Sekian tahun telah berlalu, tiap hari orang-orang Islam bertambah, orang-orang berdatangan hijrah ke Madinah, Zainab tiap hari dan malam menunggu waktu di mana Abul ‘Ash datang ke Madinah dan menyatakan ke-Islamannya. Pada suatu malam dari tahun keenam hijriah, ketika Zainab berfikir dan mengingat masa yang indah bersama Abul ‘Ash, tiba-tiba melihat bayangan yang mirip dengan seorang yang sangat dia kenal, Zainab masih ragu, apakah ini hanya bayangan seorang yang sangat dia cintai ataukah… “Abul ‘Ash…” Zainab memanggil. Lalu ada suara yang khas menjawab: “iya sayangku, takdir yang membuat saya datang ke Yatsrib”. Di tengah-tengah nuansa pertemuan yang tidak disangka oleh Zainab, terdengar suara azan sholat subuh dari Bilal bin Rabah.

Pertemuan yang sudah lama dirindukan oleh dua kekasih. Sebelum Zainab mengajukan pertanyaan yang dia simpan dalam hatinya, Abul ‘Ash sudah faham isi hati istrinya: “tidak Zainab, saya tidak datang ke Yatsrib sebagai orang Islam. Akan tetapi ceritanya bahwa saya keluar dalam rombongan dagang (qafilah) ke wilayah Syam, dalam perjelanan pulang datanglah sariyyah (rombongan perang yang tidak dipimpin oleh Nabi Muhammad) orang Islam yang menyerang rombongan kami dan mengambil seluruh barang-barang rombonganku. Saya bersyukur bisa melarikan diri dari mereka, lalu saya dengan sembuni-sembuni masuk Yatsrib”. Dengan rasa bahagia Zainab berkata: “marhaban, selamat datang sepupuku, selamat datang ayahnya ‘Ali dan Umamah”.

Kemudian Zainab pergi ke masjid dan berdiri di sebelah pintu sambil berkata dengan suara keras: “ayyuha an-nas, saya telah melindungi/ menjamin Abul ‘Ash bin ar-Rabi’”. Sehabis sholat, Rasulullah datang ke rumah putrinya, Zainab berkata kepada ayahnya: “Ayah, Abul ‘Ash ini masih sepupu dan ayah anakku, dan saya sudah melindungi dia”. Rasul menjawab: “iya anakku, muliakanlah tamu mu, tapi ingat bahwa dia tidak halal lagi bagimu”.

Setelah kanjeng Nabi pergi, Zainab yang penuh kerinduan bertanya kepada Abul ‘Ash: “Kenapa kamu tega meninggalkan kami?”, Abul ‘Ash menjawab: “Tidak sayang, kehidupanku tanpa kamu tidak berarti.” Zainab yang hatinya menangis bertanya lagi: ”Lalu, untuk apa semua penderitaan ini!”. Abul ‘Ash bingung menjawab: “Sampai Tuhan yang memutuskan…”. Lalu dia lanjut, “Kaum Muslimin menawarkan saya untuk masuk Islam dan mengambil seluruh harta milik kaum Qurasiy yang telah diambil dari kafilah/ rombongan kami. Tapi saya menolak, betapa jeleknya jika saya memulai keislamanku dengan mengkhianati kaumku.” Abul ‘Ash mencoba menghindari tatapan matanya dari Zainab, dengan memandang kedua anaknya yang sedang tidur.

Besok hari, Nabi mengutus seorang sahabat untuk memanggil Abul ‘Ash untuk datang ke masjid. Rasulullah sedang berkumpul bersama sahabat, kemudia Nabi berkata: ”Seperti yang kalian tahu bahwa orang ini termasuk keluarga saya, dan kalian telah mengambil barang harta dari rombongan dagangnya, jika kalian ingin berbuat baik maka kembalikan harta itu kepadanya, tapi jika kalian menolak maka itu juga hak milik kalian”. Sahabat langsung menjawab dengan satu suara: “ Iya wahai Rasul, kita mau mengembalikan hartanya”. Semua barang yang milik kafilah rombongan Abul ‘Ash telah dikumpulkan dan dikembalikan, sampai barang yang paling kecil. Abul ‘Ash bersalaman sama Nabi, dan mengucapkan ucapan perpisahan dan sampai jumpa ke rumah Zainab tapi dari jarak jauh…

 

 752 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini