A. Dardiri Zubairi*

Bicara Madura bicara Islam. Melepaskan Madura dari Islam ibarat melepas asin pada air laut. Suatu perbuatan sia-sia tentunya. Di sini Islam bukan saja bermakna sebagai agama mayoritas di Madura, tapi juga telah menjadi identitas kemaduraan. Madura ya Islam.

Bicara Islam (di) Madura berarti bicara bagaimana Islam diperkenalkan, diajarkan dan dilembagakan pada dan oleh orang Madura. Di sini kita tak bisa menafikan peran langgar, madrasah, dan pesantren sebagai penerus dakwah para wali di Madura.

Harap dicatat, 3 institusi yang menjadi pusat pengembangan keislaman ini mengajarkan Islam yang memiliki mata rantai keilmuan dengan jaringan ulama Nusantara. Berarti Islam yang diajarkan adalah Islam ala ahlussunah waljamaah dimana NU sebagai organisasi yang memintal, memelihara dan mengorganisasikannya. Wajar jika kemudian dikenal bahwa agama orang Madura adalah “agama” NU.

Jadi memisahkan Madura dari NU, sebagaimana kecenderungan yang tampak akhir-akhir ini, tidak saja tuna sejarah, tapi yang paling menghawatirkan adalah melepas secara paksa Madura dari karakter keberagamannya, ahlussunnah waljama’ah annahdliyah. Jika ini terjadi sungguh kerugian yang sangat dahsyat, karena Islam yang (akan) berkembang tidak lagi berjejak pada identitas kemaduraan lengkap dengan tradisi dan kebudayaannya.

Fakta inilah yang saya saksikan akhir-akhir ini, terutama sejak aksi 212 dan dilanjutkan dengan hiruk-pikuk pilpres yang persoalannya bukan sekedar dukung A atau B, tapi eskalasinya meluber pada corak keberagamaan yang menyertainya, rigid dan makin kaku.

Setidaknya saya melihat beberapa kecenderungan yang by design ingin memisahkan Madura dari Islam Ahlussunah Waljama’ah Annahdliyah.

Pertama, massif disosialisasikan hingga akar rumput bahwa tak penting NU, yang penting Ahlussunah waljama’ah. Sembari mengekslusi NU sekarang yang dikampanyekan bukan NU-nya mbah Hasyim Asy’ari, karena dipimpin oleh supir yang gak tepat, liberal, syi’ah, dan seterusnya. Hoax banget kan.

Kedua, ada kecenderungan seolah orang NU ingin dibenturkan dengan habaib. Jika tidak mendukung organisasi tertentu yang baru (di)hadir(kan) di Madura seolah tidak hormat terhadap habib. Pada hal semua tahu, NU lah yang mengajarkan kecintaan pada ahlul bait. Tak ada orang NU yang tidak cinta habaib. Jika kemudian orang NU hanya karena tak mendukung organisasi tertentu dilabeli tidak mencintai habaib adalah tindakan sumir. Setia pada NU hakikatnya juga ikut habaib, semisal habib lutfi, habih syekh, habib jindan dsb.

Ketiga, penghormatan terhadap guru ngaji dan guru awal (istilah orang Madura “guru reba’an”) mulai tergerus dengan memperhadapkannya terhadap ustadz-ustadz baru yang didrop dari Jakarta. Yang dekat jauh, guru yang jauh terasa dekat. Ini menunjukkan ada pergeseran pandangan orang Madura terhadap guru (terutama guru reba’an) yang posisinya begitu dihormati sesuai kearifan lokal Madura, “bhappa’, bhabbu’, guru, rato”.

Sayangnya lagi, ustadz dari Jakarta yang didatangkan ke Madura memiliki rekam jejak sebagai jurkan ketimbang sebagai pemangku keagamaan. Ceramah yang sejatinya mengasah ketajamam spriritual dan pemihakan pada kaum lemah berubah menjadi ceramah yang penuh agitasi untuk memenangkan politik kekuasaan tertentu.

Dan kalau cermat ditelisik, banyak juga ustadz yang didatangkan ke Madura sebenarnya tidak memiliki kesamaan pengetahuan dan tradisi keagamaan dengan orang Madura. Sang ustadz bukan menguatkan tradisi, malah bisa melemahkan tradisi.

Sebagai imbasnya, kelompok yang dalam rekam jejaknya tidak memiliki sanad keilmuan yang sama dengan orang NU di Madura juga mendatangkan ustadz-ustadz gaul dari Jakarta, bahkan di kabupaten tertentu merangsek hingga beranda pemerintah daerah. Ini cukup intens terutama di masjid-masjid perkotaan. Mereka datang menumpang melalui gerakan subuh berjamaah, penggalangan donasi untuk muslim syuriah, biker nasional dsb.

Ilustrasinya kira-kira begini, organisasi baru yang didukung beberapa tokoh agama membabat alasnya terutama menyasar pada nahdliyin pedesaan, sementara kelompok yang lebih kanan semisal eks hti atau wahabi memanfaatkan babatan alas tadi untuk juga merangsek ke Madura terutama menyasar ke muslim urban.

Keempat, sebagai kelanjutannya dari panetrasi kelompok-kelompok kanan banyak bertebaran idiom-idiom keagamaan yang berkelit-kelindan dengan kentalnya kepentingan politik kekuasaan yang bersifat profan. Sebut saja idiom khilafah, nkri bersyariah, jihad, dan stigma bagi kelompok yang berbeda sebagai bid’ah, kafir, jahiliyah, antek PKI, antek asing, antek Yahudi, liberal, dsb menghiasi pengajian-pengajian offline dan online yang telah banyak merubah pandangan keagamaan masyarakat Madura.

Idiom yang dimaknai baru ini sedikit banyak mengentalkan rigidnya pemahaman keagamaan masyarakat Madura yang karakternya memang bercorak fiqih ketimbang tasawwuf. Di sinilah kita bisa melihat kedatangan kelompok kanan berikut dengan ustadznya menjadi tantangan sendiri bagi NU dan perlu diseriusi untuk direspon sebelum terlambat.

Ke depan pertarungan ideologi akan makin menguat. Kelompok kanan yang memang biasa menyeret agama dalam praktik politik kekuasaan akan terus bermain dalam pil-pil sejak tingkat nasional dan mungkin hingga tingkat desa. Jika kita abai dan diam, corak keberagamaan masyarakat Madura yang ahlussunnah waljamaah annahdliyah akan terus kabur dan pelan-pelan menjadi asing. Saatnya, kita merancang skenario gerakan keagamaan dan sosial untuk merespon soal yang menantang ini.

*Budayawan Madura

 2,587 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini