Jumat sore menjelang berbuka puasa kemarin, buku tulisan Kalis Mardiasih untuk yang kesekian kalinya sampai di rumah saya. Memang sengaja saya memesan dan ikut pre-order buku ini sudah sejak sebulan lalu. Bukan untuk apa-apa, melainkan saya memang tertarik dengan gaya berpikir lugas dan ringan ala Kalis yang selalu ia sematkan dalam setiap tulisannya.

Sister Fillah, You’ll Never be Alone menjadi buku keempat milik Kalis yang saya ketahui. Itulah yang tertera di penjelasan “Tentang Penulis” pada bagian akhir buku Sister Fillah ini. Sebelumnya, Kalis pun telah menulis beberapa buku dengan gayanya yang khas dan santuy, mulai dari Berislam seperti Kanak-Kanak (2018), Muslimah yang Diperdebatkan (2019), sampai pada Hijrah Jangan Jauh-jauh, Nanti Nyasar (2019).

“Saya akan mengusulkan subsidi pembalut untuk perempuan miskin,” (hal. 76). Ini salah sati contoh karakter tulisan yang kuat dari Kalis.

Alih-alih menawarkan subsidi makanan pokok ataupun kosmetik bagi perempuan, Kalis justru melihat adanya permasalahan sekaligus fenomena dalam permasalahan reproduksi bagi perempuan, salah satunya menstruasi. Fix, ini menjadi hal yang setiap bulan dihadapi oleh perempuan, tetapi cenderung jarang dibicarakan karena dianggap tidak serta merta menjadi isu paling penting bagi perempuan dan tubuhnya.

Ulasan Kalis secara singkat dalam bab tersebut memang menggelitik. Namun, sebagai seorang perempuan, hal ini mungkin akan menjadikan kita tersenyum kecut terhadap apa yang dihadapi perempuan setiap bulannya. Meski memang disadari, dewasa ini, isu mengenai kesehatan reproduksi perempuan—bahkan wacana tentang pembalut ramah lingkungan—mungkin sudah banyak dibahas di masyarakat.

Buku Sister Fillah ini memang didapuk Kalis dan diperuntukkan khusus bagi semua perempuan yang mengambil keputusan, berani bersuara dengan segala risiko, saling berbagi cerita, sekaligus saling menguatkan. Sekilas, secara redaksional ini dipilih Kalis untuk memberikan penekanan bahwa buku Sister Fillah-nya memang dikemas untuk mengulas dan menganalisis kisah seputar perempuan yang tidak hanya berhenti pada fiksi semata, melainkan juga pada apa yang telah dan sedang dihadapi oleh perempuan saat ini.

Secara garis besar, Kalis membagi alur bukunya ke dalam 21 sub bahasan. Mulai dari membahas perempuan dan aspek kemanusiaan (hal. 1), perempuan dan wujud kesetaraan (hal. 43 dan hal. 49), seputar pentingnya pendidikan seks bagi perempuan (hal. 65), sampai dengan peran perempuan dalam perdamaian (hal. 98).

Lantas, apa yang menjadi salah satu identitas muslim bagi seorang perempuan? Kalis dalam bukunya memaparkan bahwa jilbab memberikan nuansa berbeda bagi perempuan Indonesia dalam menunjukkan atribut fisik pada apa yang dikenakan oleh para muslimah. Menurutnya, jilbab tidak hanya dihayati sebagai alat kesalehan pribadi, tetapi juga identitas politik yang melekat pada gerakan massa tertentu (hal. 28).

Buku Sister Fillah ini semakin spesial melalui kata pengantar yang disampaikan secara khusus oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. Beliau merupakan Founder Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) serta Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta. Buku ini dipandang mampu menjadi pilihan bagi para perempuan untuk dapat bersikap kritis atas sejumlah tafsir agama, khususnya bagi mereka yang hidup di dalam konteks masyarakat yang masih memosisikan perempuan sebagai subjek domestik dan sekunder.

Memilih untuk bekerja ataupun tidak bekerja, mengenakan hijab ataukah tidak mengenakan hijab, sampai pada terpojok antara dua ideologi perkara hijab, buku Sister Fillah cukup menjadi rujukan dan alternatif tersendiri untuk menghiasi pemikiran para perempuan yang berani bersuara, layaknya Kalis Mardiasih. Tentu, bukan dalam hal untuk berani menentang kodrat, melainkan lebih pada mengedukasi sikap dalam memandang dan membaca bagaimana perempuan seharusnya mampu memeroleh tempat yang semestinya dan posisi kesetaraan yang sewajarnya.

Paling tidak, buku ini dapat menggambarkan apa yang terjadi pada kondisi perempuan di Indonesia dengan cara yang lebih faktual sekaligus apa adanya. Bahwa perempuan itu multitasking. Bahwa eksistensi kemanusiaan perempuan itu ada dan penting serta setara dengan laki-laki. Dan bahwa perempuan tidak hanya sesederhana dalam lagu kisah cinta yang sedang viral, melainkan memiliki kesadaran yang sama pentingnya sebagai seorang manusia di hadapan Allah Swt.

 

Identitas buku:

Judul                            : Sister Fillah, You’ll Never be Alone

Penulis                        : Kalis Mardiasih

Cetakan                       : 1, April 2020

Penebit                        : Qanita (PT Mizan Pustaka)

ISBN                            : 978-602-402-177-1

Jumlah halaman        : 126 halaman

 304 total views,  4 views today