Judul Buku: Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia: dari Berislam secara Teologis ke Berislam secara Humanis

Editor:           Aksin Wijaya

Penerbit:       Ircisod

Cetakan I:      1, 2019

Tebal:             228 halaman

ISBN:             978-623-7378-01-3

 

Syafi’i Maarif dalam Ilusi Negara Islam (2009) menjelaskan penyebab utama lahirnya gerakan radikalisme Islam. Menurutnya, tumbuh suburnya ekspansi gerakan transnasional itu karena tiga hal atau sebab.

Di antaranya: pertama, kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga umat Islam mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam bayangan dunia utopisnya; kedua, adanya dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Irak, Suriah, Mesir, Pelestina, dan Afghanasitan; ketiga, dalam konteks Indonesia, karena pemerintah dianggap gagal mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakatnya.

Dengan semakin maraknya tindakan kekerasan atas nama agama, Tuhan, dan nabi mutakhir ini, katagoris di atas bisa ditambah. Hemat penulis, bisa saja karena mereka tidak mendalami agama atau terlalu berjarak pada literatur keislaman yang jelas kredibel, otoritatif, dan autentik. Sehingga, mereka mencukupi keilmuan yang di dapat dari sumber yang tidak jelas (melalui media sosial misalnya) dan berani mengobral dakwah atas perspektif yang mereka punya. Dengannya, mereka menjadi pengkhotbah agama yang bising dan menyebabkan kericuhan antar umat beragama.

Tetapi, pelaku tindakan ektrem dalam konteks Indonesia dan dunia, tidak saja dilakukan oleh orang yang “dangkal” dalam pemahaman agama. Melainkan juga pada mereka yang sudah mendalami ajaran agama, seperti mahasiswa, akademisi, ustaz, dan aktivis agama. Kendati apa masalahnya?

Aksi Wijaya dalam Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia: Dari Berislam secara Teologis ke Berislam secara Humanis (2019) berhasil memotret dan menjawab penyebab itu. Menurutnya, salah satu indikator penyebabnya adalah, salahnya menalar ajaran agama, metode agama, dan kian egoisme saling merebut tafsir kebenaran atas nama agama.

Kontestasi Pemikiran

Dengan demikian, argumen dasar paham ekstrem penting untuk dilacak dan dibaca. Dari situ kita bisa mendedah bagaimana sikap dan wacana ekstremisme diproduksi dalam lanskap agama. Untuk menuju kesana, kita lebih dulu harus membedakan antara agama Islam dan pemikiran.

Ada perbedaan mendasar antara Islam dan pemikiran Islam. Islam adalah respons Ilahi terhadap realitias melalui Nabi Muhammad SAW. Sedang pemikiran Islam adalah respons manusia terhadap realitas melalui Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Menurut Wijaya, Islam pada dirinya hanya ada pada Tuhan semata, bersifat absolut, autentik, universal dan tidak mengalami perubahan sepanjang waktu.

Sebaliknya, hubungan Islam berhubungan dengan manusia, bersifat relatif, subyektif, partikuler dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Islam sebagai agama bersifat tunggal karena berasal dari Yang Maha Tunggal. Sedangkan pemikiran Islam beragam, karena lahir dari manusia yang beragam. Karena itu, muncul beragam pemikiran: ekstrem dan moderat.

Namun, pemahaman dan sikap ekstrem akarnya lahir dari paradigma eksklusif. Kelompok yang berparadigma eksklusif meraka cenderung melakukan klaim kebenaran terhadap tafsir keagamaan tertentu sembari menyalahkan yang lain. Ujungnya, mereka melakukan garis damarkasi: muslim/non-muslim, Islam/kafir, surga/neraka, kawan/lawan, salah/benar dan selanjutnya.

Menurut Wijaya, nalar ekstrem mereka dipengaruhi oleh pemikiran Islam yang berafiliasi pada gerakan Islam Transnasional, seperti Wahhabi, Ikhwan al-Muslimin, dan Hizbut Tahrir, serta mazhab fundamentalis Islam lainnya. Juga dipengaruhi oleh para tokoh-tokohnya seperti Muhammad bin Abdul Wahab, Ahmad Ibn Hanbal, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Qutb, dan Ibnu Taimiyah. Karena itu, perlu ada kontra narasi atau penggeseran paradigma: dari paradigma ektrem ke paradigma moderat; dari paradigma eksklusif ke paradigma inklusif; dari paradigma ingklusif ke paradigma pluralis.

