Seorang ustaz yang beraliran Salafi Wahabi di media sosial sedang memberi ceramah kemudian meledek lingkaran Muslim tradisionalis dengan menyebut mereka sebagai “tukang ganyem”, atau tukang menguyah makanan.

Jika memang benar ledekan itu ditujukan kepada kalangan pesantren tradisional, tampaknya tuduhan itu memang benar adanya. Dalam tradisi pesantren tradisional memang dipenuhi oleh upacara yang tidak terpisahkan dari tradisi makan bersama. Jika Nahdlatul Ulama sebagai representasi lingkaran Muslim tradisional terbesar di Indonesia, maka tradisi makan adalah tradisi NU juga.

Komedian Cak Lontong beberapa tahun lalu pernah melemparkan kelakar di kantor PBNU dalam rangka peringatan hari lahir NU. Menurut Cak Lontong, orang tuanya selalu mengajarkan kepadanya untuk selalu mencari tempat tinggal yang didominasi oleh warga NU, selain keakraban masyarakat, secara ekonomi keluarganya sangat terbantu oleh lingkungan NU.

Kalau di kampung warga NU itu ada satu orang saja yang meninggal dunia, maka selama tujuh hari makan malam aman. Kelakar Cak Lontong yang ketika itu sedang didampingi komedian Insan Nur Akbar membuat para hadirin tertawa terpingkal-pingkal, termasuk para pengurus PBNU.

Ciri-ciri masyarakat perkotaan adalah individualisme dan materialisme, ciri yang juga mengalir dalam masyarakat Muslim perkotaan dewasa ini. Di tengah mereka lalu bermunculan para ustaz yang membawa ajaran bersedekah yang sangat materialistik dan matematis, bersedekah seribu akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh ribu, bersedekah sepuluh ribu akan dibalas seratus ribu, bersedekah seratus ribu akan diganti satu juta, orang sakit bersedekah langsung sembuh.

Kira-kira seperti itulah ajaran yang dilancarkan para ustaz kota dalam kehidupan Muslim di perkotaan, yang tampaknya akan kesulitan bersedekah jika tidak ditawarkan konsep materialisme balasan sedekah.

Payahnya, konsep matematika sedekah ini adalah, banyak Muslim yang kemudian lupa bahwa balasan dari Allah (jaza’) tidak melulu berupa balasan materi dan fisik, tapi juga berupa balasan dalam alam ruh, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Sedangkan keyakinan Muslim tradisionalis mengenai sedekah sebaliknya, sangat eskatologis, bagaimana di mimbar mimbar pengajian, para kiai sering bercerita tentang mayit di alam kubur yang selamat dari siksa kubur sebab ditangkis oleh wajik ketan, kue cucur, rengginang dan lain sebagainya yang disedekahkan oleh keluarganya.

Cerita mistik semacam itu tentu berangkat dari tradisi bersedekah untuk arwah orang yang telah meninggal dunia. Dalam sistem kepercayaan Muslim tradisional, belasan sedekah sering immaterial berbeda dengan Muslim perkotaan yang material.

Selain tradisi berdoa, tradisi Muslim tradisional di Nusantara adalah tradisi makan atau slametan yang menurut Agus Sunyoto, Nusantara dalam sejarahnya merupakan lumbung makanan yang sangat besar, sehingga masyarakatnya selalu merasa perlu untuk saling berbagi makanan.

Dewasa ini, dalam lingkaran Muslim tradisional, tradisi makan merupakan circle sosial-keagamaan yang tak pernah berakhir. Seorang Muslim tradisionalis terutama di desa harus menghadapi makan malam Jum’at di acara Yasinan, tahlil kematian, peringatan empat puluh hari, seratus hari, seribu hari, haul, slametan kandungan empat bulan, tingkeban, aqiqah, sunatan, kawinan, tasyakuran rumah baru, slametan berangkat dan pulang haji, maulidan dan ritus-ritus yang lainnya yang menempatkan kiai sebagai sosok sentral dalam upacara.

Di acara-acara ini, kiai juga dituntut untuk selalu makan. Jamuan untuk para kiai selalu lebih spesial, karena datang dari para santri-santrinya yang sedang mengharap berkah gurunya.

Di meja makan para kiai ada rendang dengan santan yang kental, sate dan gule kambing penuh genangan kolestrol, kikil, cingur, jeroan yang kesemuanya adalah sahabat asam urat.

Dalam situasi seperti itulah posisi seorang kiai sangat dilematik, di sisi lain seorang kiai selalu dituntut untuk membahagiakan sahibul hajat dengan menyantap dengan lahap hidangan yang disuguhkan (idkhal al-surul ala qalbi al-mukmin).

Sampai-sampai seorang kiai harus membuat doa khusus untuk menghadapi tekanan-tekanan untuk menyantap makanan di acara hajatan (allahummaj’al bathni kalbahri…) Ya Allah jadikan perutku luas seperti samudera.

Di sisi lain, makanan itu sangat berbahaya bagi para kiai yang tubuhnya jarang olahraga karena terjebak mengisi pengajian yang padat, berpindah dari satu acara ke acara lainnya dengan jamuan yang sama, makanan berbahaya.

Di kalangan kiai di Madura ada kelakar tentang hidangan yang disuguhkan dalam sebuah hajatan yang hanya mengenal dua kategori, yaitu menu kategori Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang diisi kepiting, kerang dan yang lainnya. Kategori menu RS dr, Soetomo Surabaya yang diisi oleh gule, sate kambing dan jeroan.

Saat ini sudah mulai banyak para kiai di Jawa Timur yang menentukan menu sehat kepada pihak sahibul hajat jika ingin menyuguhkan sesuatu kepadanya di acara undangan hajatan atau pengajian umum. Menu itu sangat sederhana, seperti tempe dan tahu rebus, ikan laut tumis, dan sayur–mayur hijau. Tapi masih lebih banyak yang menyuguhkan “makanan horor”, karena tradisi itu berangkat dari suatu paradigma berpikir mengenai makanan, bersedekah makanan yang paling besar pahalanya adalah makanan yang enak, bukan makanan yang menyehatkan, yang kalau dalam bahasa Alqur’an hanii’an marii’an, enak yang tidak berakibat fatal sesudahnya.

 1,903 total views,  6 views today