Setelah Nabi Muhammad menerima wahyu dan menjadi seorang Nabi, keluarga Nabi adalah orang-orang pertama yang masuk agama Islam, termasuk putrinya Zainab. Pada waktu itu, Abul ‘Ash sedang dalam kepergian untuk dagang. Ketika pulang, Abul ‘Ash mendengar berita-berita di Mekkah bahwa ayah mertunya telah menerima wahyu dan membawa agama baru. Abul ‘Ash langsung pulang ke rumahnya dan menemui istrinya untuk mengkonfirmasi soal itu. Zainab membenarkan berita tersebut, dan menjelaskan bahwa dia bersama ibunya dan adek-adeknya telah menyatakan keIslamanya.

Tentu Zainab berharap suamianya ikut masuk Islam, akan tetapi Abul ‘Ash menjawab: “sebenarnya tidak ada hal yang lebih aku sukai daripada kita berjalan bersama, akan tetapi saya tidak suka untuk dikatakan oleh masyarakat Mekkah bahwa suamimu ini telah meninggalkan agama leluhurnya hanya untuk istrinya dan mertuanya, kira-kira bisakah kamu memahami dan memaafkanku?”.

Hari demi hari dan Zainab masih mempunyai harapan agar suaminya cepat masuk Islam. Orang-orang Islam mulai berhijrah ke Yatsrib (Madinah), dan sekarang geliran Nabi Muhammad dan Abu Bakr as-Shiddiq. Beberapa waktu kemudian datang utusan dari Madinah untuk menjemput Ummu Kalthum dan Fathimah. “Mekkah jadi sepi, tidak ada keluargaku, di manakah mereka”, kata Zainab dalam hatinya. “Seandanya suamiku tercinta masuk Islam, saya tidak akan tinggal sendirian di Mekkah, saya pasti sekarang berada bersama kluargaku di Madinah”, begitu lah kira-kira rasa kesedihan Zainab.

Pada tahun kedua hijriyah, orang-orang kafir dar suku Quraisy ingin memerangi orang-orang Islam yang berada di Madinah, di golongan pertama ada suaminya, sedangkan ada ayahnya di golongan kedua. Zainab pulang ke rumahnya dan memandang kepada kedua anaknya, ‘Ali dan Umamah, “Perang ini bisa mengakibatkan dua hal, kalian menjadi anak yatim atau saya yang menjadi yatim”, kata Zainab sambil meneteskan air mata…

 954 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini