakin menjadi-jadi. Bagi kita yang masih diberikan kesehatan, kekuatan dan kesempatan untuk beribadah, ini semua adalah nikmat agung yang diberikan kepada kita.

Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur kita, selain mengucapkan tahmid, kita juga perlu menunjukkannya dengan aksi nyata. Syukur dengan perbuatan ini sebagaimana yang dititahkan Al-Quran kepada Nabi Daud dalam Surat Saba’ ayat 13:

…ۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

…Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Ayat tersebut menegaskan kepada Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman untuk bekerja sebagai tanda syukur atas nikmat yang tiada tara dari Allah Swt. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw:Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (HR. Tirmidzi).

Hadis Nabi ini mengajarkan kepada kita bahwa salah satu bentuk rasa syukur adalah dengan menggunakan nikmat yang ada untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah. Dengan kesehatan yang ada, kita gunakan untuk beribadah. Dengan kekayaan yang melimpah, kita salurkan untuk membantu orang-orang yang papa tak berdaya. Dengan semangat kemanusiaan, insya Allah kita bisa melewati semua ujian ini. kuncinya satu: jangan kufur nikmat.Wallahu a’lam bish shawwab.