al-Zastrouw*

Muhasabah Kebangsaan
(Catatan Perjalanan Ki Ageng Ganjur ke Belanda #8)

Event “The 2nd Bienalle International Converence yang di selenggarakan oleh PCI NU Belanda beberapa waktu lalu mengingatkan penulis pada spirit perjuangan para pelajar dan mahasiswa Hindia Belanda di Eropa, khususnya yang ada di Belanda, pada awal abad 19. Para pelajar dan mahasiswa produk politik etis pada saat itu mulai menghimpun diri dalam sauatu wadah untuk membangun spirit nasionalisme memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bermula dari terbentuknya perkumpulan Indische Vereeniging (IV) pada tahun 1908 oleh Soetan Soripada dan R.M. Noto Soeroto yang bertujuan untuk dansa, pesta dan pidato yang kemudian bergeser menjadi organisasi politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pergeseran dimulai pada tahun 1913 saat IV dipimpin oleh Ciptomangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro). Pada era ini IV menerbitkan Bulletin Hindia Poetra sebagai sarana menuangkan gagasan.

Pada september 1922, sejalan dengan meningkatnya spirit kebangsaan para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda, mereka mengubah IV menjadi Indonesische Vereeniging. Bulletin Hindia Putra yang sempat vacum dihidupkan kembali dalam bentuk majalah dan dijadikan alat menyebarkan ide anti kolonial. Ini dibuktikan dengan dua tulisan Hatta dalam edisi pertama majalah tersebut yang menyoroti dan memberikan kritik tajam atas praktek sewa tanah oleh industri gula Belanda yang merugikan petani (TEMPO edisi khusus 2008)

Sebagai wujud terjadinya kristalisasi spirit nasionalisme, pada tahun 1924 majalah “Hindia Poetra” berubah nama menjadi “Indonesia Merdeka”. Kemudian pada tahun 1925 saat kepemimpinan Soekiman Wiryosanjoyo nama organisasi diubah menjadi “Perhimpunan Indonesia”. Selanjutnya pada tahun 1926 saat Hatta mejabat sebagai Ketua organisasi ini menjadi semakin aktif terlibat dalam pergerakan nasional melalui media massa (Deliar Noer, 2012; 21).

Mengingat sejarah pergerakan nasional para pelajar dan mahasiswa di Belanda, terbayang bagaimana spirit itu tercermin dalam diri para aktivis PCI NU Belanda yang mayoritas mahasiswa yang dengan segala keterbatasan mampu menyelenggarakan event yang dahsyat sebagai ekspresi semangat nasionalisme dengan cara menebarkan moderasi Islam sebagai karakteristik Islam bangsa Indonesia.

Jika pada era kolonial para pelajar dan mahasiswa mengekspresikan semangat nasionalismenya dengan cara membangun kesadaran merebut kemerdekaan, maka di era millenial ini para pelajar dan mahasiswa di Belanda mengekspresikan semangat kebangsaanya dengan membangun citra positif Indonesia di mata dunia Internasional. Karena penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, maka hal itu dilakukan dengan cara membangun citra positif Islam dan umat Islam Indonesia.

Selama ini ada citra negatif terhadap Islam di mata masyarakat Eropa dan Barat pada umumnya, karena ulah sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam dalam melakukan tindak kekerasan. Akibatnya Islam dianggap sebagai agama kekerasan, intoleran, radikal dan ekslusif. Stigma ini menjadi semakin kuat karena terkonfirmasi oleh perilaku beberapa migran muslim di Eropa yang cenderung bersikap eksklusif, radikal dan ofensif.

Dalam kondisi demikian, mahasiswa Indonesia melalui PCI NU Belanda mencoba mengubah citra negatif Islam dengan memberikan tafsir alternatif terhadap Islam yang lebih moderat, inklusif dan toleran sebagaimana tercermin dalam tema The 2nd Bienalle International Conference yaitu; Seeking the Middle Path (Wasatiyya) Articulations of Moderate Islam. Melalui tema ini para PCI NU Belanda ingin menunjukkan wajah lain Islam lewat berbagai kajian akademik dan penampilan seni budaya yang mencerminkan laku hidup toleran dan moderat umat Islam Indonesia.

Jika pada era pra-kemerdekaan para mahasiswa Indonesia di Belanda menggunakan kampus dan organisasi sebagai basis gerakan hal yg sama juga dilakukan oleh para mahasiswa yg tergabung dalam PCI NU saat ini. Jika pada zaman dulu mereka berjuang untuk merdeka, melepaskan diri dari belenggu penjajahan yg zalim dan melindas kemanusiaan, saat ini mereka berjuang melepaskan diri dari belenggu pemikiran Islam yang zalim dan menghancurkan kemanusiaan.

Saya melihat apa yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dan PCI NU Belanda ini merupakan upaya meretas peradaban Islam sebagai bentuk dari spirit nasionalisme. Melalui cara ini, Islam yang beradab dengan wajah yang sejuk akan bisa terlihat. Jika hal ini bisa terwujud atas peran mahasiswa Indonesia maka Indonesia akan nemiliki peran penting dalam membangun peradaban Islam dunia.

Saya merasa beruntung bisa menyaksikan dan diberi kesempatan berpartisipasi dalam event yang bersejarah ini. Selamat kepada seluruh sahabat panitia yang telah sukses menyelenggarakan event yang dahsyat ini. Mas kyai Ibnu Fikri, Kyai Hasyim, gus Latif Fauzi, gus Fachrizal Afandi, mbak Yus Broersma dan lain-lain.

Atas nama pribadi dan rombongan Ki Ageng Ganjur saya mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta, Dr. Ahmad Suaedy yang telah memberikan rekomendasi untuk kami, KBRI Den Haag yang telah membantu kami selama di Belanda. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Kyai Prof. Said Aqil Siradj, mas Sakti Tranggono, mas Marwan Jakfar, mas Ella Trikorano, mbak Fenty dan mas Dharma yang telah membantu keberangkatan kami. Semoga semua terbalas, manfaat dan berkah. (Habis)****

578 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini