Judul                : Persahabatan Rasulullah SAW dengan Kelompok Agama Lain

Penyunting      : Hengky Ferdiansyah

Tahun              : 2020

Penerbit           : Islami[dot]co

Tebal               : x+82 halaman

ISBN                : 978-602-52420-9-0

 

Michel Hart (1978) melihat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia nomer satu yang paling berpengaruh di antara 100 figur manusia lainnya di sepanjang sejarah riwayat hidup manusia. Sosok Nabi berpengaruh dalam segala aspeknya, baik dalam dimensi sosial, keagamaan, ekonomi dan politik.

Lintas kehidupan Nabi Muhammad SAW membuka suryakanta (Kehidupan) dunia. Budaya patriarkis, rasis, dan otoritarianisme direvolusi dengan terang-bijak. Jemalin budaya Jahiliyah disingkap menjadi budaya “baru” yang penuh gairah toleransi dan damai.

Membaca Persahabatan Nabi

Gapaian itu dijalankan dengan kokoh di atas garis bujur ajaran Islam dan nash-nash suci Alquran. Maka, lahirlah budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai kemasyarakatan dan kemanusiaan, di tengah perbedaan. Perbedaan nilai rahmah.

Mitologi fundamentalisme, dan rasisme kesukuan direformasi (kalau tidak direvolusi) menjadi sesuatu yang wasathiyah. Di tangan Nabi, semua sikap-sikap yang menjadi “belenggu” hidup masyarakat, seperti subordinasi perempuan diubah pelan-pelan dengan sikap-sikap cinta kasih yang bersandar pada prinsip ummatan wasathan (Alquran [2]: 143).

Terbuktilah, hampir semua orang di zamannya, menyanginya dan mengikuti ajarannya. Mengikuti misi Islamnya. Perilaku wasathiyah Nabi diterima oleh pemeluk agama lain dengan suka cita, tanpa paksaan dan ketakutan.

Tindak tanduk yang lepas dari egoisme keagamaan Nabi, dan melintas dari ras dan iman, memberi kobaran kerukunan bagi semua umat-umat beragama. Orang-orang merasa aman di samping Nabi. Kelembutan dan kebaikan Nabi mengantarkan pada penerimaan dan bangunan relasi antarsesama untuk kemajuan semua umat, khususnya umat muslim dan agama Islam.

Jalinan lembut interaksi Nabi dengan pemeluk agama lain, misalnya, induk dari aktualisasi ajaran Islam Allah. Aktualisasi Islam Allah dan Nabi bukan hanya berpijak pada tingkat tataran doktrin agama Islam. Tetapi, aktualisasi Islam Nabi didaratkan pada realitas empiris historis, sosiologis, dan kultural. Sehingga, ajaran agama Islam dan Islam itu sendiri, tidak menjadi agama yang (terlihat) jahat dan terkesan menakutkan. Tetapi Islam menjadi agama yang damai dan mendamaikan. Juga menyatukan.

Kontribusitas perilaku lembut Nabi, orang-orang agama lain (Yahudi), sangat welcome kepada Nabi dan simpatisannya. Sejarah mencatat, saat-saat Nabi membutuhkan bantuan pertolongan kepada orang-orang Yahudi, dalam peristiwa Perang Uhud, yang terjadi sekitar 3 H atau 626 M, orang-orang Yahudi membantunya dengan suka rela (halaman 36). Padahal, kita tahu, Yahudi dan Islam beda jauh antara visi misi ajarannya.

Di tengah silang saling pendapat persetujuan, karena bertepatan dengan Hari Sabat, hari besar Yahudi (kaum Yahudi tidak boleh melakukan peperangan kalau tidak begitu vital), Yahudi Bani Nadhir yang sebelumnya menandatangi kontrak perjanjian perdamaian di Madinah dengan Nabi, enggan memenuhinya. Tapi tak disangka, salah satu tokoh besar Yahudi, yaitu Mukhairiq dari Bani Tsa’labah yang kaya raya justru membantunya.

Mukhairiq, mengajak kaumnya, orang-orang Yahudi, untuk membantu Nabi dalam medan peperangan melawan orang-orang Quraisy Mekkah, yang mencoba mengacaukan Madinah. Mukhairiq, tak gentar, dan bahkan mengatakan dengan terang, bahwa menolong kepemimpinan Nabi Muhammad bagi orang-orang Yahudi adalah suatu kewajiban. Tak ada Hari Sabat, yang ada hari kebaikan untuk menolong orang-orang yang bakal menyinari kebaikan.

Mukhairiq bersama rombongan Yahudi menghunus pedang, arti mereka mau bertarung membantu Nabi menuju bukit Uhud. Mukhairiq ingin memenuhi janji kesepakatan hidup bersama untuk menjaga berdikarinya “Negara Madinah” dari kahancuran. Janji kesepakatan ini ditulis pada pasal ke-43 pada Piagam Madinah, wa anna bainahum al-nashr ‘ala man dahama yastrib, “sesungguhnya wajib bagi mereka muslim-nonmuslim untuk membela Yastrib (Negara Madinah), manakala diserang musuh”.

