Sebagaimana anak muda lainnya, al-Būtī (muda) juga mengalami apa yang disebut oleh anak milenial era sekarang, yaitu perasaan “galau”. Ya, al-Būtī pernah mengalami hal itu. Kapan? Tepatnya, setelah al-Būtī lulus madrasah Ibtidāiyah. Hal itu disebabkan keputusan sang ayah, Syeikh Mullā untuk mengirim dirinya ke salah satu ma’had di Damaskus, Ma’had al-Taujīh al-Islāmī di bawah asuhan Syeikh Hasan Habannakah al-Maidanī.

Sang ayah sengaja ingin memasukkan al-Būtī ke ma’had karena beliau ingin anaknya belajar ilmu agama. Akan tetapi, hati kecil al-Būtī ingin melanjutkan studinya di sekolah-sekolah negeri seperti teman-temannya yang lain.

Tidak heran, al-Būtī pun merasa “minder” dengan pilihan sang ayah. Apalagi al-Būtī seringkali dibully sama teman-temannya karena memilih untuk belajar ilmu agama di ma’had. Bukan belajar di sekolah formal yang menjanjikan masa depan yang lebih cerah.

“Apa gunanya belajar ilmu agama terlalu dalam di ma’had, paling juga nanti jadi tukang azan atau tukang mengurus jenazah?” begitu bully-an teman-teman al-Buti setiap kali bertemu. Al-Būtī pun belum mantap dengan pilihan ayahnya, Syeikh Mullā. Hingga akhirnya sang ayah pun memberi penjelasan alasan memondokkan al-Būtī. Nasihat ayah al-Būtī inilah yang mengubah segalanya. Berikut nasihanya:

“Wahai anakku, sungguh andai aku tahu bahwa jalan menuju ridha Allah itu tersembunyi di balik kotoran sampah di pinggir-pinggir jalan, niscaya akan aku jadikan engkau tukang sampahnya. Akan tetapi, aku tahu bahwa untuk bisa sampai kepada ridha Allah yaitu dengan ilmu dan berpegang teguh pada agama Allah.” ujar sang ayah, Syeikh Mullā.

Syeikh Mulla pun melanjutkan nasihatnya. Beliau berkata: “Oleh karena itu, aku bertekad dan menjadi harapan satu-satunya bagiku, untuk menjadikan engkau orang yang berilmu dan berpegang teguh pada ajaran agama Allah.” lanjut Syeikh Mullā.

“Maka, berjanjilah padaku, Anakku! Selama kamu belajar, jangan pernah berniat untuk mencari jabatan, pekerjaan, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi semata. Tapi, niatkan belajarmu untuk membela agama Allah.” pungkas Syeikh Mullā.

Sementara itu, untuk mengusir “galau” dan tasywīsy (bisikan negatif dari setan) yang dialami al-Būtī atas bully-an teman-temannya, al-Būtī diberikan saran oleh ayahnya untuk mengamalkan bacaan Q.S. Yasin setiap pagi dan sore secara istikamah. Dan, pahala bacaannya dihadiahkan kepada Rasulullah dan para auliyā shalihīn.

Foto dokumen penulis
Ket: Foto “hitam-putih” di dalam gambar ini adalah foto muda al-Buti dan ayahnya, Syeikh Mulla Ramadhan di tahun 60-an.

Benar, akhirnya ada kemantapan hati dalam diri al-Buti untuk belajar di ma’had. Bertahun-tahun al-Buti mengenyam pendidikan agama di ma’had di bawah bimbingan langsung oleh Syekh Hasan Habnnakah dan Syeikh Mahmūd Maradinī. Dalam beberapa kesempatan, al-Būtī berkisah bahwa amalan itu tidak pernah ditinggalkan hingga berhasil menjadi sosok ulama rabbani yang disegani.

Al-Būtī mengakui, nasihat ayahnya sungguh menjadi titik balik bagi dirinya. Dalam hidup al-Būtī, nasihat dan arahan sang ayah adalah segala-galanya. Bahkan, kunci sukses al-Būtī tidak lain adalah sikap berbakti kepada orang tuanya itu sendiri. Begitu pengakuan al-Būtī dalam bukunya

Buku Hādzā Wālidī yang merupakan biografi ayahnya yang al-Būtī tulis adalah bukti bagaimana sikap al-Būtī kepada orang tuanya. Semua keputusan penting dalam hidup al-Būtī selalu melibatkan ayahnya, Syeikh Mullā. Bahkan, dalam hal-hal “remeh” yang bersifat pribadi sekalipun. Tak heran, jika sosok ayah menjadi rule model yang paling berpengaruh dalam karir akademis al-Būtī di masa-masa berikutnya.[] Wallāhu a’lam.

Rabu bakda Subuh, 29 Juli 2020

 248 total views,  14 views today