Sudahi sedihmu, marilah mabar bersamaku. Berdiam diri sambil menghitung dentingan jam dinding, kita tidak akan melakukan hal itu jika punya teman. Kita akan mabar dan tertawa bersama-sama. Apalagi mabar di saat signal sedang di level maksimal. Pastilah kita akan party untuk pushrank dan melupakan kejenuhan setelah mengerjakan tugas kuliah yang sempat menggunung.Bagi para pecinta game online, mabar dengan teman terasa lebih asyik daripada mabar dengan komputer. Komputer sering kali mudah ditebak arah gerakannya. Tapi kalau kita mabar dengan teman terasa lebih mengasyikan dan menantang. Kita bermain dengan pemain yang penuh dengan tak-tik dengan hero andalannya. Lebih memacu adrenalin.

Game online memang memiliki daya tarik tersendiri. Gamers dimanjakan dengan animasi yang menarik dan karakter menarik di setiap hero-nya. Peredaran game online juga dibantu oleh gamers yang meng-upload video dirinya saat mabar sebagai konten di YouTube. Seiring berjalannya waktu, penampilan grafik animasi pada game online meningkat. Teman kita mungkin juga akan tertarik untuk mencoba dan mabar bersama kita.

Saya tidak mempermasalahkan mereka para pecinta game online dan pemimpi atlit e-sport. Saya hanya resah dengan kata toxic yang mereka produksi. Kata toxic biasanya terdengar ketika pemain mengalami kekalahan ataupun merasa teman mainnya tidak pandai bermain. Apalagi jika kata toxic sudah terucapkan tanpa mengenal tempat dan dengan siapa mereka berinteraksi. Sayang jika adik polos yang iseng bermain game online, tercemar oleh kata toxic.

Saya juga diresahkan dengan gamers yang tak mengenal tempat untuk ber-toxic ria. Saya pernah menemui gamer di warnet yang menyerukan kata kotor berkali-kali, sedangkan pengunjung warnet lain sedang berkonsentrasi mengerjakan tugas sekolah. Alhasil, pengunjung lain termasuk saya merasa sulit berkonsentrasi untuk menyelesaikan soal yang sulit pula. Gamer terkadang acuh dengan situasi orang di sekitar yang sedang membutuhkan ketenangan,

Saya mengerti bahwa dunia gamers memang bukanlah hal yang tabu dalam mengeluarkan kata toxic. Para atlit e-sport, Bkent misalnya, sering kali menggunakan kata toxic hanya untuk seru-seruan di kontennnya. Namun di kehidupan sehari-hari, dia mengaku tidak se-toxic itu dan lebih bijak dalam bersikap. Bkent membedakan sikap mana yang harus dilakukan saat membuat konten dan sikap mana yang harus ditunjukkan di  lingkungan sekitar.

Sikap seperti itulah yang saya harapkan dari teman-teman mabar maupun gamers lainnya. Game online jangan sampai membuat kita bertindak menyakiti orang sekitar dengan perkataan kurang menyenangkan. Namun jika masih sulit untuk bijak dalam ber-toxic, ada beberapa cara yang bisa dipraktikkan untuk memanajemen kata toxic ketika marah, yaitu dengan mabar islami.

Baginda Rasulullah Saw pernah bersabda, marah obatnya adalah diam. Saat sedang ingin marah, kita kalemkan dulu otot-otot kita, baru setelah kondisi santai bisa bermain sambil berujar. Atau kita bisa pakai cara yang kedua, yaitu dengan mulai membiasakan diri untuk mengganti teriakan kata toxic dengan kata-kata menyenangkan, seperti istigfar, takbir, dan zikir. Sehingga selain asyik mabar, insyaallah kita juga mendapatkan pahala dengan kata-kata islami.

Orang yang hebat bukan orang yang mampu pushrank sampai level tertinggi, namun orang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan ke-toxic-annya saat mabar. Wahai kawan mabarku sekalian, kata toxic kadang memang asyik, namun ada baiknya jika kita pandai memanajemennya, dengan siapa dan dimana. Marilah kita mabar islami agar selain sukses push rank game kita juga push rank pahala.

Pemuatan tulisan ini merupakan kerjasama antara UKM Dinamika dengan islamsantun