Di tengah merebaknya wabah korona seperti sekarang ini, permasalahan lain yang muncul adalah maraknya hoaks yang beredar, khususnya di media sosial. Jika kita cermati, belakangan ini media sosial menjadi lebih riuh dari biasanya. Para netizen gegap gempita membagikan kabar dan informasi tentang korona, entah dia dokter atau bukan. Begitu pula di aplikasi pesan instan seperti WhatsApp. Group-group WhatsApp ramai orang berbagi informasi. Sayangnya, di antara informasi-informasi itu terselip hoaks.

Misalnya saja hoaks yang tersebar di group alumni yang saya ikuti. Seorang kawan membagikan informasi tentang penyebaran disinfektan melalui udara di Jakarta. Tak lama, kawan lain mengingatkan bahwa informasi yang dibagikan itu tidak valid alias hoaks. Informasi itupun segera dihapus oleh si pengirim. Ada pula hoaks tentang obat A atau obat B yang bisa menyembuhkan korona.

Kita mungkin mengira setelah gelaran pilpres usai maka usai pula persebaran hoaks. Memang setelah pilpres jumlah hoaks menurun. Masyarakat diberi kesempatan bernapas, menghirup udara yang tidak terkontaminasi polusi hoaks. Akan tetapi, di tengah badai korona ini kita tampaknya juga perlu kembali waspada datangnya badai hoaks, badai yang tak kalah merusak.

Boleh jadi kita bertanya-tanya, sesuatu apa yang membuat orang membagikan hoaks di tengah wabah? Kita tahu, hoaks dibagi karena didorong rasa emosional, bukan dikendalikan oleh akal sehat dan nalar jernih. Maka, hoaks bisa saja dibagi oleh orang berpendidikan tinggi, tidak pula mengenal tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Geger wabah korona memantik rasa emosional, mengeksploitasi rasa takut.

Di tengah kepanikan karena persebaran virus, boleh jadi sejumlah orang tidak mampu berpikir logis. Mereka membagikan apapun, tanpa bepikir panjang. Mereka ingin menjadi orang bermanfaat dan berguna dengan berbagi informasi. Sayangnya, semangat berbagi yang menggebu itu tidak disertai dengan usaha cek ulang kebenaran informasi yang akan dibagikan.

Masalahnya, tidak semua orang sadar akibat dari hoaks yang mereka bagikan. Hoaks bisa saja menambah kepanikan warga. Padahal kita dihimbau untuk tidak panik dalam menghadapi wabah korona. Bayangkan saja jika tersebar hoaks: Efek Korona, Beras Langka di Solo. Sangat mungkin menimbukan panic buying, lalu memancing kericuhan dan kekacauan.

Rasanya, semua orang hari ini ingin menjadi bagian dari gerakan bersama melawan korona. Hal itu tentu bagus, sangat bagus malah. Kita butuh solidaritas yang kokoh di saat seperti ini. Hanya saja kegigihan melawan korona harus dengan cara-cara rasional. Rasionalitas ditunjukkan dengan kehatian-hatian dalam membagi informasi.

Persoalan bertambah runyam jika ada sekelompok orang yang justru dengan sengaja menebar hoaks untuk tujuan tertentu. Melalui sejumlah pemberitaan kita tahu hoaks telah menjadi industri di tahun politik lalu. Jika industri hoaks masih berjalan di tengah pageblug seperti sekarang, alangkah nistanya. Betapa kemanusiaan tak berharga lagi.

Literasi Digital

Sejumlah pakar, aktivis, dan akademisi sepakat bahwa literasi digital merupakan salah satu cara ampuh menangani hoaks. Douglas A.J Belshaw merumuskan delapan elemen esensial literasi digital, yakni cultural (memahami konteks), cognitive (meluaskan pikiran), constructive (menciptakan hal positif), communicative (cakap berkomunikasi dan berjejaring), confident (percaya diri dan bertanggung jawab), creative (melakukan hal baru), critical (kritis menyikapi konten), civic (mendukung terwujudnya civil society).

Literasi digital menjadi penting di tengah mulai merebaknya hoaks belakangan ini. Jika merujuk pendapat Belshaw di atas, elemen constructive atau menciptakan hal positif tampaknya perlu mendapat perhatian. Artinya, dalam menggunakan gawai kita tidak asal membagi informasi. Perlu ditimbang terlebih dahulu, apakah info yang akan dibagikan valid dan membawa dampak positif. Selain itu literasi digital juga membangun kritisime. Semua info yang diterima hendaknya tidak ditelan mentah-mentah.

Data Mastel tahun 2017 menunjukkan bahwa terdapat tiga tema hoaks yang beredar di Indonesia: sosial politik, SARA dan kesehatan. Kita lihat, hoaks tema kesehatan makin menjadi di tengah wabah korona sekarang ini. Harus ada pihak-pihak yang betul-betul menaruh perhatian dalam penanganan hoaks, mengingat jumlah pengguna interenet di Indonesia yang cukup besar. Menurut internetworldstats.com pengguna internet di Indonesia adalah sebesar 63,5 % dari total penduduk Indonesia.

Kiranya pemerintah perlu menambah seruan, selain rajin cuci tangan dan menahan diri untuk tidak keluar rumah, masyarakat mestinya juga dihimbau menahan diri untuk tidak membagi kabar yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah dihajar korona, masih dihantam hoaks pula.

 572 total views,  3 views today