Nur Rohman*

Populer di kalangan masyarakat muslim Nusantara, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah dengan jalur perdagangan dan jalur kultural atau mekanisme budaya. Hal ini kemudian dilanjutkan proses penyebarannya oleh para Wali melalui mekanisme akulturasi budaya. Artinya, para wali tidak kemudian membabat habis budaya yang telah ada dan mapan di masyarakat, melainkan memadukan budaya yang telah ada dengan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam budaya setempat.

Proses dakwah yang dilakukan oleh para wali itu sendiri memakan waktu yang lama, bahkan dari generasi ke generasi. Walisongo yang cukup terkenal di Jawa, mempunyai ciri khas masing-masing dalam berdakwah. Ada yang menggunakan strategi pengobatan, seni, pendidikan, hingga jalur diplomasi politik. Kesemua itu dilakukan dengan pendekatan kultural. Sehingga Islam yang hadir di masyarakat dekat dan dirasakan sebagai bagian dari mereka sendiri, tidak asing dan tidak menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup mereka.

Berkaitan dengan hal tersebut, Almarhum K.H. Hasyim Muzadi, dalam salah satu ceramahnya dahulu pernah menyampaikan tentang pergeseran stategi dan fenomena dakwah di kalangan umat Islam. Beliau mengatakan bahwa dakwah yang dilakukan saat ini, telah jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh para kiai dan para wali jaman dahulu.

Pergeseran itu terletak pada strategi dakwahnya. Jika dahulu para wali sebelum menyuruh orang sholat atau mempelajari Islam, terlebih dahulu diselesaikan masalah-masalahnya. Seperti misalnya orang sakit, diberi obat. Ada orang kelaparan diberi makan. Dan masih banyak lagi masalah-masalah lainnya. Bahkan para wali juga masuk ke dalam tradisi yang digandrungi oleh masyarakat seperti pertunjukan seni, misalnya Sunan Bonang dengan gamelan dan syiir-syiir, Kalijaga dengan Wayang, dan sebagainya.

Akan tetapi kini, ada orang berdakwah dengan cara-cara yang keras dan kaku. ‘pokoknya jika tidak sesuai dalil secara tekstual, maka semua dianggap salah, sesat, menyimpang, syirik, dan ujungnya neraka’. Dakwah yang dilakukan oleh sekelompok orang ini menjadi menyeramkan dan menakutkan. Maka tak heran jika banyak umat lain dan masyarakat awam yang tidak tertarik lagi mempelajari ajaran Islam. Karena wajah Islam menjadi menyeramkan dan menakutkan.

Kita mungkin menyadari bahwa dakwah dengan mekanisme kultural sebagaimana dilakukan oleh para wali belum sepenuhnya punah di negeri ini. Akan tetapi, perlu untuk terus dilestarikan. Karena dakwah model inilah yang terbukti mampu bertahan selama berabad-abad hingga saat ini. Dakwah yang membawa ketenangan dan kegembiraan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga Islam yang hadir di masyarakat bukan ancaman, melainkan solusi yang menentramkan.

Zaman terus bergerak, kesengan dan cara hidup masyarakat banyak berubah. Jika dahulu wayang dan gamelan menjadi salah satu hiburan yang cukup mewah, maka kini telah banyak berubah. Meskipun di beberapa tempat dua entitas kesenian itu masih banyak diminati dan dilestarikan. Maka kita bisa masuk dengan gaya kesenian yang kekinian dengan memasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya, meskipun tidak secara langsung. Sudah banyak yang melakukan itu, seperti misalnya Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Jogja, Suluk Maleman besutan Habib Anis di Pati, dan lain sebagainya.

Pun demikian dengan bacaan dalam dunia pendidikan. Dahulu banyak yang mengarang syair, serat sastra untuk mengedukasi masyarakat, yang tentu bahasa dan ceritanya disesuaikan dengan kepentingan dan kegemaran masyarakat saat itu. Kini, saatnya media-media online dengan konten dan narasi damai harus ramai dan masif digaungkan. Islami.co, Islamsantun.org, Alif.id, Harakatuna.co, dan lain sebagainya saya kira merupakan media yang menjadi salah satu upaya pelestarian dakwah kultural di bidang literasi. Sehingga semangat dan strategi para wali terus lestari di bumi Nusantara ini.

843 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini