Sejarah keaksaraan dengan misi politik pembangunan pernah mempengaruhi sistem pendidikan terutama pada bacaan anak. Pada masa Orde Baru, Soeharto rutin membuat sayembara menulis buku anak untuk diterbitkan. Kehadiran buku bacaan anak berstempel Inpres secara komunal membentuk identitas sosial dalam memperkenalkan misi pembangunan.

Meskipun dasarnya dalam literatur anak memuat misi politis, namun sebagian buku bacaan anak juga mengandung pelajaran keluarga, ekologi, etika-moral, kemanusiaan, kebudayaan, kesejarahan bangsa, dan kolonialisme. Peristiwa ini setidaknya menjadi ingatan bahwa metode pengajaran lisan dan keaksaraan pernah mempengaruhi perkembangan psikologis dan pemikiran anak-anak Indonesia.

Melimpahnya literatur anak ini termuat dalam buku Pengisah dan Pengasih (2019) gubahan Bandung Mawardi. Mawardi memperjelas bahwa politik-ekonomi pembangunan Orde Baru turut mempengaruhi bacaan sekaligus pemikiran anak. Anak-anak seolah menjadi objek yang dipaksa untuk memahami politik, ekonomi, sosial, agama, dan budaya.

Di masa Orde Baru, bacaan anak banyak memuat kisah orang-orang yang menempuh pendidikan tinggi yang, harus kembali membangun desa untuk mengentaskan kemiskinan. Cara dan doktrin pembangunan ini berkembang dari kelas menengah ke perdesaan. Misi urbanisasi tidak sekadar sebagai alat Soeharto untuk mengentaskan kemiskinan, namun membentuk gaya hidup, identitas keagamaan, dan sosial-kebudayaan di Indonesia.

Di antara ratusan buku bacaan anak yang dihasilkan Orde Baru, Mawardi hanya memilih 21 bacaan anak dengan tema ekologi, kemanusiaan, keluarga sebagai bahan pengisahan. Ia berambisi mengisahkan bacaan anak untuk melampiaskan kekesalan dan keresahan di zaman digital. Sebab perubahan zaman telah mengubah tradisi kelisanan masyarakat Indonesia. Hal ini sering kali terjadi pada orangtua. Mereka mengalami krisis dedongengan sebagai bahan cerita untuk anak-anak di rumah.

Kesadaran Mawardi untuk mendongengkan kembali bacaan anak di tengah puncak modernitas teknologi-digital supaya dapat mempengaruhi orangtua dalam mendidik anak. Sebab, para orangtua sudah tidak terbiasa memberikan pengajaran kelisanan atau dedongengan untuk merangsang imajinasi anak. Mereka lebih memilih cara instan secara sadar memberikan gawai sebagai teknologi yang dianggap mampu mewakili kebebasan ragawi anak.

Kebebasan ekspresi anak di zaman digital pada akhirnya hanya akan melampiaskan kebiasaan menghibur diri seperti kecanduan media sosial dan game. Kebebasan tubuh atas dorongan teknologi menciptakan pengaruh pedagogis yang malah menjauhkan bacaan anak dalam kehidupan sehari-hari. Kontestasi global di tengah modernitas antara digital dan cetak mempengaruhi sistem pengajaran pendidikan. Perubahan ini bergerak begitu dinamis dan sering kali membuat para pengajar (guru dan orangtua) melupakan cerita rakyat, dongeng, mitos, dari bacaan anak sebagai bahan pengajaran dan ingatan sejarah pendidikan masa silam.

Menjenguk Ingatan

Pada tahun 1980-an, menandai masa melimpahnya buku-buku bacaan anak terbitan Inpres. Pengisahan Mawardi pada bacaan anak juga memuat informasi penulis bacaan anak paling kondang di masa itu, salah satunya Mansur Samin. Bahkan, ia menyebut Mansur Samin adalah salah satu penulis yang paling produktif dan menjulukinya sebagai “Raja Buku Inpres.”

Kita bisa menyimak ungkapan Mawardi “Tahun-tahun berdatangan, Mansur Samin menekuni penulisan buku untuk bacaan anak-anak di seantero Indonesia. Ia menulis 50-an buku anak. Linus memuat sekian judul buku anak garapan Mansur Samin: berlomba dengan Senja, Parut, Lepas, Si Masir, Si Belang, Luhut, Pesan Sebatang Mangga, Warna, Tagor dari Batangtoru, Empat Saudara, Tidak Putus Asa, Urip yang Tabah, Telaga di Kaki Bukit, dan lain-lain. Jumlah buku memantaskan ia menjadi Raja Buku Inpres (hlm. 39).”

Ketekunan Mansur Samin sebagai penulis bacaan anak tampaknya tidak sekadar mematuhi misi dan peraturan Soeharto. Ia salah satu penulis yang mempertimbangkan mutu bacaan anak. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam cerita tidak melulu memuat misi pembangunan tetapi juga memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Gagasan ini seperti terangkum dalam kisah Si Masir (1960). Kisah seorang anak nakal yang bernama Masir dari keluarga miskin.

Dalam cerita, Masir adalah seorang anak nakal yang tidak mau sekolah. Tokoh Masir jauh dari contoh yang ingin diciptakan Orde Baru sebagai teladan untuk anak. Namun, melalui cerita Si Masir, Mansur Samin sebenarnya ingin memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah pada sektor pendidikan yang tidak merata. Pendidikan di kota selalu terlihat lebih bermutu dan terjamin dari segi fasilitas ketimbang di desa. Secara geografis, pendidikan di desa senantiasa jauh tertinggal seperti melambatnya pola-pikir anak, mutu kurikulum, akses bacaan, dan tenaga pengajar. Persoalan sosial ini yang sebenarnya ingin dikemukakan dalam cerita Si Masir sebagai kritik terhadap dikotomi pendidikan di kota dan desa.

Pengisahan dalam buku anak tidak hanya memunculkan kritik, tapi juga memuat pelajaran pokok yaitu menumbuhkan nilai kemanusiaan pada anak. Melalui buku anak berjudul Si Miskin Yang Dermawan (1970) gubahan Prabandanu, anak-anak diajarkan untuk berbagi ke sesama. Cerita bermula di Kadipaten Wukirdadu, negeri yang digambarkan subur dan makmur. Kadipaten itu dipimpin oleh Adipati Gandarum, seorang raja yang kaya raya dan juga dermawan. Namun, untuk mengetahui jiwa sosial atas kemakmuran rakyatnya, ia menyamar sebagai pengemis.

Dalam cerita, Adipati Gandarum bertemu dengan Ki Bandulwesi, seorang nelayan miskin tapi sangat dermawan. Meski di tengah himpitan kemiskinan, Ki Bandulwesi setiap hari senantiasa berbagi makanan pada orang miskin yang kelaparan. Ia meyakini bahwa berbagi akan menciptakan kerukunan, kemanusiaan, dan keindahan. Adipati Gandarum terpukau melihat kedermawannya, meski miskin tapi tetap berbagi. Ia pun memutuskan untuk menguji kedermawanannya. Bertubi-tubi ujian Adipati Gandarum pada Ki Bandulwesi tidak berhasil.

Ki Bandulwesi tetap mengamalkan keyakinannya untuk berbagi ke sesama manusia. Cerita mengajarkan pada anak pentingnya menumbuhkan jiwa kemanusiaan. Kesadaran untuk beramal tidak lantas harus diukur dengan strata sosial kaya atau miskinnya seseorang. Sebab, pentingnya berbagi ke sesama pada dasarnya bermula dari kesadaran dan keikhlasan untuk menumbuhkan jiwa kepedulian dan kemaslahatan sosial.