“Jujur setelah menonton film ini, pemikiran kaku saya akan agama akhirnya bisa melunak”

Itulah pengakuan mahasiswa saya setelah menonton film PK, sebuah film keluaran tahun 2014 yang dibintangi Aamir Khan dan Anushka Sharma. Saya memang rutin memutar film itu di kelas saya, di awal perkuliahan. Saya kira PK adalah film yang mengandung nilai-nilai penting, yang menarik untuk didiskusikan. Lagipula, generasi Z tampaknya kurang meminati ceramah panjang seorang dosen di depan kelas. Maka, film adalah alternatif.

Usai menonton film, saya meminta mereka menuliskan kesan dan pendapatnya tentang film PK. Banyak yang menulis tentang pentingnya toleransi antar agama. Ada juga yang terkesan dengan kisah cinta Jaggu-Sharfaraz yang rumit, pelik, mendayu dan menguras air mata. Beberapa mahasiswa menangkap pentingnya tidak menghakimi orang hanya dari tampak luarnya saja. Serta kesan-kesan lain yang tak bisa saya rinci satu persatu.

Film PK memang bukan film India biasa. Isu yang diangkat film itu memang sedikit kontroversial dan sensitif: mempertanyakan agama. Sosok PK yang datang telanjang ke bumi sebagai “alien” memang terlalu banyak bertanya, termasuk bertanya perihal agama dan kepercayaan yang dianut penduduk bumi. Namun semua pertanyaan tersaji natural belaka, dan itulah menariknya film ini.

PK tampil polos saat membawa air kelapa ke dalam gereja. Juga saat menenteng botol wine ke masjid. Semua itu dalam rangka pencarian Tuhan. Karena digambarkan begitu alamiah, adegan-adegan itu dipandang sebagai sesuatu yang jenaka oleh penonton, meskipun sebetulnya menyimpan pesan mendalam. Begitu juga ketika PK mesti berhadapan dengan Tapaswi.

Secara umum, film PK ingin mengajak penontonnya untuk beragama secara rasional dan kritis. Kenapa? Agar tidak terjadi “salah sambung”, istilah yang ditemukan PK sesaat sebelum berdebat dengan Tapaswi. Menjadi pemeluk agama yang rasional dan kritis menjadikan seseorang kebal dari doktrin kelompok radikal. Kuncinya antara lain dengan mempertanyakan seagala sesuatu.

Misalnya ketika PK bertanya kepada Tapaswi: manusia yang melindungi Tuhan atau Tuhan yang melindungi manusia? Pertanyaan itu diajukan ketika Tapaswi ngotot mendaku diri sedang melindungi dan membela Tuhan. PK mematahkan kayakinan Tapaswi dengan argumen yang kuat dan logis. Melihat debat itu mungkin kita akan teringat Gus Dur yang pernah mengatakan Tuhan tak perlu dibela, karena Tuhan sudah maha segalanya.

Dengan menonton PK di kelas dan mendiskusikannya, mahasiswa dipantik untuk berpikiran terbuka. Ini akan memudahkan diskusi-diskusi berikutnya di kelas yang saya ampu. Alangkah tidak menyenangkan jika diskusi di kelas diisi dengan semangat paling benar sendiri. “Pokoknya harus begini” bukan rumus yang tepat untuk sebuah diskusi.

Pengakuan mahasiswa yang saya kutip di atas sejujurnya sangat melegakan. Bahwa belajar moderasi Islam bisa dimulai dari sebuah film India. Yang dulunya beragama secara kaku kini lebih lunak Kita tentu berharap lahirnya film-film semacam PK dari sineas Indonesia. Film-film yang membuka pikiran, yang menjadikan penontonnya kritis, peka dan peduli.

 1,154 total views,  4 views today