Beni terbangun tengah malam dengan napas terengah-engah. Ia bermimpi. Bukan mimpi buruk sebetulnya. Tapi ia gugup dan takut luar biasa. Ia merasa telah bermimpi bertemu nabi! Dalam beberapa hari terakhir, mimpi itu tak sekali dua kali mendatanginya. Beni tak tahu apa makna dari mimpi itu.

Pagi itu, di warung kopi Paidi, Beni tampak murung. Puguh, kawannya, datang duduk mendekat.

“Belum sarapan, Ben? Kok lesu?”

“Nggak nafsu makan.”

“Lho, habis kalah judi ya?”

“Nggak. Semalam aku mimpi ketemu dia lagi.”

“Dia siapa?”

“Nabi.”

“Heh?! Mabuk kamu, Ben?”

“Mabuk gimana?”

“Masak orang kayak kamu mimpi ketemu nabi?”

“Itu dia, aku juga bigung.”

“Salah kali, Ben. Tukang mabuk mana mungkin mimpi ketemu Nabi. Lagipula dari mana kamu tahu itu nabi?”

“Aku jelas nggak pernah ketemu nabi, nggak tahu wajahnya seperti apa. Tapi aku yakin itu nabi.”

“Kok bisa yakin?”

“Pokoknya yakin.”

“Wah… gemblung!”

Puguh meninggalkan Beni dengan raut wajah kesal. Beni tak peduli. Tak ada gunanya juga bicara dengan Puguh, kawannya sesama sopir truk. Beni tetap yakin telah bertemu nabi dalam mimpi. Tapi untuk apa Nabi menemuinya?

Pertanyaan itu belum juga terjawab, Beni diserang mimpi aneh lagi. Ia bermimpi dari lemari baju kamarnya keluar seekor rusa besar. Rusa yang bisa bicara seperti manusia!

“Halo, Beni. Apa kabar?”

Begitu tahu ada rusa bisa bicara, Beni bersiap-siap lari. Tapi rusa itu terus saja menatap Beni dengan tatapan dingin. Rusa itu sebetulnya tidak tampak ingin menyerang atau mencelakakan siapapun. Beni mundur beberapa langkah, menjaga jarak.

“Ayo naik. Kita jalan-jalan keliling kota,” ajak rusa itu.

Beni ragu, sekaligus takut. Tubuh rusa itu memang tak terlalu besar, tapi terlihat liat dan tegap. Beni bertubuh kerempeng, namun ia tak yakin rusa itu kuat membawanya.

Seperti kena gendam, Beni menurut saja dengan perintah rusa itu. Beni naik rusa seperti orang-orang naik kuda. Spontan Beni berpegangan pada tanduk begitu rusa itu melesat kencang. Ia benar-benar melesat bagai terbang.

“Hei, pelan saja! Kau bisa membuatku celaka dengan kecepetan seperti ini,” teriak Beni.

“Tenang saja, aku sudah terlatih.”

“Rusa, bagaimana bisa kau keluar dari lemari bajuku?”

“Haha. Apa perlu aku menjawabnya? Jika kujawab, nanti kau akan bertanya lagi bagaimana bisa aku bicara seperti manusia.”

Beni dan rusa itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah.

“Nah, sekarang bakar rumah ini,” kata rusa itu.

“Apa?!”

“Bakar rumah ini!”

“Kenapa? Apa urusannya denganku?” Beni kebingungan.

“Di dalam rumah ini ada orang tua yang menyiksa anaknya setiap hari. Aku ingin menyudahi penderitaan anak itu dan kegilaan orang tuanya. Bakar!”

Beni kembali merasa seperti sedang dihipnotis. Kembali ia menuruti kata-kata rusa itu. Beni mencari minyak, kayu dan apapun yang mampu membakar rumah ini. Ia melihat bengkel kecil tak jauh dari rumah itu. Beni berlari ke bengkel. Ia congkel pintu kayu bengkel yang ringkih. Ia jarah oli, bensin dan apapun yang mudah terbakar. Api menyala tak lama kemudian. Teriakan panik dan jerit minta tolong terdengar pilu. Rusa itu segera mengajak Beni pergi.

Beni masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Gila! Benar-benar gila.

Rusa itu tiba-tiba berhenti di sebuah toko. Ada gelandangan tidur di emperan. Tampaknya seorang ibu dengan anaknya.

“Sekarang, bunuh anak kecil itu.”

“Tidak. Aku tak mau. Mereka cuma gelandangan. Tak ada gunanya membunuh seorang gelandangan.”

“Anak itu kelak akan jadi orang besar. Akan jadi gubernur, tapi dengan cara kotor. Namun, ketika ia jadi pemimpin ia justru sengsarakan rakyatnya.”

Lagi-lagi Beni tak mampu menguasai dirinya sendiri. Ia ambil batu ukuran besar dan seperti kesetanan Beni menyerang anak itu membabi buta. Tangis si anak tak dihiraukan. Batu terus dihantamkan. Darah meleleh dari kepala. Ibu si anak berteriak tak keruan.

“Bagus. Tugasmu sudah selesai. Kamu telah lulus ujian,” ujar rusa itu. Beni kebingungan.

Sebelum mimpi buruknya berlanjut, Beni berhasil terbangun. Raut mukanya penuh ketakutan. Segera ia tenggak air putih, menenangkan diri.

*

Beni berpikir keras apa makna dari mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia coba mengingat-ingat apakah ia punya dosa besar di masa lampau. Sehingga kini ia dihantui mimpi-mimpi yang tak jelas maksudnya.

Beni bukan tak pernah bermimpi. Sering ia bermimpi. Tapi bukan mimpi sengeri ini. Ia juga merasa tak punya masalah dengan siapapun akhir-akhir ini. Ia merasa semua baik-baik saja.

Beni teringat cerita nabi-nabi yang ia dengar di masa kecil dulu. Ia ingat ada satu nabi yang bermimpi diminta Tuhan untuk menyembelih anaknya. Tapi dengan penuh pasrah dan ikhlas ia melakukannya. Sebab perintah Tuhan pantang ditolak. Singkat cerita, anak sang nabi tidak jadi disembelih karena digantikan dengan kambing di detik-detik akhir.

Beni tahu, sangat tahu, ia tentu saja bukan nabi. Mimpinya jelas bukan suara Tuhan. Lalu bagaimana ia harus memaknai mimpi-mimpinya? Semakin dipikirkan rasanya Beni semakin tak menemukan jawaban. Semua jalan rasanya buntu. Semua pintu seperti tertutup.

Mengusir suntuk, Beni menonton televisi. Saat itu, televisi menayangkan program ceramah. Tampak seorang penceramah berdakwah dengan suara melengking. Seperti mendapat ilham, Beni kemudian berpikir: mungkin ini saatnya aku menjadi ustad! Penuh antusias, Beni bergegas pergi pasar. Hendak membeli jubah dan sorban.

“Aku ingin jadi ustad. Aku harus jadi ustad!” gumam Beni.

 

 

 

*Cerpenis dan dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta

 

 2,298 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini