Madinah merupakan kota tempat Nabi Muhammad saw. ketika hijrah. Hal tersebut menjadikan kota tersebut dikenal dengam al-munawwarah atau dengan pengertian kota yang memancar cahayanya. Selain itu, kota tersebut dikenal Madinah al-Rasul, Madinah al-Nabi. Kota Madimah menjadi saksi bahwa Islam tidak saja sebagai agama melainkan sebagai pemerintahan dengan fungsi Nabi saw. sebagai Kepala Agama dan Masyarakat atau Negara.

Dalam kota Madiah terdapat dua kelompok besar. Mereka itu pendatang dan penduduk asli. Mereka yang ikut hijrah Nabi saw. dari Makkah dan beragam sahabatnya dan diterima masyarakat setempat dikenal dengan kaum anshar. Mereka saling membantu dan menjadikan sebuah tatanan yang berkehidupan bersama dengan beragam perbedaan di dalamnya.

Kota tersebut terletak di Hijaz dan menjadi tujuan ummat Islam saat berhai dan umrah. Setidaknya, ummat Islam rata-rata tinggal selama delapan hari sesuai ibadah yang dilaksanakan yakni Salat Arba’in. Sebuah salat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu rawatib. Mereka ini melakukan dengan keyakinan mendapatkan balasan surga.

Selain hal di atas, daya tarik Madinah adalah adanya rawdah. Tempat tersebut tidak pernah sepi bahkan untuk beribadah di dalamnya butuh perjuangan yang berat. Terbatasnya luas tempat antara mimbar dan rumah Nabi saw. tersebut menjadikan musim tertentu saat haji semakin padat dan sulit akses di dalamnya. Tempat tersebut dikenal sebagai miniatur surga yang sebagai tempat yang mustajabah dalam berdoa di dalamnya.

Keistimewaan Madinah lainnya adalah adanya makam Nabi saw. beserta sahabanya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, makam lain di seberang Masjid Nabawi yaitu Jannah Baqi’. Terdapat makam beragam sahabat Nabi saw. dan isteri serta putra puteri beliau di dalamnya. Jamaah haji dan umrah dapat berziarah di Makam Baqi tersebut.

Selain Masjid Nabawi dan beragam keistimewaan di dalamnya, Madinah juga memiliki beragam Masjid yang menjadi tujuan utama ummat Islam yaitu Masjid Quba, Masjid Qiblatain dan lain sebagainya masjid yang bersejarah di sekitar Masjid Nabawi antara lain Masjid Imam Bukhari, Masjid Abu Bakar, Masjid Ali ibn Abi Talib dan Masjid Ghamamah. Beragam masjid dan destinasi wisata lain tidak menghalangi jamaah umrah dan haji melaksanakan salat arba’in.

Pesona di atas juga dibarengi dengan beragam penjualan oleh-oleh khas Madinah. Beragam pusat perbelanjaan dapat dilihat di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi. Belanja di Madinah akan lebih murah dibandingkan dengan di Makkah. Tak jarang mereka yang datang nemanfaatkan antara lain belanja oleh-oleh dan untuk mendapatkan makanan khas Indonesia juga banyak dijual di restoran yang ada di sekitar Masjid Nabawi.

Hal yang menarik aktivitas perdagangan otomatis tutup ketika adzan berkumandang. Mereka semua bergegas menuju masjid untuk salat berjamaah. Namun, setelah jama’ah usai mereka langsung buka lagi. Merka menjalankan perintah yang ada dalam al-Qur’an khususnya Q.S. al-Jumuah (62): 10. Bergegas menuju tempat salat dan meninggalkan untuk sementara perdagangan mereka.

Model Madinah di atas dapat ditemukan di Indonesia. Tempat tersebut dikenal degan Madinah van Java. Sebuah daerah yang masyarakatnya mayoritas memakai pakaian muslim baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Daerah tersebut tidak pernah sepi dalam urusan salat lima waktu bahkan sejak jam 03.00 pagi dimulai dengan tahjjuj dan salat shubuh masjid juga penuh sesak jamaahnya. Fasilitas lainnya adalah olah raga yang sesuai dengan sunnah yaitu berkuda dengan lapangan yang luas, memanah dan beragam bela diri juga diajarkan.

Julukan sebagaimana di atas adalah hanya pada Desa Temboro Magetan. Desa tersebut terdapat banyak pesantren dan yang terbesar adalah pondok al-Fatah Temboro dengan santri 22 ribu orang dari berbagai negara. Bahkan jumlah negara yang nyantri di dalamnya sembilan negara. Mereka rata-rata menghafalkan al-Qur’an dan belajar Hadis yang mampu menghafal kitab-kitab besar seperti Sahih Bukhari dan kitab hadis lainnya.

Temboro menjadi daya tarik sendiri sebagaimana Madinah kota Rasulullah. Kenyataan tersebut selain didukung dengan aktivitas ibadah dan perdagangan serta beragam penduduknya yang menjalankan ajaran dengan baik. Anjuran salat juga terpampang di mana-mana salah satu aktivitas yang tidak diperbolehkan baik mancing maupun perdagangan adalah ketika adzan berkumandang dan pelaksanaan salat rawatib. Kegiatan ini seperti di Madinah dan Makkah.

Salat jama’ah menjadi habitat keseharian sehingga masjid menjadi tempat salat berjamaah. Salat lima waktu selalu dipenuhi jamaah salat. Tradisi ini jamaah yang membludak walaupun salat shubuh selalu penuh karena aktivitas sosial diliburkan. Hal ini menjadi kesadaran kolektuf di mana salat jamaah berdasarkan hadis Nabi saw. tentang pahala berjamaah yang berbeda dengan sendirian dengan nilai 1:27.

Tradisi sunnah kenabian juga menjadi kebiasaan masyarakat di kampung Madinah. Salah satu bagian dari sunnah kenabian atas kebiasaan berkuda dan memanah menjadi bagian terpenting. Sehingga kedua hal tersebut menjadi populer dan menjadi kebiasaan. Tradisi bela diri juga menjadi bagian terpenting. Selain seluruh wanita di dalamnya berpakaian khas dengan cadar dan laki-laki dengan peci dan gamis.

Asal usul Madinah van Java di Temboro adalah sejak Kiyai Uzairon pengasuh pondok pesantren merubah sistem pembelajaran. Kejadian itu adalah tahun 1985 M. Sebelumnya pesantren menggunakan model modern dalam pembelajaran dengan sistem campur laki-laki perempuan. Beliau mengubah mejadi sistem salaf sebagaimana dilakukan oleh Jamaah Tabligh (JT). Aktivitas mujahadah dan fikir ummat perlahan terjadi perubahan mendasar di kampung tersebut. Sehingga kebiasaan masyarakat sesuai dengan kebiasaan Rasulullah saw. di Madinah. Kebiasaan tersebut menjadikan kampung Temboro dikenal dengan kampung Madinah van Java sebuah komunitas masyarakat di Temoboro yang mirip dengan suasana di Madinah.