Mendapat julukan sebagai ‘Pemuda’ adalah sebuah tantangan besar di masa yang akan datang yang harus siap dihadapi dan dipersiapkan. Sebab pemuda adalah harapan terciptanya sebuah bangsa yang berkeadaban, jika pemudanya baik, kompeten dan tahan banting, maka peradaban suatu bangsa akan baik pula, jika sebaliknya, maka hanya kehancuran yang akan melanda. Oleh karenanya jauh beribu-ribu abad yang lalu pepatah Arab mengatakan “syubbanul yaum rijalul gad” bahwa pemuda hari ini merupakan pemimpin di masa depan. Di samping itu, terdapat sebuah riwayat, bahwasanya seorang Nabi (tidak ada keterangan lebih lanjut Nabi yang dibahas) telah memberikan isyarat kepada para pemuda untuk melakukan tiga hal, yang tertuang dalam kitab Nasaihul ‘Ibad karangan Syeikh Nawawi al-Bantani (Maqalah ke-14 dari bab tsulatsi). Berikut redaksinya:

“Suatu ketika seorang pemuda dari Bani Israil ingin menuntut ilmu ke luar negeri. Maka kabar itu sampai pula kepada Nabi mereka pada saat itu. Pemuda itu kemudian dipanggil untuk menghadap kepada seorang Nabi tersebut, saat itu pula Nabi itu bersabda kepadanya: “Wahai pemuda, aku akan memberikan nasihat kepadamu dengan tiga perkara yang di dalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Pertama. Kamu harus takut kepada Allah Swt, baik secara terang-terangan di tempat umum. kedua, jagalah lisanmu dari mengumpat orang lain, janganlah menceritakannya kepada siapapun kecuali tentang kebaikannya. Terakhir, telitilah pada makananmu yang hendak kau makan, sehingga kau memakan dari barang yang halal. Akhirnya pemuda tersebut tidak mau pindah ke tempat lain untuk mencari ilmu”

Tiga nasihat di atas menegaskan bahwa menjadi pemuda bukan berarti bebas dalam menjalani kehidupan (berleha-leha di zona nyaman), menjadi pemuda juga memiliki aturan mainnya. Dari riwayat di atas tiga hal yang perlu dipegang oleh pemuda masa kini, agar kuat dan tahan banting dalam menjalani kehidupannya, terutama ketika ditimpa cobaan dan ujian hidup.

Pertama, pemuda harus memiliki semangat religiusitas yang tinggi. Hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemuda adalah memperkuat akidah. Seorang pemuda wajib mengamalkan nilai-nilai yang tertuang dalam agama, salah satunya dengan mengingat Tuhan kapanpun, di manapun dan bagaimanapun keadaannya, sebab jika nilai-nilai tersebut telah tertanam kokoh dalam jiwa seorang pemuda, maka segala sesuatu yang diperbuat, dilakukan, dan dikatakan akan termanifestasikan layaknya sifat-sifat Tuhan sebagaimana yang tercermin dalam asma’ul husna, sifat Rahman, Rahim, ‘adil dan lain sebagainya.

Nasihat pertama ini, sebenarnya telah diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya pada kisah Luqman yang menasihati kepada anaknya, perintah pertama yang beliau tekankan adalah masalah akidah, sebagaimana dalam firman-Nya QS. Luqman ayat 13:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Kedua, pemuda harus memiliki jiwa sosial dalam berinteraksi dengan sesama, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Hakikatnya pesan ini merupakan implikasi dari pesan pertama yang telah diamalkan, yakni akan menumbuhkan pribadi yang Rahman, Rahim kepada sesama makhluk, tidak muncul sikap apatis, cuek, mengumpat bahkan saling memusuhi. Banyak sekali keuntungan seorang pemuda ketika ia telah memiliki jiwa social salah satunya adalah akan memperluas jaringan, tidak merasa sombong, dan tidak akan merasa sendiri. Dan lagi-lagi pesan ini telah diabadikan dalam kisah Luqman sebagaimana dalam QS. Luqman ayat 18:

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Ketiga, memiliki jiwa moderat saat melakukan sesuatu. Seorang pemuda masa kini selain ia beretika baik kepada orang lain, ia juga dituntut beretika baik dengan dirinya sendiri salah satunya dengan memiliki sikap moderat dalam hal apapun. Seseorang yang bersikap moderat mampu membaca dan memahami realitas yang ada dengan baik. Ia tidak gegabah atau ceroboh dan mempertimbangkan segala sesuatu baik atau buruknya. Dalam hal ini Luqman telah mengajarkan kepada anak-anaknya terlebih dahulu, sebagaimana dalam QS. Luqman ayat 19:

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).

Tiga nasihat ini jika benar-benar diamalkan, maka para pemuda akan menjadi tangguh, berkualitas dan berada di garda terdepan untuk mengembalikan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang akhir-akhir ini sedang sakit dilanda krisis akidah maupun krisis toleransi internal maupun eksternalnya.

 1,751 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini