Nitizen memang tak pernah mati gaya. Di media sosial terutama Facebook, dijumpai ide yang disampaikan menggunakan satu meme yang ingin menunjukkan, bahwa Covid-19 telah banyak menyebabkan kematian, maka dari itu, harap segera dibalas dengan banyak kelahiran. Tentu saja, banyaknya kelahiran ini terlebih dahulu harus melalui proses panjang yang melibatkan dua anak manusia dewasa yang subur dan berbeda alat reproduksi, juga kesempatan, dan tentu saja viagra, jamu kuat atau apapun itu bagi yang memiliki masalah dengan vitalitas.

Sedangkan satu meme yang lain tampak sangat vulgar, ide dalam meme itu berupa ilustrasi dua orang berbeda jenis kelamin yang tengah melakukan hubungan badan, pada sebelum dan setelah merebaknya Covid-I9. Jika sebelum merebaknya pandemi Covid-19, dua orang berbeda jenis terbiasa melakukan hubungan seksual dengan posisi misionaris, sebuah posisi yang rasanya paling kuno dalam sejarah dunia hubungan intim umat manusia, posisi yang sangat terbuka dalam memberikan kesempatan kedua pasangan untuk saling mencium, memandang dan menyentuh antara laki-laki dan perempuan. Setelah menyebarnya Covid-19, dalam meme itu kemudian dianjurkan, untuk membiasakan diri pada posisi persetubuhan dengan gaya doggy style, yang dalam praktiknya sangat miskin saling pandang, ciuman dan sentuhan, kecuali dua khitan yang berbeda bentuk dan memang merupakan orientasi utama.

Pada intinya, imbauan untuk tidak keluar rumah di tengah pandemi Corona diyikini akan berdampak serius pada hubungan intim yang akan meningkat di tengah masyarakat. Karena memang, manusia sehat, ketika sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi di dunia ini, biasanya mereka akan hibernasi dan melakukan perbuatan yang diinginkan salah satunya berhubungan badan.

Di tengah-tengah masyarakat kita hari ini, meme-meme sejenis itu banyak disebar, dan tentu saja tidak berangkat dari ruang kosong melompong, tapi dari selera dan tradisi humor yang berangkat dari watak realitas sosial.

Barangkali, jika dihubung-hubungan dengan kata dalam bahasa Arab yang berkaitan dengan ritual keislaman, pandemi Covid-19 sepertinya memiliki masalah yang serius dengan istilah-istilah yang secara bahasa mengandung tiga huruf Hijaiah, yaitu jim, mim dan ain (جمع) yang bermakna ‘berkumpul’. Bagaimana Covid-19 memiliki masalah dengan jumat dan jamaah, baik salat jamaah atau Jamaah Tabligh, dua terminologi yang secara bahasa sama-sama mengandung huruf jim, mim dan ain. Tentu saja, semua itu dipahami secara kebetulan dan mengalami cocoklogi yang keterlaluan.

Sebagai seorang yang bukan ahli di bidang virus, saya sendiri memiliki keyakinan, kalau Covid-19 juga bermasalah dari segi penyebaran dengan hubungan seksual, yang dalam bahasa Arab klasik disebut dengan jimak (جماع). Jimak yang juga mengandung huruf jim, mim dan ain.
Dan tentu saja, kalau konteks Covid-19 hari ini ketika sedang menguatnya politik identitas sebelum dan setelah Pemilihan Umum Presiden 2019 yang lalu, tentu yang akan bermasalah besar dengan Covid-19 adalah kegiatan politik Ijtimak Ulama (اجتماع), yang juga mengandung huruf jim, mim dan ain. Beberapa agenda yang selalu disponsori oleh kelompok ideologi tertentu.

Lalu bagaimana dengan hukum berjimak di tengah pandemi Covid-19 saat ini?

Tentu saja hukumnya boleh, bagi pasangan yang sah secara syariat dan tidak memiliki riwayat penyakit menular, tapi memang sebaiknya dikurangi atau bahkan ditinggal untuk sementara waktu.

Dalam kitab Qurratul ‘Uyun karya Abi Muhammad al-Tuhami al-Idrisi al-Hasani, kitab komentar atas nazam Abi Muhammad Sayyidi Qadim bin Ahmad bin Musa bin Yamun. Kitab Qurratul ‘Uyun, sebuah tulisan yang secara khusus membahas tentang perkawinan yang sesuai dengan panduan syariat Islam, sekaligus tata krama dalam melakukan hubungan intim, sebuah kitab legendaris dalam lingkaran Islam tradisional, yang dalam cetakan Maktabah al-Utsmaniyah Kediri Jawa Timur, pada halaman 49 dijumpai keterangan:

قلل من الجماع فى المصيف * وحالة الامراض والخريف

Artinya; kurangilah berjimak ketika awal musim dingin, dalam situasi sakit, juga ketika musim sedang sangat panas.

Syair di atas sangat menarik, karena hubungan seksual dikaitkan dengan faktor klimatologis, bagaimana cuaca-cuaca tertentu tidak selamanya baik bagi suatu hubungan badan. Penulis kitab Qurratul ‘Uyun merujuk kepada Imam ar-Razi yang berkata, bahwa berjimak harus ditinggalkan sepenuhnya di tengah buruknya cuaca dan menyebarnya epidemi dan pandemi. Barangkali seperti Covid-19 saat ini.

 1,758 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini