Islamsantun.org. Alhamdulillah puji syukur atas segala nikmat yang terlimpah dalam perjalanan hidup ini, semoga menjadi wasilah meraih ridho Allah Swt

Shalawat dan salam Semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan Agung Teladan Kita Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang menginspirasi ajarannya untuk meraih kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Dengan meneladani ajarannya dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari itu menjadi Kunci keberhasilan. Laqod Kana lakum Fi rasulillahi Uswatun Hasanah telah nampak suri teladan yang agung pada kepribadian Rasulullah Muhammad Shallallahu salam.

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merupakan satu-satunya jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga dengan keimanan dan ketakwaan kita yang terus kita perbarui akan menjadi benteng moral dalam setiap masalah yang kita hadapi.

Hadirin jamaah yang berbahagia

Perjalanan hidup kita terus bertambah jumlah waktunya, tapi semakin berkurang kesempatan untuk memperbaiki kesalahan diri. Manusia sebagai makhluk yang penuh masalah silih berganti masalah menghampiri dirinya dituntut selalu mencari solusi terbaik.

Kita bisa belajar dari kegagalan kaum terdahulu sebagaimana dilukiskan secara jelas dalam living Hadis maupun Al Qur’an

Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

قَالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

“Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?””

(QS. Ghafir 40: Ayat 11)

Saat ini kita hidup yang pertama di dunia saat ini saat berkaya, saat beramal dengan kebaikan maupun kejahatan, kadang kita bisa nikmati hasil berbuatan merasakan bahagia merasakan ketakutan akan bayangan kemaksiatan maupun kejahatan yang kita lakukan. Ada balasan yang ditangguhkan kelak di akhirat secara sempurna mendapatkan imbalan setimpal tanpa didhalimi sedikit pun.

Allah Swt berfirman di Surat Ghafir Ayat 31

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗوَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ

“(yakni) seperti kebiasaan kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang yang datang setelah mereka. Padahal Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.”

Tafsir QS. Ghafir 40: Ayat 31 sebagai berikut: Yakni seperti kebiasaan kaum Nuh yang ditenggelamkan banjir besar, kaum Ad yang dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, kaum Samud yang dimusnahkan dengan gempa bumi yang dahsyat, dan orang-orang atau umat yang datang setelah mereka. Padahal Allah tidak menghendaki terjadi kezaliman sedikit pun terhadap hamba-hamba-Nya.” Ghafir Ayat 32. Orang yang beriman itu melanjutkan penjelasannya, “Dan sadarilah, wahai kaumku! Sesungguhnya aku benar-benar khawatir terhadapmu akan siksaan yang akan diturunkan pada hari saling memanggil, yakni ketika setiap orang berteriak meminta tolong.

Balasan yang diberikan kepada semua hamba-hamba tanpa terdhalimi sedikitpun sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

اَلْيَوْمَ تُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ ۗ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini, setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir 40: Ayat 17).

Sejarah akan terulang kembali apabila sunnatullah nya tercapai sebagaimana peristiwa dulu terjadi, sekalipun aktor-aktor pelakunya berbeda dari zaman ke zaman, tetapi nilai-nilai historisnya terus berada ada mempunyai kesamaan. Sehingga sejarah bisa kembali terulang. Oleh karena itu generasi saat ini merujuk dan belajar dari fenomena sejarah yang telah terjadi pada waktu yang lalu. Sejarah menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi yang akan datang agar kebaikannya terus dikembangkan kan dan keburukan yang terjadi menjadi pelajaran untuk diambil hikmah menghindari dan memperbaiki diri agar lebih baik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:

۞ اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ كَانُوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَانُوْا هُمْ اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاٰثَارًا فِى الْاَرْضِ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗوَمَا كَانَ لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ وَّاقٍ

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.” (QS. Ghafir 40: Ayat 21)

Marilah kita mohon kepada Allah Swt dengan segenap kemampuan untuk melakukan berbagai aktivitas kreativitas kehidupan yang lebih baik.

Allah Swt selalu menepati janjinya secara sempurna. Baik dan buruk perbuatan manusia semuanya mendapatkan balasan setimpal dengan amalnya masing-masing.

Maka hendaklah kita berujar untuk diri sendiri maupun kepada orang lain dengan kata-kata yang baik. Karena sejarah bisa terulang kembali sesuai sunatullahnya.