Demi kepentingan membela keutuhan negara Madinah dan Nabi, Mukhairiq memilih berperang melawan orang-orang musryik Quraisy daripada beritual di Hari Sabat. Bagi Mukhairiq, ritual Hari Sabat, tahun depan mesti ada. Tapi kekalahan negara, menjadi kehancuran yang membinasakan manusia termasuk ritual yang ada.

Orisinalitas Perjuangan

Patriotisme dan menjaga negara dari serangan musuh, yang berpotensi menghancurkan, lebih utama daripada membela ritualisme. Sebab, negara adalah wadah yang bisa menghantar penghuninya kepada hidup damai dan kemakmuran. Bahkan Alquran mengajarkan bahwa agar manusia menciptakan negara yang aman dan damai (baladan amina, Q.S. Ibrahim [14: 35-37). Menjaga negara adalah maqasid syariah (tujuan syariat) untuk merealisasikan kemaslahatan dan menolak kerusakan (tahqiq al-mashalih wa dar ‘al-mafasid) dalam kehidupan manusia.

Tujuan bernegara untuk mewujudkan kemakmuran bangsanya. Bila negara dibangun untuk merealisasikan kemaslahatan rakyatnya, maka membelanya juga merupakan keniscayaan bahkan kewajiban. Seperti Mukhairiq dan Nabi, menjaga adidaya Madinah, kita pantas juga membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gempuran hal-hal (seperti terorisme, separatis, kapitalistik) yang berpotensi merusak negara dari esksitensinya. Kita hari ini sering melihat gejala teroristik dan bencana dunia, bukan?

Sungguh, kita tak mungkin bisa menjalankan ritual agama dan pendidikan (thalabil ilmi) dalam rangka menjaga akal sehat (hifzh ‘aql) bila negara kita banjir bencana. Kita tak mungkin bisa menyelenggarakan aktivitas bisnis untuk menjaga harta (hifzh al-mal), manakala kondisi negara sedang perang dan kacau dan tidak aman (Mustqim, 2019). Itulah sebabnya, kita wajib merawatnya.

Sadar ke luar dan ke dalam

Seperti ajaran Nabi, menjaga negara tidak hanya sekadar mempertahankan eksistensinya (Pancasilanya), melainkan menjaga penghuninya. Kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia perlu dijaga dengan semestinya, yang kini kian dibabat habis oleh konglomerat oligarki kapitalistik lewat permainan pencabutan atau pembuatan undang-undang yang ada.

Potensi keduanya harus dimenemukenali atau dikelola dengan baik dan adil berbasis keindonesiaan. Sehingga berbuah kemaslahatan nan kemakmuran pada masyarakat di dalamnya (menjadi baldatun thayyibah bagi Indonesia, Q.S. Sabab’ [34]: 15).

Kita bisa saja minta suaka politik kepada semua orang (hal 17), dan membangun kerjasama antarnegara-antaragama seperti Rasulullah (hal 9), tanpa tembok pembatas. Tapi seperti penutup buku ini, sudah siapkah kita memberi keyakinan pada diri sendiri untuk berdikari dan adil pada bangsanya sendiri?

Meyakini kebijakan dan agama tentu sebuah keharusan. Tapi meyakini kebijakan dan agama sembari meninggalkan bangsanya adalah kesilapan.

Nabi selalu minta bantuan Yahudi (h 39), mendoakan nonmuslim (h 57), bahkan menikahi keturunan Yahudi (61). Tetapi Nabi juga tidak melupakannya. Nabi berbagi pangan dengan orang Yahudi. Nabi juga mencari suaka politik ekonomi dan berhutang kepada non-muslim.

Tapi kerjasama bilateral itu, tak dibuat meruwetkan penerus generasinya. Nabi membayar utang-piutangnya tanpa membebani penerusnya, meski untuk kepentingan bangsanya. Kendati itulah orang-orang simpati kepada Islam. Orang-orang Yahudi seperti Abdul Qoddus masuk Islam dengan otentik ketulusan hati karena sikap Nabi.

Sesungguhnya, Islam dilihat bukan karena ajarannya. Tapi Islam di mata nonmuslim/orang lain, dilihat dari bagaimana perilaku ummatnya.

Buku mungil Persahabatan Rasulullah SAW dengan Kelompok Agama Lain (2020), yang berbonus dua halaman ini, mengajarkan pada kita, bahwa menjunjung pilar-pilar persahabatan dan persaudaraan kepada pemeluk agama lain sungguhlah sangat perlu dan dibenarkan. Tanpa mengabaikan bangunan kemanusiaan antarsesama muslim itu sendiri.