Menalar Humanisme Islam

Bagaimana caranya? Praksisnya adalah mengembalikan kembali kesadaran bahwasanya agama dan segala ciptaanya bersumber dari sumber yang sama: Allah. Begitu juga dengan terciptanya berbagai konsep-konsep di atas.

Dengan demikian, maka ketiga konsep-konsep pemikiran di atas diporoskan pada pemikiran yang satu: keselamatan manusia di dunia (bukan di akhirat). Bila hal itu menjadi konvergensinya, maka semuanya harus mengakui keberadaan keabsahan atas masing-masing yang dimilikinya, bukan atas dasar hierarkis kebenarannya. Begitu juga harus mengakui dan menghormati kepada semuanya dan sesamanya.

Dengan kata lain, memosisikan lawan sebagai kawan. Misalnya Yahudi dan Nasrani dianggap sebagai kawan di dunia. Diajak protektif dalam menjaga kekayaan dan keutuhan negara, budaya dan bangsa dari gempuran kolonialisme dan paham ekstremisme dan sejenisnya. Dan diajak untuk produktif sekaligus developmental dengan menukangi apa-apa yang potensial untuk dikembangkan dan dikelola demi kemajuan bangsanya (QS. Saba’ [34]: 15).

Jika hal tersebut dilakukan, menurut Wijaya, maka itu telah mengacu pada makna generik Islam. Yaitu bahwa semua agama adalah bersumber dari satu jenis agama, yakni bagian dari monoteisme Islam dan hanifiyah Ibrahim: semuanya prinsip ajaran nabi dan rasul dari yang sama: Tuhan. Karena itu ia mendorong untuk saling mengenali dan menghormati dan menjaga persatuan (al-Hujarat: 13 dan al-Haj: 65), mengajak semua kepada kebaikan, dan melarang perbuatan mungkar (Ali Imran: 104), menganjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa (al-Maidah: 2).

Konsep kesatuan dasar ajaran ini membawa pada konsep kesatuan kenabian dan kerasulan, yang berarti pula membawa kepada konsep kesatuan umat beriman sebagaimana disinggung di dalam Al-Qur’an, “sesungguhnya ini adalah ummatmu semua (wahai para rasul) yakni umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah aku (saja)” (al-Anbiya’:92).

Atas dasar itu, menurut Wijaya, Islam Yahudi dan Islam Nasrani atau sebaliknya diposisikan sebagai kawan dalam berkomunikasi, berbisnis, berpendapat, dan lainnya, baik secara lisan dan gerak ragawi, dan “lawan” dalam bertukar tambah pikiran—seperti telah dicontohkan di atas. Tapi keduanya harus disikapi secara apresiatif, kritis dan humanisme (hal. 170).

Dengan demikian, maka esensi Islam menjadi jalan keluar: tidak terjebak pada struktur nalar eksklusivisme agama, relativisme agama, singkritisisme agama, fundamentalisme agama, dan radikalisme agama. Sebab, semua agama Samawi berpadu pada esensi yang sama: sikap kepasrahan total manusia kepada tuhannya: Allah SWT.

Dengan proses itu, maka ajaran agamaisasi kekerasan dapat berubah menjadi agamaisasi kedamaian. Dari ajaran Islam yang hanya berfungsi sebagai pemersatu emosional agama. Tapi bergerak berubah pada arah cara pandang pembagunan wacana yang humanistik dan ramah terhadap pluralisme agama dan perbedaan agama.

Maka itu, ajaran Islam (imani) bercorak humanis (antroposentris) ini akan menjadi maslahat bagi sesama dan meniscayakan cinta keindonesiaan. Dengan konsep/nalar ini, kita bukan hanya santun dalam ritual, tapi berbudi dalam spiritual. Serta dapat meningkatkan kualitas keimanan, kebangsaan, kemanusiaan, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Semoga. []