Membaca tulisan Habib Ali al-Jufri (HAJ) pada saat dunia Islam sedang mengecam pernyataan Presiden Prancis menjelaskan satu hal, kita butuh banyak sosok seperti beliau. Di saat banyak kubu-kubu yang saling bertengkar, sang habib hadir membawa gagasan untuk saling berjumpa.

Saat ini kita melihat sebagian kalangan mendukung kebebasan berekspresi termasuk dengan “menghina” simbol keagamaan yang diimani oleh komunitas tertentu.

Di satu sisi, beberapa individu umat Islam di Prancis merespons tanggapan tersebut dengan melakukan kekerasan, bahkan membunuh oknum-oknum yang dinilai telah melecehkan Nabi Muhammad. Sampai di sini, ada dua sisi yang saling berseberangan; pembenci dan pengagum buta.

Nah, menyikapi dua kubu inilah HAJ hadir dan menuliskan pemikirannya. Tulisan tersebut kemudian dibukukan dengan judul Al-Insaniyyah Qabla al-Tadayyun”, “Humanity Before Religiosity”, “Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan”. Judulnya merefleksikan kegelisahan HAJ melihat fenomena keberagamaan kita saat ini.

Persis, kita sering mengutamakan keberagamaan dibanding kemanusiaan. Identitas keberagamaan kita jauh lebih kuat daripada rasa kemanusiaan. Hal ini menyebabkan kita sering menggunakan standar ganda dalam melihat satu fenomena. Ketika agama dinista, kita cepat bersikap. Tetapi, pada saat yang lain, kita menjadi penista ajaran sang liyan. Tepatnya sensitivitas keagamaan kita lebih tinggi ketimbang rasa kemanusiaan.

Lantas, kembali pada kasus “penghinaan” kepada Nabi Muhammad, apa yang bisa kita lakukan? Dalam buku tersebut, HAJ menghadirkan satu tulisan yang berjudul “Kami Tidak Menoleransi Penghinaan Terhadap Rasulullah”. Membaca judulnya seolah melegitimasi sikap kekerasan terhadap non-Muslim yang terjadi di Prancis.

Tetapi, apakah yang dimaksud dengan “penghinaan” dalam artikel tersebut? Justru dalam tulisan itu beliau mengkritik sebagian “ulama” yang berdakwah dengan gaya menakutkan, mengancam dan memaksa. Dakwah semacam itulah yang menurut beliau “menghina” Rasul. HAJ menegaskan:

“Apakah kita telah terjatuh sedemikian rendah sehingga berusaha menjustifikasi kesalahan dan membela perilaku buruk kita dengan mempersandingkannya dengan Nabi Muhammad saw yang mulia beserta ajaran-ajarannya? Ada lusinan ayat Al-Quran dan Hadis serta peristiwa dalam sirah Nabi yang menegaskan agar kita menjunjung tinggi akhlak”.

Dengan demikian, jelas bahwa penghinaan terbesar kepada Nabi Muhammad justru berasal dari umat beliau yang mengatasnamakan Nabi untuk kepentingan pribadi. Kita mengaku cinta kepada beliau, tetapi enggan mengikuti akhlaknya yang luhur kepada sesama.

Namun, tetap saja pembuatan karikatur dan film Nabi Muhammad juga merupakan bentuk penghinaan. Sebagai muslim, adalah hal yang wajar jika kita marah dengan hal tersebut. Itulah yang dinamakan ghirah.

Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, “Apabila ghirah telah tiada, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan antarkan ke kuburan”.

Pentingnya ghirah atau kecintaan kepada Islam ini jugalah yang membuat HAJ mengajak kita untuk berefleksi. Alih-alih mengutuk sang penghina, itu tidak akan menyelesaikan masalah. HAJ menyuruh kita untuk muhasabah al-nafs, introspeksi diri, apa kesalahan kita selama ini dalam berdakwah sehingga orang di luar Islam menganggap agama ini dengan citra yang buruk.

