Abraham Zakky Zulhazmi*

Di dunia yang fana ini sering kali kita merasa kosong dan sepi. Segalanya menjadi kehilangan makna. Berjalan pun tak tentu arah. Berkenaan dengan itu, kiranya ada sejumlah nasihat Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang penting kita catat dan ingat. Pertama, kematian merupakan hal yang paling dekat. Ya, kematian tak pernah memberi aba-aba sebelum tiba. Ia datang begitu saja.

Sering kita dengar kisah-kisah kematian yang begitu mendadak dan tak terduga. “Wah, tadi pagi masih segar, masih ngobrol sama saya, kok siangnya sudah meninggal. Padahal masih muda lho.” Tuturan semacam itu sering kita dengar. Juga cerita-cerita seperti ini: habis main futsal dan cetak banyak gol, pulang dari lapangan, mandi, tiba-tiba sudah tak bernyawa. Pagi masih mengajar, ketika salat dhuha tak bangun lagi.

Cerita tentang kematian yang mengejutkan itu menunjukkan kepada kita bahwa sejatinya kematian itu dekat adanya. Ia juga tak pilih-pilih usia. Tak selalu yang tua yang dekat dengan kematian. Cerita mati muda ada banyak jumlahnya, juga anak-anak balita yang meregang nyawa. Maka benar jika dikatakan yang paling dekat dengan kita adalah kematian.

Hanya saja, saat kita meninggalkan dunia, apa yang kita tinggalkan untuk dunia ini? Sudahkah kita meninggalkan karya yang kelak layak dikenang? Sudahkah kita dikenal karena kebaikan kita atau malah justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menghantui. Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Kedua, memegang amanah merupakan perkara yang paling berat. Suatu kali Al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya. Benda apa yang paling berat di muka bumi ini? Muncul beragam jawaban. Ada yang menjawab gajah, batu, besi dll. Namun menurut Al-Ghazali, yang paling berat adalah amanah.
Amanah atau tanggung jawab bisa mewujud dalam bermacam-macam hal. Bagi seorang dosen/guru amanah berupa mahasiswa/murid. Amanah seorang pemimpin adalah anak buahnya. Sedang amanah presiden adalah rakyatnya.

Menjadi pemimpin atau penguasa berpotensi membuat seseorang terlena. Alih-alih menyejahterakan rakyatnya, pemimpin yang keblinger justru membuat rakyat sengsara. Karena punya wewenang, ia bisa melakukan segalanya. Inilah “bola panas” itu, jika tak bijak menggunakannya, justru akan mencelakakan pemegangnya, di dunia maupun di akhirat kelak. Jadi, terhadap amanah yang diemban sudah seharusnya kita berhati-hati.

Ketiga, Ikhlas merupakan sesuatu yang paling sulit. Pelajaran tentang ikhlas ini diilustrasikan seorang kawan seperti prosesi buang air besar (BAB). Tak ada perasaan berat atau eman-eman terhadap apa yang telah kita keluarkan saat BAB. Meski agak jorok, ilustrasi itu ada benarnya. Begitulah seharusnya ikhlas. Merelakan segalanya. Legowo. Plong.

Namun, dalam beberapa hal, sebagaimana disampaikan Al-Ghazali, ikhlas tidak mudah, bahkan merupakan hal yang paling sulit. Ikhlas menerima kekalahan misalnya. Di manapun kekalahan tentu menyakitkan. Kekalahan dalam “pertandingan” apapun. Hanya mereka yang berjiwa besar dan berdada lapang yang bisa ikhlas menerima kekalahan.

Ikhlas berlawanan dengan riya’. Di dunia kerja misalnya, sering kita temukan seseorang mendadak rajin bekerja jika diawasi pimpinan. Tiba-tiba giat bekerja dengan mengharap pujian dari atasan. Padahal, sebagaimana dituturkan Al-Ghazali, ikhlas artinya menjadikan segala amalan hanya untuk Allah, pujian dan kecaman dari manusia tak membuat hati kita berubah atau berpaling.

Sebetulnya masih ada sejumlah pesan Al-Ghazali lainnya yang penting untuk menjadi renungan. Namun kiranya tiga pesan di atas dapat membuat hidup kita lebih bermakna, yakni dengan selalu mengingat mati, teguh memegang amanah dan berlaku ikhlas dalam segala hal. Wallahu a’lam.

 885 total views,  2 views today