Di era sekarang, nilai kesantunan dalam bertindak tutur atau  berkomunikasi sudah memudar. Komunikasi melalui media, khususnya gadged telah mengembangkan fungsi sosial, teknis, dan komunikatifnya dalam kehidupan sehari – hari manusia. Saat ini, hampir di semua aspek kehidupan manusia yang terjadi dipengaruhi oleh komunikasi melalui ponsel. Meskipun ponsel pada awalnya dikembangkan untuk tujuan lisan, tetapi dalam pengaplikasiannya ponsel juga digunakan untuk tujuan tertulis, seperti berbagi pengetahuan, pengalaman, dan berbisnis melalui media sosial.

Bermula dari media sosial Geocities, sixdegree.com, blogger, Friendster, Myspace, Google Plus, linked in, facebook, twitter, dan instagram (www.bigcommerce.com), memicu banyak perubahan manusia dalam bersosialisasi. Hal ini sesuai dengan tujuan awal yaitu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di seluruh dunia dan untuk mencari teman baru, pasangan hidup, berbisnis, bahkan berpolitik. Dalam perkembangannya, orang yang berkomunikasi melalui media sosial sering mengabaikan nilai – nilai kesopanan atau kesantunan berbahasa.

Dalam berkomunikasi, seseorang perlu mengaplikasikan penggunaan bahasa dengan baik.  Bahasa digunakan untuk mencari informasi ataupun memberikan informasi kepada orang lain. Media sosial menjadi salah satu media atau alat yang digunakan untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Namun, sayangnya facebook dan instagram sangat rentan terhadap penyebaran berita hoaks atau berita bohong. Kita sebagai generasi muda seharusnya dapat memilah mana informasi yang benar dan tidak dengan mem-filter terlebih dahulu informasi yang kita dapat sebelum membagikannya ke teman yang lain.

Dalam hal ini, kesantunan sangat diperlukan dalam berkomunikasi dengan orang lain, terutama kesantunan dalam bermedia sosial. Kenapa kesantunan? karena saat ini nilai kesantunan dalam berkomunikasi sudah mulai memudar. Orang-orang lebih suka menyebar berita  tidak benar/ hoax melalui dan ujaran kebencian di media sosial. Sebagai contoh, kasus Body Shaming yang menimpa Dian Nitami, istri Anjasmara. Sebuah akun instagram @corissa.putrie berkomentar tidak sopan kepada Dian nitami. @corissa putrie mengatakan bahwa Dian Nitami memiliki hidung yang jelang “Melar banget, jempol kaki juga bisa masuk”, selain berkomentar tidak baik, akun tersebut juga menyarankan agar Dian Nitami melakukan operasi, “ katanya artis, masa buat perbaiki hidung tidak ada duit, waduh”.

Kasus diatas menimbulkan sedikit kegaduhan meskipun hanya lewat media sosial. Terbukti bahwa setelah kejadian itu, akun yang melakukan body shaming dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan pada 2 Januari 2019. (Sumber: Tempo.co)

Selain itu, kepolisian daerah Jawa Timur dengan tim cyber Polda Jawa timur membongkar 32 akun media sosial penyebar berita bohong terkait pilpres 2019. Salah satunya yaitu berita mengenai puluhan juta warga Tiongkok masuk dalam daftar pemilih tetap pemilu 2019 (Sumber: www.beritasatu.com).

Kasus-kasus di atas menjadi pembelajaran bagi kita agar selalu menerapkan sikap santun dalam segala situasi apapun, terutama dalam bermedia sosial. Sebelum membagikan informasi, alangkah lebih baik jika kita cermati dan telaah informasi terlebih dahulu. Setelah itu, cari sumbernya dan saring informasi terlebih dahulu, apakah informasi mengandung isu SARA ujaran kebencian lainnya. Jika ada informasi yang belum jelas sumbernya, jangan dibagikan karena saat ini banyak dari kita yang tidak sadar dan diperdaya oleh informasi yang belum jelas. Sehingga membuat kita semua mudah untuk membenci satu dengan yang lainnya. Mari berisikap santun dalam bermedsos!

 

 

 4,120 kali dilihat,  8 kali dilihat hari ini