Abd. Halim*

 

Dalam istilah agama, dewasa biasa disebut sebagai aqil – baligh (عاقل – بالغ). Istilah ini memiliki dua dimensi, pertama dewasa secara nalar dalam artian bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Kedua, aspek umur, yakni secara umur seseorang akan dikatakan dewasa jika mencapai umur tertentu.

Imam jalaluddin al-Suyuthi saat menafsirkan frase balagha asyuddahu (terjemah: dewasa) dalam Q.S al-Ahqaf [46]:15 menyatakan bahwa dewasa itu adalah sempurnanya kekuatan, akal dan pendapat seseorang. Biasanya seseorang mulai dewasa saat umur 30 atau 33 tahun sedangkan kedewasaan yang matang berada saat ia berumur empat puluh tahun.  Dalam riwayat Ibnu Abbas, seseorang dikatakan dewasa saat umur dua belas tahun.

Perbedaan penjelasan para ulama mengenai kapan umur seseorang bisa disebut dewasa ini menunjukkan bahwa sikap dewasa itu adalah pilihan. Dalam peribahasa yang sering kita dengar, maturity is not natural, it is a choice! Kedewasaan itu bukan suatu yang alamiah tetapi ia adalah pilihan. Karena ia adalah pilihan, maka untuk menjadi dewasa, seseorang harus mengusahakannya.

Ashwathi Mohan, Jurnalis asal India menyatakan bahwa  setidaknya ada tujuh kriteria yang menandai seseorang dikatakan  dewasa. Di antaranya adalah:

  1. Willingness to learn (keinginan kuat untuk selalu belajar).

Ada banyak hal di luar kita yang tidak kita pahami secara utuh sehingga dibutuhkan untuk selalu belajar tentang banyak hal.

  1. Respecting Differences of Opinion (menghargai perbedaan pendapat)

Kedewasaan tidak melulu berkembang saat umur bertambah, ia bisa diperoleh jika kita menguasai seni menghargai perbedaan yang terjadi di masyarakat. Menghargai perbedaan akan membuat kita fleksibel bergaul dengan banyak orang yang memiliki latar balakang pendidikan, ideologi, dan bahkan pillihan politik yang berbeda-beda.

  1. Understanding and managing emotions (memahami dan mengatur emosi)

Kontrol emosi menjadi bagian yang sangat penting dalam pergaulan sehari-hari. Ada waktu-waktu dan situasi-situasi tertentu yang memang menguras perasaan hati tetapi kita harus tetap tenang dan tidak reaksioner secara berlebihan. Merespons segala sesuatu dengan gegabah sering menimbulkan rasa malu di kemudian waktu karena kesalahan persepsi atau karena faktor bagaimana kita merespons masalah tersebut secara emosi.

  1. Taking responsibility for your happiness (bertanggungjawab untuk menggapai kebagaiaan)

Kita menyadari bahwa kita bukan pusat dari kehidupan sehingga menjadi pusat perhatian banyak orang. Kita harus berusaha untuk melakukan sesuatu untuk menemukan wujud kebahagian itu dengan tindakan-tindakan bermanfaat baik untuk diri kita maupun orang lain.

  1. Capacity and endure uncertainty (memiliki kapasitas untuk menghadapi ketidakpastian)

Dalam menjalankan kehidpan ini, tidak semua yang kita harapkan akan sejalan dengan kenyataan. Kesiapan mental dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan adalah tanda kedewasaan yang paling penting. Dalam bahasa agama, ia bisa disebut dengan sikap sabar, qonaah dan tawakkal.

  1. No Excuse. Only changes (tidak banyak alasan! Berubahlah)

Seseorang yang dewasa percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak gratis. Semuanya butuh usaha dan tidak tempat untuk membuat-buat alas an untuk bermalas-malasan. Ia harus menjadi penentu untuk melakukan perubahan-perubahan dalam menggapai tujuannya.

  1. Knowing when to stop to arguing (mengetahui kapan berhenti berdebat)

Seseorang yang dewasa paham kapan ia harus angkat bicara dan kapan ia harus berhenti dan menjadi pendengar serta menahan dari mengomentari sesuatu yang bukan bidangnya. Ia tidak reaksioner dengan sesuatu yang sebetulnya ia tidak paham secara utuh sehingga memilih diam atau menyelidiki secara mendalam tentang duduk persoalan yang sedang dihadapi.

Dari ketujuh karakter atau tanda-tanda orang dewasa ini, barangkali kita bisa mengukur seberapa dewasakah kita? Seberapa dewasakah masyarakat kita hari ini?  Wallahu a’lam.

 

 1,004 total views,  3 views today