Entah gelombang apa yang menjangkiti hidup kita. Semua menderu dalam ucap dan merasa pantas bertindak dalam sikap. Tak butuh menepi-meresapi-menghayati, kita justru mengejar bayang pergi menunjukkan siapa, meski gampang tersulut amarah.

Kita gampang berulah dan kebijaksanaan norma sosial terlewat. Gelombang kebencian menyeruak dan kevitalan pertemanan-kekeluargaan berjarak. Semua saling intip dengan mencari celah salah untuk diintai. Kapan mereka melakukan salah, kami siap akan mencerca. Begitu sebaliknya.

Segala kesalahan ramai tanggapan. Kita makin antusias berkomentar tentang kehidupan liyan. Semua merasa punya otoritas meski defisit pengatahuan dan akhlak. Prilaku keculasan menebar moral dan kebencian diekspresikan dalam kerumunan—menyebabkan kebisingan—tanpa perenungan hingga tercipta kegaduhan.

Kita bersewenang memberi tafsiran dan bahkan menviralkan. Dan diam-diam menyetujui lantaran ada sensasi menyenangkan. Barangkali, kita sudah hidup di kehidupan seperti kata Ronggowarsito di zaman edan. Keinginan dipandang tinggi membumbung tinggi dengan cara berkomentar tentang apa dan siapa, sehingga seperti kata Bre Renada semua merasa berhak menjadi wartawan meski jauh dari pengalaman atau itulah sikap dari otoritas kewamanan.

Ketidakdalaman keilmuan menyababkan kedangkalan berkomentar hingga terjerumus ke sesat nalar. Akibatnya, kebencian makin tebal, hoaks bermunculan, meme-meme cacian bertebaran, dan kesalehan diambang kerapuhan. Situasi ini disebut oleh Tom Nichols dengan matinya kepakaran (2018). Orang-orang sudah mengabaikan pandangan pakar, ilmuwan, ilmu pengatahuan. Era dimana defisit kepercayaan terhadap pakar dan menguatnya anti-intelektualisme-kepakaran.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh budaya komentar yang tak disertai data, fakta, kajian ilmiah yang kokoh serta valid atau adanya efek Dunning-Kruger, yakni “semakin bodoh orang, maka semakin yakin kalau orang itu tidak bodoh. Artinya ia solipsisme: orang itu merasa pendapatnya selalu benar, pasti benar, dan tak akan perna salah, meskipun ia salah. Sehingga, ia mengangap keputusan-kehidupan yang sebetulnya salah dianggap bukan kesalahan. Dan pantas menyebut dirinya berada dalam kebenaran atau seperti kata Radhar Panca Dahana berada pada budaya di kebenaran-keliru.

Memang kita menganut paham demokrasi. Kita bebas berpendapat dan setara dalam hidup. Tetapi, prinsip itu menjadi tidak bermakna ketika di dalamnya seperti kata Hebermas tidak menjunjung sikap-ikatan keadaban. Demokrasi mencapai kondisi ideal, jika warganya seperti kata Daoed Joesoef dalam Bukuku Kakiku (2004) gemar membaca, bukan sekedar pendengar dan gemar berbicara.

Fenomena ini tidaklah baru, sebagaimana sikap di atas, terjadi hampir di seluruh dunia dari masa ke masa. Persekusi terhadap yang berbeda pemahaman. Pengusiran diskusi-ceramah-seminar yang berbeda keyakinan bahkan teror terhadap hasil karya ilmiah.

Pemahaman tak mungkin sama. Ia akan terus ada sesuai perkembangan manusia. Begitu juga keimanan, karena Tuhanlah yang membuat perbedaan. Tetapi, kita dituntut saling menghargai, berbagi dialog, dan lapang nalar serta meninggikan sikap religiusitas dan wawasan luas.

Kita ingat catatan Ahmad Wahib dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam (1995). Wahib menulis: “aku belum tahu apakah Islam itu sebanarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lainnya. Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatannya.”

Wahib tak puas, terus mencari, tetapi bisa merawat tanggungjawab etis dan setia pada norma yang berlaku. Karena baginya, ketika tanggungjawab dilangkahi, yang terjadi hanyalah sikap tirani, anarki, dan eksklusivisme atau bisa jadi sikap menghukum orang dengan wewenangnya sendiri.

 

Tradisi Kritik Akademis

Dari kisah di atas, ketidaksanggupan berbeda pandangan-keimanan menyebabkan orang tak mau berbagi ruang. Bahkan dengan mudahnya menghukum dan membunuh orang. Manusia tak bisa dibunuh, karena manusia tak mungkin bisa menghidupkan manusia. Sekali ia dibunuh, ia lenyap, tak ada. Tapi pikiran tidak. Dan hanya Tuhanlah yang bisa merekacipta manusia.

Kita perlu (tradisi) kritik. Kita perlu mendengarkan dengan tenang tanpa menyela di setiap kritik. Kita ingat Ibnu Rusd berbantahan dengan Imam Al-Ghazali. Cak Nur dengan Wahib dan lainya. Muchtar Lubis dengan Margono Djojohadikusumo dan lainnya. Pram dengan Goenawan, Ulil Abshar dengan mertuanya Mustofa Bisri dan lainnya. Mereka melakukan kritik dengan tradisi kritik akademis.

Dari mereka kita bisa belajar bahwa pikiran harus dilawan dengan pikiran. Argumen harus dibantah dengan argumen. Disertasi harus disanggah dengan disertasi atau karya ilmiah. Jika kita tidak menyetujui hasil pikiran orang tak patutlah kita meneror-mencaci maki, tetapi sanggahlah dengan mengemukakan pikiran. Begitulah cara kaum beragama bertindak, agar kita tak terlalu tampak– seperti kata Fahrurozi Majid–watak tiranik kita di keawaman.

 1,722 total views,  2 views today