Saya baru selesai membaca bagian-bagian penting buku “Kitab Pendekar Kopi” yang disunting Robert W. Thurston, Jonathan Morris, dan Shawn Steisman. Di sampul buku tertulis “Coffee: A Comprohensive Guide to the Bean, the Beverage, and the Industry.”

Saya menemukan buku itu di satu kafe di dekat IPB, Baranangsiang, Bogor Jawa Barat. Ketika pemerintah melonggarkan PSBB, saya dan keluarga, setiap Sabtu atau Minggu, berburu kafe unik di seputaran Bogor. Saya pernah menemukan kafe bertemakan sawah di kaki Gunung Bunder. Saya pernah juga menemukan kafe bertemakan hutan pinus yang penuh sesak sehingga saya dan keluarga batal ngopi di situ. Pernah pula saya menemukan kafe di pelosok dekat IPB Dramaga yang namanya mengingatkan pada film “Ronin” yang dibintangi Robert de Niro atau “47 Ronin” yang dibintangi Keanu Reeves.

Satu Sabtu di bulan Januari setelah “googling” saya mendapati satu kafe yang dilihat dari fotonya lumayan menarik. Letaknya di Bogor Tengah. Saya dan keluarga menyambanginya. Namun, aslinya tak seindah foto-fotonya. Kafe itu biasa saja, tidak seunik yang digambarkan di foto-foto di internet. Ilmu semiotika menyebutnya simulacra atau simulasi. Kami batal ngopi di sana.

Kami melanjutkan berburu dan sampai di kafe tempat saya menemukan buku “Kitab Pendekar Kopi.” Kafe itu garasi, carport dan taman depan sebuah rumah tua yang disulap jadi tempat ngopi. Kafe itu sederhana, tetapi nyaman, menenangkan jiwa.

Begitu masuk, pandangan saya tertumbuk pada tumpukan buku di satu rak di bagian tengah kafe. Saya dan keluarga memesan kopi dan minuman lain serta penganan. Setelah membayar saya menuju rak buku dan menemukan “Kitab Pendekar Kopi”. Saya membawa buku yang ketebalannya sekitar 700 halaman itu ke tempat duduk kami. Sambil menunggu pesanan datang, saya membolak-balik buku itu. Saya langsung jatuh hati dengan buku kumpulan tulisan tentang segala hal terkait kopi itu. Setiba di rumah, saya meminta anak saya membeli buku itu secara daring.

Saya pertama-tama membaca tentang sejarah kopi di Indonesia yang ditulis Jati Misnawi. Indonesia termasuk negara produsen kopi. Walikota Amsterdam, Nicolass Witsen, ialah orang yang mengawali budi daya kopi di Nusantara pada sekitar 1696.

Artikel yang juga menarik bagi saya berjudul “Kopi Sejarah Singkat” ditulis Jonathan Morris. Etiopia ternyata tanah kelahiran kopi. Kopi sebagai minuman ditemukan komunitas muslim di Tanah Arab. Kaum sufi ketika bertirakat senantiasa meminum qahwah, cikal bakal minuman kopi, yang disebut anggur Islam. Gubernur Makkah pada 1511 memaksa pemuka agama menyatakan qahwah haram karena memabukkan. Untungnya, otoritas Islam di Kairo menolak fatwa kopi haram.

Tak kalah menarik bagi saya cerita tentang kedai kopi dan kafe yang juga ditulis Jonathan Morris. Kedai kopi hanya menyajikan kopi. Kafe, selain kopi, menyediakan minuman lain bahkan minuman beralkohol. Kedai-kedai kopi pertama menyebar di Jazirah Arab di bawah jurisdiksi Utsmaniyah selama abad ke-16. Sosiolog Ray Oldenburg mendefinisikan kedai kopi sebagai ruang ketiga yang menjadi tempat individu-individu berkumpul secara rutin, sukarela, informal, dan direncanakan dengan gembira di luar ruang rumah dan kerja.

Tak saya lewatkan membaca sejumlah artikel tentang kopi dan kesehatan yang hingga kini menjadi bahan penelitian, juga perdebatan.

Buku “Kitab Pendekar Kopi” ini memuat 63 tulisan membahas berbagai tema hulu dan hilir kopi, negara konsumen dan produsen, ekonomi, sejarah, sosial budaya, gaya hidup, kesehatan, penyangraian, penyeduhan dan kebaristaan.