Berjalan atau pekerjaan primordial kaki itu memang tidak sesederhana kelihatannya. Kaki-kaki para manusia awal menentukan bagaimana peradaban disebarkan dan dibangun. Namun, peradaban modern cenderung meminggirkan peran berjalan sebagai kesadaran budaya. Sering, penemuan-penemuan teknologis yang penopang mobilitas menempatkan peristiwa berjalan sebagai peristiwa udik, primitif, dan jelata. Selain gaya hidup berjalan sembari melihat-lihat atau flaneri diperkenalkan di Prancis pada abad ke-19 saat industrialisasi menciptakan metropolis atau abad ke-21 begitu membingkai kaki dalam wisata olahraga nan bergaya, orang-orang semakin mudah mengganggap berjalan kaki di keseharian karena “tidak ada pilihan lain”.

Menjumpai buku Frèdèric Gros berjudul A Philosophy of Walking (2020) untuk memikirkan lagi berjalan kaki memang hal ambigu sekaligus menantang. Gros membawa kita memikirkan berjalan kaki sebagai kebebasan, pengaturan ritme, kesadaran kontemplatif, penaklukkan naluri pada alam liar, peziarahan, ketahanan menghadapi kesendirian-kemonotonan, dan ekspresi kesendirian pembiasaan raga-sekitar yang diwaliki oleh pengalaman hidup para filsuf, pemikir, penulis dan  mistikus.

Ketika berjalan, seorang memang tampak sendirian tapi “tidak pernah sepenuhnya sendirian. Para pejalan kaki adalah orang-orang sadar melaju lebih lambat saat dunia menuntut berkejaran dengan kecepatan. Berjalan tidak hanya berurusan dengan diri sendiri, tapi berpaut dengan dimensi ekologi, geografi, politik, medis, intelektual, spiritual, ataupun ekonomi.

Sejarah pernah mencatat berjalan kaki nan spiritual dan politis Mahatma Gandhi diikuti para kaum termiskin di India sebagai epos kolektif untuk mengejek kuasa kolonialisme Inggris di India. Selama 44 hari menuju tepi laut di Dandi, Gandhi memimpin mars garam untuk menghapus pajak garam yang dimonopoli pemerintah Inggris. Di India, pekerjaan kaki adalah milik kaum perempuan dan kaum miskin. Gandhi menggunakan “energi-energi ketahanan yang pelan” itu untuk merengkuh kemerdekaan dan menghentikan eksploitasi.

Monoton

Yang lebih personal, Gros mengajukan pengalaman kaki Nietzsche. Tahun 1879-1889, Nietzsche “menjadi pejalan kaki yang melegenda dan tanpa tanding. Nietzsche berjalan, dia berjalan seperti halnya orang lain bekerja. Dan dia bekerja selagi dia berjalan.” Nietzsche membayar ongkos kereta api dari pegunungan ke laut atau sebaliknya, menginap di losmen-losmen kecil, dan menemukan rute bagi kakinya.

Dalam pengalaman hidup Nietzsche, berjalan kaki berefek pada intelektualitas dan cara pikir. Menulis tidak lahir dari kompilasi buku-buku atau bau pengap perpustakaan serta mengulang penjelasan yang monoton. Pada 1879 di desa Sils-Maria dengan jalan setapak yang menyegarkan, Nietzsche sendirian berjalan kaki sampai delapan jam sehari sembari menggarap The Wanderer and His Shadow.

Di sini, ekologi pedesaan dan pegunungan memang sangat menentukan untuk berjalan; menanjak, memanjat, dan mendaki. Di hadapan sang filsuf terhampar jalan-jalan setapak di gunung, bukit menuju desa kecil, padang-padang datar yang mengantarkan ke udara dingin dan jernih untuk penemuan dan kontemplasi.

Kerja berpikir dan menulis bukan kerja duduk dalam ruang tertutup, tapi cakrawala yang dibentangkan oleh raga tergerak, “kita menulis hanya dengan tangan; tetapi tulisan yang baik akan tercipta melalui kaki-kaki kita. Sang kaki adalah saksi yang sangat tepercaya, mungkin yang paling dapat diandalkan. Kita tentu menyadari jika sewaktu kita sedang membaca, sang kaki ‘menegakkan telinga-telinganya’—sebab sang kaki mendengarkan.”

Gros menegaskan bahwa para filsuf pejalan justru bukan orang yang benar-benar sehat. Kant berumur sampai 80 tahun dan mengidap sembelit. Nietzsche sering muntah dan sakit punggung. Mereka melakoni berjalan sebagai prasyarat pekerjaan, lebih dari relaksasi dan bukan sekadar pelengkap. Berjalan kaki benar-benar alasan raga ada.

Perjalanan kaki pemikir Rusia Immanuel Kant sangat karib dengan keteraturan dan kekonsistenan. Kaki Kant mengungkap suatu hal yang krusial, kemonotonan yang justru menjadi pelipur kebosanan sekaligus membebaskan pikiran. Gross mengatakan, “Saat berjalan kaki, selalu ada sesuatu untuk dilakukan: melangkah. Atau lebih tepatnya, tidak, tidak ada apa-apa lagi untuk dilakukan karena kita hanya melangkah, dan ketika kita sedang menuju suatu tempat atau menempuh rute tertentu, kita hanya harus terus bergerak.”

Kant mulai berjalan pada pukul 5 sore dalam rutinitas harian sarapan, memberi kuliah, menulis, dan berbincang tentang sains dan filsafat dalam kelompok kecilnya. Gros menulis, “Dia selalu mengambil rute yang sama, begitu konsistennya sampai-sampai kelak rutenya yang melalui taman dijuluki ‘Jalur Sang Filsuf’. Menurut kabar angin, dia hanya pernah mengubah rute wajib hariannya ini dua kali selama hidupnya: untuk mendapatkan edisi perdana buku Rousseau, Émile, dan untuk bergabung dalam kerumunan untuk mendapatkan berita terkini setelah pengumuman Revolusi Prancis. Sekembalinya dari berjalan kaki, dia membaca sampai pukul 10, lalu merebahkan badan di ranjang (dia hanya makan satu kali sehari), dan langsung tertidur.” Kant teguh mengalami risiko memonotonan semacam ini. Begitu mulai berjalan, kaki harus sampai.

Di kota tempat sebagian lebih manusia tinggal saat ini, berjalan justru menjelma siksaan; terputus, tersendat, dan tidak rata. Sering, berjalan metropolis-metropolis yang sangat melelahkan sekalipun tujuannya rekreasi. Tubuh dibuat frustrasi karena kemacetan, dikejar tenggat, jalur pedestrian rusak parah, etika berkendara terkikis, dan gengsi. Pergerakan komersialisasi dan tuntutan kerja serba cepat membuat anonimitas atau alienasi berlaku. Orang-orang kehilangan aturan dasar perjumpaan, tidak butuh ada sapaan. Mereka sepenuhnya menjadi individu terpisah dari sekitar.

Gros dalam buku sederhana ini menegaskan secara mendalam bahwa berjalan memang peristiwa dan proses, bukan sekadar sarana menuju sesuatu. Dari sini ke sana, kita tidak tahu rasanya tanpa satu langkah permulaan.

 

 

Identitas Buku

Judul              : A Philosophy of Walking

Penulis           : Frèdèric Gros

Penerjemah   : Meda H. Satrio

Penerbit         : Renebook

Cetak              : Kedua, Februari 2020

Tebal              : 284 halaman

ISBN               : 978-602-120-1862

 

 238 total views,  4 views today