Tidak semua orang kenal dengan nama Muhammad Shalih bin Umar As-Samarani. Tapi lain ceritanya jika yang disebut adalah ‘Kiai’ atau ‘Mbah Shaleh Darat’. Apa mau dikata, sebuah kebudayaan kadang memilih hukumnya sendiri. Menyebut seorang ulama dengan ‘Kiai’ atau ‘Mbah’ memang menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh kalangan santri, khususnya di Jawa.

Mbah Shaleh Darat adalah kiai alim nan karismatik. Semasa hidupnya, banyak nama-nama besar yang berguru pada beliau. Sebut saja para pendiri dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Keduanya diceritakan pernah sama-sama menimba ilmu pada Mbah Shaleh Darat. (Sejarah dan Perjuangan Kiai Sholeh Darat, h. 13).

Murid Mbah Shaleh Darat tidak hanya dari kalangan santri, tapi juga dari kalangan priyayi. Sebut saja salah satunya adalah RA. Kartini. Konon, kegelisahan RA. Kartini lah yang menjadi salah satu alasan penulisan salah satu karya Mbah Shaleh Darat, Tafsir Faiḍ al-Raḥmān fi Tarjamah al-Kalām al-Mālik Al-Daiyyān.

Kitab tafsir tersebut ditulis pada hari Kamis tanggal 5 Rajab 1309 H/1891 M. Karya ini disajikan dalam bahasa Jawa, menggunakan aksara Arab-Pegon. Selain itu, penyajian tafsir ini menggunakan dua corak, yakni corak fiqh dan tasawuf. Konon, kitab tafsir itu terdiri dari dua jilid, hanya saja penerbitan jilid kedua kitab tersebut tidak pernah sampai ke tangan kita. (Heru Setiawan, Tafsir Alif Lām Mīm Kyai Shalih Darat, Jurnal Kontemplasi, h. 45-46).

Saya selalu terkesan dengan tafsir tersebut. Bagi saya, karya tafsir tersebut tidak hanya sekadar unik, namun juga menjadi bukti kepiawaian dan kecerdasan Mbah Shaleh Darat dalam berdakwah dengan media literasi. Hal tersebut di antaranya dapat kita lihat pada cuplikan mukaddimah beliau dalam menafsirkan Surat Al-Baqarah berikut:

“Utawi iki surat Baqarah ana pirang-pirang faidah. Lamun diwaca ing dalem omah maka ora bisa mlebu Syaithan telung dina lan bathal penggawene wong kang ahli sihir. Ing jerone iki surat ana sewu amr. Lan sewu nahi lan sewu hukum. Lan sewu khiyar”.

Terjemah: (dalam) Surat Al-Baqarah ini terdapat faedah yang sangat banyak. Ketika dibaca di dalam rumah, maka Setan tidak akan bisa masuk rumah selama 3 hari, dan spekerjaan ahli sihir akan batal. Dalam surat ini terdapat seribu perintah (amr). Dan (ada) seribu larangan dan seribu hukum. Dan (ada) seribu pilihan (khiyar).

Perhatikan ungkapan di atas. Mbah Shaleh Darat tidak sekadar menampilkan keutamaan Surat Al-Baqarah, tapi juga menampilkan faedahnya. Hal ini merupakan strategi dakwah yang cerdik dan patut ditiru.

Pertama, Beliau mampu memahami konteks dan subjek (sasaran) dakwahnya. Kedua, Beliau piawai mengemas nilai dan ajaran yang hendak didakwahkan dalam bahasa yang bisa diterima oleh masyarakat.

Perihal pertama, Mbah Shaleh Darat menyebutkan faedah Surat Al-Baqarah sebagai penangkal setan dan sihir. Penyebutan tersebut tentu bukanlah suatu kebetulan. Bisa saja, penyebutan faedah Surat Al-Baqarah sengaja beliau tonjolkan, karena beliau sangatlah memahami konteks zaman dan kesadaran subjek (sasaran) dakwah beliau.

Bagaanapun, Mbah Shaleh Darat tidak sekadar berdakwah di Jawa, namun juga tembuh besar di sana. Karena itu, beliau tahu betul cara pikir, kesadaran dan kepercayaan masyarakat Jawa. Mereka mempercayai adanya dunia metafisik atau ghaib. Karena itulah, masyarakat mengenal konsep setan dan sihir.

Setan dalam masyarakat Jawa direpresentasikan dalam berbagai jenis semisal Gendruwo, Wewe Gombel, Banas Pati dan lain lain. Begitu juga dengan sihir, semisal Santet, Jengges, Pengasihan, dan seterusnya.

Kepiawaian Mbah Shaleh Darat berikutnya terlihat dari kelihaian beliau dalam mengemas ajaran Islam. Konsep-konsep ajaran dan nilai keislaman disuguhkan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Perihal ini terlihat dari cara yang digunakan Mbah Shaleh Darat dalam menyebutkan faedah Surat Al-Baqarah sebagai penangkal setan atau sihir. Sebenarnya faedah tersebut dapat kita temukan rujukannya dalam kitab-kitab klasik atau sumber otoritatif Islam lainnya. Sebut saja misalnya, Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut:
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim no. 1860)

Begitu juga, Ibnu Juziy dalam kitab tafsirnya Zād al-Masīr, juga mengutip Hadists serupa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
رَوى أبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ أنَّهُ قالَ: لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكم مَقابِرَ، فَإنَّ البَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ البَقَرَةِ لا يَدْخُلُهُ الشَّيْطانُ
“Abu Hurairah meriwatakan dari Nabi: Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena sesunggunhnya rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah tidak akan diamsuki setan”.

Meski begitu, Mbah Shaleh Darat tidak serta merta menyebut sumber itu.Beliau sangatmemahami konteks dan subjek dakwahnya. Mereka adalah masyarakat Jawa. Saat itu, tentu tak mudah bagi mereka memahami bahasa Arab dan artinya. Karna itulah beliau kemudian mengambil intisari kedua Hadits di atas, kemudian mengemasnya dalam bahasa Jawa.

Mengesankan bukan cara berdakwah Mbah Shaleh Darat? Beliau sangat piawai, baik dalam hal membaca konteks, sasaran dakwah dan mengemasnya dengan bahasa yang mudah diterima.

Inilah cara dakwah yang seharusnya kita tiru, bukan berdakwah dengan memaksakan kehendak, lebih-lebih menggunakan kekerasan.