Boleh jadi selama ini kita cenderung tertutup dan tidak mau berdialog dengan identitas kemanusiaan yang beragam. Alhasil, banyak orang di luar sana yang belum mengenal Islam secara tepat. Inilah tugas kita sebagai seorang muslim, yaitu menjadi agen damai bagi semesta.

HAJ juga mengkritik kondisi umat Islam saat ini yang sedang mengalami krisis dan konflik. Lihat saja kondisi Timur Tengah yang saling berperang satu sama lain karena perbedaan politik. Sesama muslim tapi saling menegasikan. Bagaimana kemajuan dan peradaban mau lahir dari kondisi umat yang seperti ini.

Autokritik yang dilakukan oleh HAJ sejatinya penting untuk kita renungkan. Sering kali kita sibuk mengkritik komunitas lain, sehingga lupa dengan kealpaan diri. Padahal, boleh jadi individu yang dikritik lebih baik daripada yang mengkritik.

Perlu ditekankan bahwa HAJ tidak hanya mengkritik kondisi umat Islam. Beliau juga mengkritik bobroknya modernitas di tengah hegemoni sekularisme, kapitalisme, liberalisme, dan ideologi-ideologi lainnya.

Namun, tentu saja porsinya tidak sebesar kritik beliau terhadap umat Islam. Sebab, beliau sebagai seorang muslim tentu berkewajiban menyampaikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.

Selain itu, kritik beliau juga harus dipahami sebagai rasa cintanya kepada ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Beliau sedih jika ajaran mulia sang Nabi “dibelokkan” oleh oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan agama.

Satu hal yang menarik dari kritik-kritik yang disampaikan oleh HAJ adalah beliau mengkritik, bukan mencaci. “Kritik itu konstruktif, sedangkan mencaci itu destruktif,” demikian tegasnya.

Bahkan dengan keluasan dan keterbukaan, beliau mencantumkan beberapa tulisan yang mengkritik pemikirannya, kemudian direspons kembali dalam tulisan berikutnya. Tradisi ini yang hilang dari dunia digital saat ini, minus kritik, surplus kebencian.

Secara umum, ada banyak persoalan yang dibahas dalam buku tersebut. Setidaknya beliau membagi pembahasan ke dalam beberapa topik, yaitu (1) Kritik Diri; (2) Kritik untuk Dakwah Islami; (3) Kaum Muda; (4) Konsep-Konsep; (5) Tentang Takfir; (6) Menemukan Keseimbangan; (7) Kepada Kaum Elite Intelektual; dan (8) Nabi Kita Muhammad.

Satu pembahasan dibahas dalam tulisan ringkas, tetapi tetap cadas dan bernas. Hampir di setiap pembahasan beliau mengajak kita untuk bertanya dan mengkritisi hal-hal yang selama ini mungkin tidak terpikirkan. Kemudian yang menjadi karakteristik dari tulisan beliau adalah selalu diakhiri dengan seuntai doa kepada Ilahi Rabbi. Pada akhirnya kita hanyalah manusia lemah di hadapan Sang Pencipta. Lantas mengapa kita begitu sombong dalam beragama?

Membaca tulisan demi tulisan beliau membawa penulis untuk bertanya, sudah sejauh mana kita beragama yang memanusiakan manusia? Duhai Nabi, kami rindu dengan akhlakmu yang mempesona. Duh Gusti, berikan kami kekuatan untuk bisa mengikuti jejak langkah kekasih-Mu, al-Musthafa.

“Seseorang bisa jadi mengira imannya sudah kuat, namun jika ia mengabaikan hubungan kemanusiaan, kesucian hidup manusia dan kesejahteraan masyarakat, maka keimanannya dibangun di tepi jurang yang runtuh dan mudah roboh saat terkena cobaan” (Habib Ali al-Jufri)

 

Informasi Buku

Judul              : Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

Penulis          : Habib Ali al-Jufri

Penerbit        : Noura Books

Penerjemah : Pura Nugroho

Cetak             : 2020

Tebal              : 371 halaman

ISBN               : 9 786232 420748

 

 58 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini